boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Sri Bintang Pamungkas, Kaum Pribumi dan Cina

Jejak sejarah keinginan Cina menguasai Nusantara sudah dimulai sejak masa Sriwijaya tahun 600an. Walaupun Cina dikalahkan dalam perang oleh Raja Kediri Kertanegara dan Raden Wijaya penguasa Singosari usaha penaklukan Nusantara oleh Cina terus berlanjut. Pada zaman penjajahan, Cina menjadi kolaborator Belanda.

Pada masa Suharto gerakan politik Cina diredam tetapi ekonomi mereka mencapai kemajuan yang luar biasa dengan lahirnya 200an konglomerat yang menguasai ekonomi Indoneisa. Puncaknya Pemilu 2014 terpilih Jokowi yang antek Cina menajadi RI-1. WA

Bagaimana kejadiannya sampai Cina menggusur Islam dan Pribumi. Baca penjelasan selengkapnya….

Meski usianya menjelang 70 tahun, Sri Bintang tetap Bintang. Kecerdasannya tampak tak berkurang ‘sedikitpun’ meski usianya sudah senja. Kata-katanya tetap tajam. Ia mampu bercerita tentang sejarah Indonesia lebih dari satu jam dengan lancar. “Saya masih mengajar dua kali seminggu (di UI). Tapi saya sudah pensiun.”katanya kepada Suara Islam yang menemuinya di rumahnya yang asri di Cibubur.

Laki-laki kelahiran 25 Juni 1945, di Tulungagung ini, ayahnya seorang hakim. Sejak kecil ia suka politik. Ia juga suka protes. Ketika kelas V SD kepalanya pernah dipukul oleh gurunya dengan tongkat rotan yang dililit karet, karena bajunya tidak dimasukkan ke dalam celana. Ia protes dan mengadu kepada kepala sekolah.

Setelah lulus SMA Negeri I, Surakarta, Bintang melanjutkan kuliahnya ke ITB. Ia mengambil jurusan Teknik Penerbangan. Ia lulus tahun 1971.
Keinginannya untuk meraih ilmu di luar negeri, menjadikannya mengambil S2 di University of Southern California, Amerika. Di sini ia mengambil jurusan Teknik Industri. Program doktornya diselesaikan di Iowa State University, dengan disertasi berjudul “Medium-Term Dynamic Simulation of the Indonesian Economy” (1984).

Ketika mahasiswa Bintang juga aktif di kegiatan mahasiswa. Di ITB, ia pernah menjadi Ketua Biro Pendidikan Himpunan Mahasiswa Mesin (1967). Setelah pulang dari Amerika, Bintang juga pernah menjadi Anggota Dewan pakar ICMI.

Sekitar tahun 1972, Bintang menjadi staf pengajar tetap di Fakultas Teknik UI sampai pensiun sekarang. Kini selain beberapa hari mengajar di UI, Bintang banyak meluangkan waktu di rumah. Berkebun, menulis dan diskusi adalah hobinya.

Dari hasil ketekunannya menulis, ia telah menerbitkan beberapa buku, diantaranya : Getaran Mekanis (1975, Metode Numerik (1989), Manajemen Industri (1990), Teknik Sistem (1992), dan Pokok-pokok Pikiran Sri-Bintang 3 jilid (1994). Kini ia juga sudah menyelesaikan bukunya ‘Ganti Rezim, Ganti Sistem’. Buku ini ia cetak sendiri dan sudah menyebar ratusan eksemplar.

Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat Jokowi saat ini?

Mafia Persaudaraan Cina Indonesia itu sudah merencanakan menguasai republik ini sudah lama. Beberapa kasus masa lalu bisa dilihat. Ketika masa Sriwijaya tahun 500-an, orang-orang Cina yang belajar agama Budha, mereka mendaapti Nusantara itu sebagai Tanah Harapan.
Artinya mereka menemukan Indonesia ini, lalu mereka berfikir, Nusantara ini sebagai tanah air. Lalu dimulailah dari daratan Cina, kaisar-kaisar mengirimkan ekspedisi dalam jumlah yang besar. Dan itu berlangsung terus berkali-kali.
Ketika Sriwijaya mulai runtuh, maka muncullah di Jawa Timur, kerajan-kerajan kecil seperti Kediri, lalu Singosari, sebelumnya ada Medang dan seterusnya. Mereka, kerajaan-kerajaan itu didatangi oleh orang-orang Cina, utusan-utusan kaisar di sana, untuk takluk dengan Cina. Itu sekitar tahun 1200-an.
Pernah Raja Kertanegara, didatangi oleh utusan Cina yang namanya Meng Chi. Kertangera marah dan Meng Chi itu dipotong telinganya dan disuruh pulang. Tapi kemudian ketika Mongol mengalahkan kerajaan-kerajaan Cina, muncullah Jengis Khan, Kubilai Khan, dan seterusnya.
Kubilai Khan pernah mengirim 20 ribu pasukan dengan angkatan lautdan tentara berkuda ke sini. Orang Nusantara menyebutnya pada waktu tentara Tartar. Maka muncullah yang namanya Raden Wijaya dari Singosari. Raden Wijaya menghancurkan tentara Tartar itu dengan perang gerilya.
Lalu Raden Wijaya menjadi menantunya Kertanegara dan akhirnya menjadi pendiri Majapahit dan sekaligus raja pertama Majapahit. Dimulailah saat itu era baru Kerajaan Majapahit.
Lalu ada Hayam Wuruk dan Gajah Mada muncul sebagai raja yang terkuat, yang (dikatakan sebagian ahli sejarah) wilayahnya sampai Pantai Timur Afrika dan Amerika Latin. Tentang Amerika Latin itu hubungannya sejak dengan Sriwijaya. Oleh karena itu relief-relief di Borobudur itu menunjukkan gambar orang Amerika Latin.

Setelah dihancurkan Raden Wijaya apakah orang-orang Cina kapok ke Indonesia?

Nafsu dari orang Cina, dari Utara tidak luntur untuk menguasai Nusantara. Mereka mulai masuk tanpa tentara, dalam jumlah besar bersamaan dengan runtuhnya Majapahit, bersamaan dengan masuknya Belanda dan Portugis. Islam itu masuk karena Majaphit sendiri dengan perdagangan lautnya mencapai Hadramaut dan Gujarat.
Hadramaut itu Yaman, dan Gujarat itu Pantai Barat India yang kemudian jadi Pakistan. Melalui itulah kemudian Islam masuk. Dan kita tahu bahwa kerajaan Majapahit itu kemudain menjadi kesultan-kesultanan Islam, dari Serambi Mekah sampai ke Ternate.
Papua itu di bawah kesultanan Ternate. Kesultanan-kesultanan itu ‘tidak merupakan satu imperium yang satu’, sehingga mudah dimasuki oleh infiltran-ilnfiltran asing termasuk Cina.
Cina ini merembes kayak air.Bahkan mereka mengklaim Islam datang dari Cina. Bahkan dari berbagai tulisan dibikin seolah-olah Walisongo itu sebagiannya adalah orang-orang Cina. Itu jelas- tidak betul. Kalau Islam betul datang dari Cina, maka Cina yang Islam itu mayoritas, ternyata kan nggak. Mayoritas malah Indonesia. Jadi itu palsu. Termasuk sunan-sunan dari Walisongo yang disebut Cina itu palsu.
Lalu ketika VOC masuk dan pemerintah Belanda menjajah Indonesia, orang-orang Cina itu menjadi perantara. Mereka menjadi pedagang-pedagang bahkan industriawan yang bagus dan punya ketrampilan yang bagus ddan unggul dibanding orang Jawa.
Bahkan orang jawa menganggap bahwa orang dagang itu rendah, yang tinggi itu adalah kebangsawanan dan pendidikan. Jadi karena itu sama Belanda mereka dijadikan -dengan pendatang yang lain seperti Arab dan India- dan diangkat menjadi warga negara kelas satu di bawah Belanda. Di bawah orang-orang bule. Pribumi itu dianggap paling rendah.
Maksud Belanda di situ untuk mencari teman. Sedang si Cina-Cina ini selain menganggap bahwa Nusantara adalah tanah harapan juga mereka mendendam sakit hatikarena ekspedisi-ekspedisi mereka, tentara-tentara Tartar tadi, selalu dikalahkan oleh kerajaan di Nusanrta. Nafsu mereka untuk menguasai Nusantara sangat besar.
Maka ketika perang kemerdekaan mereka bantu Belanda. Setelah perang kemerdekaan, mereka menolak Indonesia merdeka. Sekalipun beberapa diantara mereka ada yang mendukung Soekarno Hatta. Sebagian besar mereka menginginkan Belanda terus disini. Karena dengan Belanda di sini, mereka menjadi terlindung, karena mereka merasa minoritas.
Mereka ada yang jadi pasukannya,sewaktu Belanda atau Jepang (menjajah Indonesia). Orang-orang Cina itu yang kedudukanya lebib tinnggi dari pribumi boleh masuk ke sekolah-sekolah Belanda bahkan dikirim ke Belanda. Merekajuga ikut membuat perkumpulan yang mendukung Belanda. Zaman Jepang pun begitu. Sekalipun ada yang menjadi anggota BPUPKI, PPKI dan dan lain-lain.
Dalam sejarah, ada peristiwa yang namanya Kali Angke. Itu 10 ribu orang Cina dibantai Belanda karena mereka mempunyai kebiasaan yang buruk dan sudah ada peraturan mereka melanggarnya. Yaitu pelaranganmembuat pelacuran, perjudian dan minuman-minuman keras. Mereka memproduksi. Sehingga ketika mereka melakukan pelanggaran, sehingga gubernur Belanda bersama orang-orang Eropa lainnya, membantai mereka. Kali Angke menjadi merah darah.

Contoh pengkhianatan orang Cina ini dalam sejarah seperti apa?

Ketika perang Diponegoro, banyak orang Cina yang mengkhianati Diponegoro dan membantu Belanda. Dan karena itu juga terjadi pembunuhan besar terhadap orangorang Cina oleh orang-orang Diponegoro. Terutama di Ngawi, daerah perbatasan Jateng dan Jatim. Adipati di Madura juga banyak membunuh (orang Cina).
Artinyasifat-sifat Cina ini, menurut saya, menjadi karakter orang Cina dimata pribumi tidak berubah. Antara lain suka meniou, nyogok, sewenang-wenang, licik, dan memperkaya diri. Memang mereka terampil dalam binis. Tapi mereka menjadi besar karena nyogok. Dan banyak pejabat kita yang terkena sogokan itu. Termasuk raja-raja kita pada masa lalu.
Sebagai akibat dari sifat-sifat itu, mereka tidak pernah mau menyatu dnegan pribumi. Mereka membentuk kelompok sendiri, yang saya sebut sebagai segregasi. Itu terjadi sejak dimasa Bung Karno. Sehingga akhirnya Soeharto mengeluarkan surat keputusan pemerintah, mereka dilarang melakukan perdagangan di pedesaan.
Karena cara-cara mereka berdagang yang licik dan mencederai orang-orang pedesaan. Peraturan Pemerintah itu sebenarnya dikeluarkan sejak tahun 1959 (zaman Bung Karno), karena ada laporan bahwa orang-orang Cina itu mulai mendominasi perekonomian-perekonomian. Sampai sekarang PP itu nggak pernah dicopot.
Lalu pada tahun 1963, bulan Mei, terjadi peristiwa bentrok yang dimulai dari Cirebon sampai menjalar ke Jawa barat. Rumah-rumah dan toko-toko Cina dirusak dan dibakar oleh masyarakat.
Sifat congkak, merasa diri kelasnya lebih tinggi akibat dari sikap Belanda dulu, dan juga tidak bisa dilepaskan dari dendam mereka yang sampai tahun 1500 selalu dikalahkan. Itulah mereka.
Ada peristiwa yang menarik, tahun 63-64 menjelang 65. Ada seorang imigran Cina yang mengambil nama suryawijaya itu dengan alasan mengunjungi ibunya, ia menjadi warganegara Indonesia. Entah prosesnya seperti apa waktu itu. Ia ternyata tentara Cina. Ia memang dikirim darisana. Ia melakukan aktivitas pengiriman senjata dari Cina untuk membantu Barisan Tani Indonesia, yang kemudian ikut mendukung PKI.
Dan memang dikabarkan menjelang tahun 65 itu ada kapal yang ditangkap yang isinya penuh dengan senjata, mendarat di Pantai Utara Jawa. Itu kemungkinan juga bagian dari Suryawijaya. Itulah mengapa Pak Harto menganggap bahwa peristiwa PKI 30 September itu juga didalangi oleh RRC. Dan Suryawijaya ini mempunyai keturunan, sampai sekarang sudah cucu.
Bisnis senjata itu dilanjutkan oleh anak-anaknya,diantaranya Edward Suryawijaya. Mereka jadi supplier senjata bagi TNI dan Polri. B ahkan yang terakhir pesawat kepresidenan SBY, dari mereka. Lalu pesawat itu dijual lagi, mereka yang beli.

Bagaimana nasib kaum Cina dibawah Pak Harto?

Pak Harto punya alasan sendiri, Cina-Cina ini harus diredam. Alasan lain Lim Bian Koen (Sofjan Wanandi) dan Lim Bian Kie (Jusuf Wanandi), mendirikan CSIS bersama dengan Harry Tjan Silalahi. Harry Tjan bersama-sama Subhan ZE orang NU kharismatik, mereka membentuk Front Pancasila mendukung Pak Harto. Itu mulai tahun 1966.
Subhan ZE jadi Ketua, Harry Tjan jadi Sekjen. Tapi kemudian Subhan dan Harry Tjan bentrok. Karena Subhan berpandangan pimpinan tertinggi RI itu harus seorang sipil. Sedang Harry Tjan mengatakan bahwa kami orang-orang Cina perlu pelindung,persis sepeti Cina minta perlindungan Belanda. Menurut Harry Tjan, meski tentara itu otoriter, kami merasa lebih aman. Kemudian mereka mendirikan CSIS, di situ ada juga Ali Moertopo dan Sudjono Humardani.
CSIS Indonesia itu cabangnya CSIS di Amerika. Sejak awal CSIS, Harry Tjan sebetulnya orang CIA. Bahkan mereka, atas petunjuk CIA membantu Soeharto menjelang peristiwa G30S sampai akhirnya Soeharto dapat Surat Perintah 11 Maret, (termasuk dengan MI6 Inggris yang membantu).
Karena waktui itu MI6 menerbitkan surat tentang Dewan Jenderal yang menjadi alasan Untung melakukan kudeta 30 September 1965itu. Jadi sekalipun Harry Tjan belum ketemu Subhan, tapi keberadaannya usaha jejaringnya sama CIA.
Antara lain peristiwa Desember 1965, ada suatu rapat di Cipanas yang diselenggarakan oleh orang-orang Bung Karno untuk membubarkan atau menasionalisasi Caltex, ternyata pak Harto tiba-tiba muncul dan menolak nasionalisasi. Dari mana Pak Harto tahu kalau ada rapat di Cipanas? Dalam peristiwa G30S, Pak Harto ada dalam jejaring CIA untuk menjatuhkan Soekarno.
Ketika Pak Harto berkuasa,ia memutuskan orang-orang Cina dilarang berpolitik. Berbisnis dipersilakan. Pak Harto sadar atau tidak sadar situasi itu menyebabkan sosial ekonomi mereka mendominasi. Maka muncullah Bob Hasan, Liem Swie Liong dan munculnya 200 konglomerat Cina. Di situ saya melihat bahwa gerakan menguasai Nusantara atau Indonesia itu terus dan mencapai kemajuan, yang khususnya disetir oleh CSIS dan LIPPO di bawah Mochtar Riyadi dan James Riyadi.
Ketika Bill Clinton naik jadi presiden AS, masalah Timtim nggak pernah selesai. Kebetulan keluarga Clinton bersahabat dengan James Riyadi. James ikut bantu keuangan ketika Clinton kampanye presiden. Clinton ingin Timor Timur selesai.
MasalahTimtim nggak selesai-selesai, dan tiga Sekjen PBB, Xavier Peres Dequiar, Boutros Boutros Gali dan Kofi Annan lewat, masalah Timtim juga nggak selesai. Maka keputusan Clinton harus dijatuhkan. Soeharto harus jatuh, maka Clinton minta bantuan James Riyadi.
Pada waktu terjadi konferensi APEC di Bogor, tahun 1994, di Lippo Cikarang, Clinton berkunjung ke rumahnya James Riyadi. Dan disepakatilah upaya kejatuhan Soeharto. Kebetulan di tanah air terjadi gerakan-gerakan yang menentang Soeharto, khususnya dari pihak mahasiswa .
Jadi saya kira di samping ada gerakan mahasiswa, tidak sadar ada keuangan yang mengalir ke indonesia baik dari James Riyadi maupun dari Washington. Tahun 1997 terjadi krisis moneter yang menurut pendapat saya krisis moneter rekayasa. Ekonomi Indonesia itu kecil kalau direkayasa oleh negara besar kayak AS dibantu oleh CSIS, serta Mochtar dan James Riyadi, hasilnya menakjubkan.
Jadi krisis moneter menjadikan Indonesia kolaps, direkayasa masuknya IMF dan sekaligus menjadi penasehat untuk menangani krisis itu. Ini terjadi pada akhir pak Harto. Kemudian setelah itu ada pengucuran dana 210 trilyun agar Habibie turun, lalu naik Gus Dur.
Saya kira Timtim itu lepas karena rekayasa kelompok dari domestik dengan dukungan AS. Karena Habibie yang naik itu kan periodenya sampai dengan 2003, kenapa ia melakukan Pemilu 1999 yang menghasilkan kemenangan PDIP lalu pertanggungjawaban Habibie ke MPR ditolak saat itu? Itu rekayasa. Mayoritas rakyat kita nggak sadar, banyak nggak suka Habibie, menganggap ia tangan kanannya Soeharto, melepaskan Timtim dan tidak mau mengadili Soeharto. Termasuk penghancuran IPTN itu adalah rekayasa.

Kenapa Habibie harus dijatuhkan?

Untuk mempercepat terpilihnya presiden yang pro Amerika dan tentu saja pro Persaudaraan Mafia Cina Indonesia. Dipaksalah Gus Dur untuk mengucurkan Surat Tanda Utang (STU) 430 trilyun. Dilanjutkan Megawati, membantu bank-bank yang kolaps. Pemerintah seakan-akan bertanggung jawab kepada konglomerat-konglomerat itu. Karena pemerintah nggak punya uang, dikasih STU itu (kasus BLBI),untuk mengganti aset-aset mereka yang diambil pemerintah.
Tetapi ketika aset-aset itu dijual 430 trilyun itu diperkirakan total nilai aset- ternyata hanya terjual 15-20 trilyun. Artinya kita dibohongi konglomerat itu. Lebih gawatnya lagi Megawati keluarkan Inpres No. 8 tahun 2002. Cina-cina yang bohong ini yang sebetulnya berutang kepada negara,karena mereka nggak bisa bayar ke nasabah.
Keputusan Mega, mereka tidak akan ditangkap. Lalu STU itu untuk dipakai untuk mengucurkan bunganya kepada para konglomerat nilainya 60-70 trilyun pertahun.
Memang obligasi rekap itu dibuat untuk mencairkan bunganya itu. Karena 430 trilyun cash pemerintah nggak kuat bayar, kalau 60-70 trilyun per tahun pemerintah bisa. Ini dibayar mulai 2003 sampai hari ini. Lunasnya nggak jelas kapan, katanya sampai 2021.
STU itu sudah diperjualbelikan, termasuk kepada orang asing dan lembaga-lembaga asing. Indonesia membayar kepada lembaga-lembaga asing pemegang STU. Dan aset-aset yang murah itu, 15-20 trilyun dibeli lagi sama pemiliknya. Menteri keuangan AS sendiri, di zaman George Bush mengatakan bahwa aset-aset di bank-bank Indonesia itu aset sampah yang dibeli dengan harga tinggi. Tapi sama SBY ini dbiarkan. Kebijakan Megawati itu dilanjutkan SBY, koceknya lari ke SBY juga.
Zaman Gus Dur juga terjadi rekayasa. Satu, MPR dimandulkan. Tidak ada penguasa tertinggi selain presiden. Kedua, pasal 33 UUD 45 diubah. Akibatnya Indonesia menjadi liberalis dan kapitalis. Yang berlaku ekonomi pasar. Siapa yang kuat dialah yang menang.
Istilahnya, free fight liberalism. Yang ketiga, presiden tidak harus asli Indonesia (cukup warga negara). Setelah itu berhasil, target mereka 2014 harus muncul persiden Cina. Itu setelah kekayaan mereka (terkumpul) 60-70 triltyun sampai 12 kali dari 2003. Nilainya hampir 1000 trilyun. Sudah cukup rekaysa untuk memenangkan pemilu dan pilpres.

Berarti mereka (kaum Cina) sekarang ini berhasil?

Ya sekarang ini mereka berhasil. Selama 2014 itu ratusan triyun mereka keluarkan. Akhirnya mereka menemukan Jokowi. Christianto Wibisono pernah kasih SMS, ia mengatakan Soekarno itu shionya kerbau, tapi Soekarno mengatakan bahwa shionya bukan kerbau tapi banteng. SBY shionya kerbau juga, Jokowi shionya kerbau juga. Bahkan kemudian ia menambahkan smsnya: Lihat (nanti) Jokowi jadi presiden 2014. Kira-kira sms itu disebarkan Januari 2014 kemarin.

Benarkah Jokowi keturunan Cina?

Benar, jokowi keturunan Cina. Wi, Widodo itu selalu menjadi namanya. Ada Wijoyo, Winardi, Cina Wi. Bapaknya sekarang ini bapak tiri. Kalau ibunya benar Sujiatmi. Kalau mau membuktikan periksalah DNA bapaknya, periksalah DNA-nya Jokowi. Apa benar anaknya? Saya yakin nggak benar. Komunitas Cina sendiri mengakui bahwa ia itu Cina. Ada yang menyebut bapaknya namanya Oey Hong Liong.
Sedang beredar di media sosial, Jokowi punya adik kandung asli Cina di RRC yang bernama Wi Yo Fang. Saya bisa menambahkan ketika dia pertamakali jadi walikota, ada seorang Cina asal Semarang yang ingin bertemu sama Jokowi tetapi nggak berhasil, sehingga dia ngoceh dimuat di Solo Pos.
Ia mengatakan bahwa ia adiknya Jokowi. Ini Cina beneran. Artinya bapaknya Jokowi yang Cina itu, mungkin sudah menikah dengan Cina lain. Bapak tirinya ini (sekarang sudah meninggal), sama ibunya Jokowi menghasilkan anak tiga perempuan, yang menjadi adik tiri Jokowi sekarang ini.
Termasuk sejak dulu PDIP itu kan dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi Cina, Komunis, dan non Muslim. Ini satu peristiwa dulu. Yaitu ketika Pater Beek masuk ke CSIS. Dia mengadakan namanya kaderisasi sebulan (kasebul). Dan Sofjan Wanandi, CSIS itu menggusur pribumi dan menggusur Islam.
Pada waktu bersamaan di dunia muncuk kelompok Nasrani baru. Namanya Kristen Kharismatik. Masuk Indonesia lewat Timtim tahun 1975, menyebar ke Surabaya, sampai ke seluruh Indonesia. Kristen merasa takut muncul Kristen kharismatik ini. Khawatir kayak munculnya Potestan, sehingga sama Vatikan dikasih tempat.
Akhirnya menjadi banyak orang Katolik yang berpindah (ke Kristen kharismatik). Ini yang menjadi kuat mereka. Mereka menggunakan sepersepuluhan. Artinya sepersepuluh pendapatan untuk Kristen kharismatik. Surabaya, Malang berkembang. Ciputra masuk ke situ, Ahok masuk ke situ.
Ketika PDIP mengadakan kongres di Semarang kemarin, tempatnya Holy Stadium, yang katanya gereja terbesar di Indonesia, atau Asia Tenggara. Memang tempatnya di dekat Marina, sehingga sama Kompas diplesetkan menggunakan gedung Marina. Sebenarnya PDIP menggunakan gedung itu. Pimpinannya, Pendeta Petrus Agung Purnama.
Bahkan Gerindra sempat terkecoh, ia membikin sayap Cina dan Kristen. Dikiranya bisa menjaring Cina dan Kristen. Ternyata mereka memilih Jokowi.

Anda mengatakan Pilpres rekayasa. Bagaimana merekayasanya kan sulit?

Saya kira pilpres itu hasil rekayasa. Selama kotak suara berjalan dari TPS, lalu ke kecamatan, kemudian ke tempat lain sampai KPU,(dimungkinkan rekayasa) termasuk e-KTP. E-KTP itu, yang saya barusan ikuti beritanya, Direktur Astra Graphia, Karyawan Anang Sudiarjo itu diangkat menjadi ‘server e-KTP’. Nama cinanya Yo Ie Peng.
Nama ini sebenarnya sudah masuk ke KPK, tapi kok nggak ditindaklanjuti. Ini salah satu server dugaan saya. Selain ini ada lagi di tempat lain dugaan saya. E-KTP ini dijual kepada calon-calon imigran yang masuk ke Indonesia. Mereka nggak bisa berbahasa Indonesia, dijual dengan 5juta orang. Mereka bisa nyoblos. Berapa yang sudah terjual? Nggak tahu kita. Atau mungkin dicobloskan orang lain.
Saya menganggap pemilu 2014 itu pemilu yang paling kotor. Selain rekayasa tadi, juga calon-calon legilslatif bayar. Baik bayar kepada partai maupun bayar kepada pemilik suara. Contoh disebuah dapil, ada yang bayar 100 juta per masjid. Menang dia.
Artinya yang lain-lain juga begitu. Kita tahu bahwa mereka tidak dikenal, namanyamuncul dipohon-pohon, di tembok-tembok kok bisa jadi wakil rakyat. Juga disebut-sebut Jusuf kalla bayar, jokowi bayar juga. Bagaimana, mereka kan bukan kader PDIP bisa jadi calon? Nggak mungkin, pasti bayar.
Pencalonan Jokowi kan terjadinya setelah pertemuan Lenteng Agung. Setelah 70 sampai 100 pengusaha Cina bertemu Megawati. Kedua, Jokowi terlibat korupsi. Soal bantuan pendidikan, dulu ada Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS), dimana ada manipulasi jumlah siswa 65ribu ditulisnya 100ribu. Lalu pikiran-pikiran ini dibawa terus sampai ke jakarta. Jadilah kartu sakti. Trikartu sakti.
Dimana KPK hanya mengatakan bahwa ada penyalahgunaan wewenang karena tidak memiliki tender. Menurut konsutan yang ikut menggarap BPMKS, manipulasi serupa dipakai di Jakarta. Termasuk Transjakarta. Kan itu jelas-jelas bahwa tidak mungkin yang namanya Udar melakukan kebijakan itu tanpa perintah dari gubernur.
Dan ternyata bus-bus itu ‘brodol’ semua. Tapi dengan kekuatan Persaudaraan Mafia Cina Indonesia semua hilang (masalahnya). Juga taman BMW jakarta, itu juga jatuhnya ke tangan Cina juga. Dan ganti ruginya itu menuai korupsi.
Terus yang terakhir tidak pernah terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya, adalah Cina-Cina itu begitu begitu antusiasnya pilih Jokowi (sama Ahok).

Jokowi kemarin melakukan pertemuan APEC, G-20 dan ASEAN, bagaimana menurut Anda?

Di pertemuan APEC, disitu Jokowi menjelaskan, tapi sekaligus juga secara sadar dia membuka koridor bagi masuknya armada laut internasional ke Indonesia.
Disini ada yang dikenal dengan namanya ALKI (Alur laut Kepulauan Indonesia). Ketika indonesia disahkan mejjadi negara kepulauan, maka indonesia wajib menentukan Alur laut Kepulauan Indonesia, bagi keluar masuknya kapal-kapal asing.
Sudah ditetapkan yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Timor. Ini konon Amerika dan Australia selalu mendesak ini, keluarkan lagi ALKI. ALKI yang baru inilah yang sengaja dibuka oleh Jokowi tanpa konsultasi dengan KSAL, panglima TNI dan DPR/MPR.

Kenapa begitu?

Ketika pengumuman KPU ada kemungkinan ditolak sama MK, di samping berbagai macam (tuduhan) pidana yang dilakukan Jokowi, mereka gusar. Akhirnya Megawati berangkat ke AS, juga JK yang didukung oleh Sofjan Wanandi. Dipertemukanlah mereka dengan para pimipinan dunia di sana. Antara lain ada Obama, Hillary Clinton, David Cameron, dan Xi Jinping. Intinya minta tolong agar Jokowi dimenangkan.
Dari AS dikirimpula yang namanya senator John Mc Cay. John ketemu dengan pimpinan MPR dan Pramono Anung, tanpa satupun dari mereka yang menyampaikan kepada masyarakat isi pertemuan itu. Padahal setiap pertemuan dengan pejabat tinggi harusnya disampaikan isinya.
Permintaan bantuan Megawti dan JK ke mereka bukannya tanpa upeti. Salah satu upetinya adalah ALKI itu. Kunjungan mreka awal Agustus 2014 lalu, sebelum 17 Agustus, sebelum pengumuman MK.
Sebelum September 2014 di Australia beredar kabar, 18-19 Agustus ada konferensi di sana tentang Timtim. Konferensi International Force for East Timor. Yaitu tentara internasional untuk Timtim. Itu dibentuk paska referendum tahun 1998.
Salah satu pimpinan dari konferensi itu namanya Damien Kingsburry mengatakan : “Saya sudah mendapatkan proposal referendum Papua yang dibuat oleh Mr Jokowi”. Dalam fikiran saya itulah dua hal yang dijanjikan. Kesatu adalah kemerdekaan papua, kedua, ALKI.
Dugaan saya lewat jalur Utara Timur. Masuk dari Filipina, masuk ke Manado, ke Halmahera, dan Laut Timur Sulawesi. Ikannya banyak dan itu berbahaya bagi kedaulatan Indonesia. Angkatan laut Jepang menghancurkan Belanda dari situ. Kita nggak punya angkatan laut (yang kuat).Juga pertemuan antara Menteri Susi Pudjiastuti dengan Dubes AS yang lalu. Susi minta bantuan angkatan laut AS untuk mencegah illegal fishing.
Jadi selain memperkenalkan diri, presiden Jokowi juga menjual Indonesia kepada asing. Sama seoerti SBY. SBY juga menjual Indonesia. Soeharto dulu tahun 1967, dgn Hamengkubuwono, Widjojo Nitisastro (Mafia Berkeley) di Jenewa Swiss, bertemu dengan pimpinan-pimpinan MNC (Multinational Corporation).
Antara lain dari Freeport dan di situ diputuskan indonesia bisa dapat bantuan, dengan dibentuknya IGGI. Kelompok-kelompok negara donor untuk Indonesia. Sebagai upeti atau korbannya adalah kekayaan alam Indonesia. Mereka meminta agar diterbitkan UU Penanaman Modal Asing nomor 1 tahun 1967.
Lucunya UU itu antara lain dibikin Mohammad Sadeli, ditandantangani 10 Januari 1967 dan yang menandatangani Bung Karno. Bung Karno dipaksa Pak Harto untuk menandatangani itu, untuk menghukum Bung Karno. Karena Bung Karno pernah menyatakan neraka untuk bantuan-bantuan asing.

Ada yang mengatakan investasi asing kan perlu?

Ya perlu, tapi nggak perlu dikorbankan. Seperti investasi tanah dijual 95 tahun. Sekarang yang namanya Jawa itu 80 persen dikuasai Cina. Jakarta hampir 100 persen dikuasai. Juga pulau-pulau.
Kekayaan alam kita dikuasai Cina. Minyak dikuasai asing. Hutan kita juga dikuasai mereka, yang semuanya bertentangan dengan pasal 33 UUD 45. Pertamina sudah bukan BUMN lagi, tinggal namanya doang. Listrik kita sudah beli dari asing. Dijual digadaikan.
Cinaisasi sudah berlangsung: Jokowi, Ahok, Tjahjo Kumolo dan Setya Novanto, terindikasi Cina. Dan ini sudah merupakan gerakan dan konspirasi yang dimulai sejak zamannya Sriwijaya.
Sekarang kelompoknya Wijaya di Bandung yang mempopulerkan produk-produk Cina. Ada namanya Cucu Wijaya, salah satu pimpinan dari Universitas Maranatha. Dia lulusan ITB, jurusan Seni Rupa. Kemarin dia membawa rombongan ITB itu ke Cina.
Promosi produk-produk Cina dengan harga Cina yang tidak ada struktur biayanya. Kalau produk di dunia kan ada struktur biayanya. Kalau di Cina nggak ada. Bisa menjual seenaknya, industri-industri Indonesia bisa habis.
Belum lagi soal kesepakatan Asean. Dimana antara lain insinyur-insinyur Indonesia harus punya sertifikat asing (Asean), yang nggak punya sertififat Asean dianggap tidak mampu, dan ahli-ahli Asean bisa menggantikan mereka.
Sementara dari Soeharto sampai sekarang tidak pernah ada upaya untuk memajukan ahli-ahli kita. Indonesia benar-benar terjual, alam, air dan udaranya. Juga sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya. (Nuim Hidayat) (vi)


Leave a comment

Cuplikan Dialog Rachmawati…


(RM):Kenapa Anda ngotot untuk kembali ke UUD 1945?

 

(RS):Di dalam proses amandemen banyak pelanggaran-pelang­garan dari tahun 1999-2002. Pertama, tidak melalui proses referendum. Pendapat rakyat harus ditanyakan dulu.

Kedua, amandemen itu hanya berupa risalah rapat anggota MPR, tidak dicatatkan di dalam lembaran berita negara.

Ketiga, bahan atau draf yang sudah ada disiapkan oleh kon­sultan asing, NDI, dari AS, National Democrat Institute, Jimmy Carter.

Keempat, memanipulasi pena­maan dengan istilah UUD 1945, padahal isinya sudah berubah sama sekali. Jadi orang terjebak dengan kosakata UUD 1945.

Perubahan yang dilakukan empat kali itu sudah cukup memberikan arti bahwa UU kita sudah bukan UUD 1945.

Sebetulnya, kalau di dalam ketentuan, perubahan tidak perlu dengan amandemen, tapi dengan istilahnya adendum. Amandemen kelima, memberi­kan kewenangan kepada MPR untuk membuat GBHN. Itu membuka peluang amandemen-amandemen berikutnya.

(rm/19/12/2016)


1 Comment

Neokolonialisme dan Dampaknya bagi Negara-Negara Berkembang (neocolonialism and the deplovement states)

“I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world”

Soekarno

Bung Karno dahulu sudah memperingatkan akan bahaya neokolonialisme*, terutama bagi bangsa Indonesia. Bentuk penjajahan baru ini berbeda dengan yang dialami Bung Karno, penjajahan fisik atau senjata, tapi melalui kekuatan ekonomi kapitalis dengan jalan menundukkan elit bangsa yang lemah nasionalismenya. (Selamatkan Indonesia, 2008) Hal yang diingatkan bapak Proklamator itu ternyata betul terjadi, setelah ia tak lagi berkuasa.

Pada periode paska Bung Karno negara Indonesia masuk ke dalam pangkuan kapitalis barat dengan memberikan pinjaman uang dan sekaligus mengeksploitasi sumber alamnya, mulai dai emas, tembaga, batu bara, minya, gas, kayu, dan sebagainya. Hampir semua kekayaan alam negara ini dikuasai korporat asing, yakni datanya menurut Guru Besar UGM Yogyakarta sekitar 80%. Jika diuangkan dan dihitung jumalahnya tentu mampu untuk membangun bangsa ini lebih maju, yakni mencerdaskan  dan menyejahterkanr rakyatnya. Namun, itu semua hanya mungkin dan mimpi, sebab kenyataannya kekayaan alam Indonesia dirampok untuk membangun kemegahan dan kesejahteraan negara-negara barat dan industri. Bahkan saat ini ada indikasi bukan hanya barat yang masuk tapi juga blok timur (China).

Zaman kolonialisme Belanda, Inggris dan Jepang tenaga rakyat Indonesia dieksploitasi untuk menanam berbagai tanaman untuk diekspor ke luar negeri dan yang meneikmati hasilnya para penjajah sendiri. Bangsa ini hanya dijadikan kuli. Kini, kekayaan bangsa ini dikuras habis dan rakyat tak mendapatka apa-apa, hanya kesusahan dan kemiskinan.

Tentu orang yang waras dan sadar akan selalu bertanya, mengapa bangsa indonesia yang kaya akan sumber alam rakyatnya miskin? Logiskah hal itu terjadi? Sudah cukup banyak buku yang mencoba memberikan jawaban secara analitis dengan data yang akurat, namun jika pucuk pimpinan negeri ini belum tergerak untuk menghapus semua kebocoran maka tetap saja nasib rakyat Indonesia tak akan beranjak berubah. (Mafia Berkeley dan Neoliberalisme)

Seperti juga di negara-negara berkembang lainnya. Banyak negara yang disebut sebagai berkembang dimiskinkan secara sistematis dengan dikuras dan dirampok kekayaan alamnya oleh korporat dunia dari negara-negara besar, sehingga terjadi ketimpangan ekonomi. Di dunia bagian utara sangat kaya dan makmur namun di dunia bagian selatan miskin. Ketidakadilan ini akan terus berlangsung jika tak ada perlawanan.

Perbedaan itu sangat jelas. Contoh Amerika. Masyarakatnya sangat konsumtif  ditambah binatang peliharaan mereka. Setiap tahun mereka membuang bahan yang dibutuhkan di dunia lain, baik matrial maupun makanan. Banyak orang kegemukan (obesitas). Sementara di dunia lain kekurangan gizi dan kelaparan. Masih juga mereka menyerobot kekayaan alam di negara-negara lain, dengan dalih ini itu. Oleh karena hidup yang boros mereka menjadi serakah.

Nasib bangsa ini akan berubah bergantung siapa yang menjadi pucuk pimpinan. Ia ibarat nahkoda sebuah kapal yang membawa nasib para awaknya. Seperti juga beberapa negara berkembang lainnya masuk ke dalam kekuasaan barat. Namun, mereka yang sadar berusaha melepaskan diri dari cengkraman itu, beberapa negara Latin di selatan.

Ternyata reformasi 1998 sampai kini belum membawa perubahan yang berarti (substansial). Arah perjalanan bangsa ini masih jauh dari mimpi  founding fathers (para bapak bangsa), yang tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila, yakni keadilan dan kesejahteraan.

Jika yang tampil para pemimpin atau elit bermental budak negara tidak akan maju dan menyejahterakan rakyatnya, sebab kekayaan alam dikuasai para kapitalis asing dan rakyat hanya dijadikan budak atau istilah lainnya buruh! Elit-elit bermental seperti itu, biarpun bergelar doktor, ada ketakutan ketika mengambil keputusan yang pro rakyat! Rakyat harus melawan kebijakan yang melanggar konstitusi negara ini!!

Nusantara, 17-1-2015

anak bangsa

Catatan

*Neokolonialisme adalah praktik Kapitalisme, Globalisasi, dan pasukan kultural untuk mengontrol sebuah negara (biasanya jajahan Eropa terdahulu di Afrika atau Asia) sebagai pengganti dari kontrol politik atau militer secara langsung. (sumber Wk yang dicetuskan oleh Bung Karno)


Leave a comment

Jika Para Intelektual Indonesia Bergabung, Membangun Negeri…

Hasil gambar untuk kaum intelektual

Seorang intelektual bukan saja ia yang memiliki kecerdasan akademis namun juga kecerdasan dari hati nurani, tak hanya emosional tapi lebih ke spiritual. Bisa saja seseorang secara akademis hebat, tapi karena tidak memiliki kecerdasan hati nurani maka bisa saja ia menjadi pengkhianat, pada kebenaran!

Negeri ini, yang disebut Indonesia, pada awal masa kemerdekaan memiliki banyak kaum intelektual. Mereka berpikir bagaimana memerdekakan bangsa ini. Dengan meraih kemerdekaan maka akan terlahir sebuah negara dengan bangsa dan bahasanya, yang kemudian disebut Indonesia. Yang berawal dari sebuah imaginasi.

Imaginasi seorang intelektual tidak bertolak dari ruang hampa, namun dari fakta, bahwa bangsa yang bersuku-suku ini harus merdeka, dan apa yang akan membuat mereka bersatu. Saat itulah mereka berpikir untuk menciptakan sesuatu yang dapat mengikat secara nasional, bahasa, bangsa dan tanah air. Dari letupan pikiran itu maka tercetuslah, apa yang kemudian disebut “Sumpah Pemuda”.

Peristiwa itu terjadi tahun 1928 jauh sebelum negeri ini terbentuk (1945/ 1949). Peristiwa itu lalu diberi makna dan sebagai tanda untuk menyatukan kebinekaan suku bangsa dan bahasa untuk menyatukan ke dalam satu tujuan bersama, keindonesiaan!

Itulah kerja kaum intelktual. Namun, intelektual pengkhianat justru bukan menyatukan yang berbeda, tapi bagaimana memanfaatkan perbedaan itu untuk dipelihara dan mengambil peluang manfaat pribadi! Mereka melacurkan ilmunya untuk kekuasaan dan bangsa penjajah (asing)! Pengkhianatan itu dampaknya sangat besar, negara terancam hancur dari dalam.

Juga mereka yang berdiam diri dan tak berbuat apa-apa melihat kedzaliman, ketidakadilan dan kejahatan korporasi, sama saja dengan kejahatan itu sendiri! Siapa lagi yang akan membela rakyat negeri ini jika bukan mereka?!

Jika kaum intelektual negeri ini, yang tersebar, bergabung menyatukan kekuatan, maka apa yang akan terjadi?! Betapa dahsyatnya kekuatan itu untuk Indonesia ke depan!

Hasil gambar untuk intelektual membela  rakyat

Indonesia, 29-10-2014

Sumber:

Golongan Cendikiawan, Ed. M. Tsyarif.

-dll.


Leave a comment

Catatan Para Pengkhianat Bangsa

Siapakah para pengkhianat bangsa Indonesia? Untuk menjawabnya tentu kita sebagai bangsa harus memiliki garis batas. Garis itu telah ditorehkan oleh Bung Karno dengan pernyataan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan bahwa negera ini adalah negara berdaulat, seperti isi dalam teks kemerdekaan itu. Para pengkhianat itu adalah mereka yang merampas kekuasaan dengan tidak sah dari Sukarno. Dialah Suharto dan para budaknya (para jenderal). (Asvi, Membongkar Manipulasi Sejarah, 2010). Suharto ketika berkuasa bukan saja merekrut para jenderal tapi didukung juga banyak kelompok, di antaranya para ekonom, yang disebut ‘Mafia Berkeley’ (kebanyakan dari Universitas Indonesia) yang pro-barat (ekonomi liberal), dan disokong CSIS (centrsl for strategis and international studies) yang juga banyak pejabat Orde baru.

Jika kita runut lagi ke belakang di zaman penjajahan barat maka akan terlihat dan kita paham siapa sejatinya para pengkhianat bangsa yang tidak berjuang untuk membebaskan bangsa ini dari kekuasaan kolonial barat? Mereka hanya menikmati dan mengejar materi dan bergabung dengan siapa yang dapat menguntungkan. Mereka bisa individu, kelompok atau juga dalam bentuk yang lain. Yang mereka kejar adalah materi dan kekuasaan (oportunisme), apapun caranya.

Di zaman setelah kemerdekaan, terutama Orde Baru hingga sekarang.

Mereka menggadaikan kekayaan alam negera Indonesia kepada kapitalis asing di Jenewa. Perusahaan2 asing itu di antaranya, Freeport, Exxon, Newmont, Chevron dll dari  AS, Inggris, Belanda, Kanada, Australia, Jepang dll. Yang sebelumnya mereka memberi pinjaman dana lalu mengeruk kekayaan alamnya, minimal 30 tahun dan ditambah kontrak baru. Bukankah ini sikap para pejabat dan ilmuwan dungu dan sekaligus pengkhianatan yang harus dikutuk?! Sampai saat ini kebijakan yang dungu itu tetap dipertahankan dan tidak mau diubah dan belajar kepada negara-negara yang menasionalisaikan perusahan-perusahaan asing yang merugikan negara, seperti negara-negara Latin di Selatan.

Kebijakan itu adalah memiskinkan rakyat secara sistematis!!

Negara ini masuk dalam perangkap neokolonialisme dalam pusaran rekayasa global, termasuk di dalamnya yang berperan adalah ekonomi neoliberalisme. Noeliberalisme dapat beroperasi sebab mereka telah ‘mendidik’ para budaknya dari kaum pribumi sendiri. Keterikatan antara tuan dan hambanya pribumi terjalin karena mereka telah diberi ‘makan siang’ (tidak ada makan siang gratis bukan?). (Baca Selamatkan Indonesia, 2008)

tentara menjaga Freeport

Satu contoh Freeport. Mereka merampok emas, perak dan tembaga di Papua. Yang aneh lagi adalah perampokan itu dijaga para tentara (TNI) dan polisi (Polri) dan para direkturnya banyak orang pribumi dan sementara penduduk setempat diperangi. Dan lebih aneh lagi kita tidak tahu berapa emas yang dibawa para perampok itu dan kepala pemerintah diam saja, padahal ia jenderal! Bagaimana kita  mencerna hal itu?

Mengapa negara yang kaya akan sumber alam ini rakyatnya miskin? Di Aceh, Riau, Papua, Kalimantan dan tempat-tempat lain, juga warga di perbatasan. Sebab, selama ini banyak pengkhianat, mulai dari penguasa, para jenderal, sampai sarjana-sarjana. Mereka mau dibayar serupiah untuk menjual negara dan memiskinkan rakyatnya.

Sungguh itu adalah suatu kebodohan yang nyata! Yang bodoh bukan otaknya, tapi hati nuraninya! Sebab banyak dari mereka bergelar doktor lulusan dari barat, yang telah mendapat bea siswa. Ingatlah adagium, ” Tak ada makan siang gratis (There’s no such thing as a free lunch)!”

rakyat memunguti sisa-sisa

Sampai kapanpun jika para pejabat tak memiliki keberanian bertindak dan belajar kepada Bung Karno maka tetap saja negara ini tak akan mandiri dan sejahtera!!

Indonesia, 28-8-2014