boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Sekolah Pembuatan Sepatu; Jeffry Antono

Hasil gambar untuk sepatu pakalolo

Lembaga pendidikan milik Jeffry Antono ini beralamat di jalan Taman Daan Mogot VI No 7, Jakarta Barat.

Jeffry Antono belajar ilmu perancangan dan pembuatan sepatu di Instituto Tecnico, Milan, Italia, dengan gelar BSc. (Bachelor of Science, Modelista Stylista).

Banyak perusahaan sepatu ternama yang pernah belajar kepada Jeffry Antono, sebut saja: Apple Green, Pakalolo, Yongki Komaladi, Andre, Valentino, Homypad, Sophie Martin, Ifa, Piero, dll.

Biaya Paket Pelatihan:

  1. man/ ladys sport basic class, selama 60 jam: Rp. 12 juta
  2. lady basic class, 40 jam: rp. 10 juta
  3. lady moccasin, 50 jam: rp. 15 juta
  4. lady boot, 50 jam: rp. 13.5 juta
  5. lady professional, 75 jam: 18 juta
  6. man basic class, 40 jam: rp. 11 juta
  7. man advance class, 45 jam: rp. 12 juta
  8. man moccasin, 50 jam: rp. 13,5 juta
  9. man boot, 50 jam: rp. 15 juta

(Catatan: Jadwal waktu belajar bisa disesuaikan).

Advertisements


Leave a comment

Bobbi Deporter tentang Ujian Nasional

Ujian Nasional menjadi bahasan yang amat seru akhir-akhir ini di Indonesia. Apa pandangan Anda mengenai ujian semacam ini?

Kita (di AS) juga punya ujian nasional selama beberapa tahun ini, namanya program No Child Left Behind. Sama seperti di sini, menimbulkan banyak kontroversi, karena guru pada akhirnya hanya menekankan pada subyek yang diujikan, pada materi ujiannya itu sendiri, tapi sering kali mengabaikan prosespembelajarannya. Dan, mereka hanya mengajar agar siswanya lulus tes.

Kemudian sekolah diranking berdasarkan hasil ujian nasionalnya. Padahal sekolah kondisinya sangat beragam, ada sekolah di mana bahasa Inggris sebenarnya bahasa kedua bagi siswanya, sekolah yang banyak siswa yang tidak dalam pengawasan orang tua dan sebagainya. Sekolah-sekolah ini diharapkan memiliki standar yang serupa dengan sekolah-sekolah nasional lainnya.

Saya percaya akuntabilitas tes tersebut, tapi mengapa kita tidak bekerja untuk tes yang lebih berarti daripada sekedar manipulasi. Di mana guru mengajar hanya untuk lolos tes. Di mana siswa didrill berminggu-minggu untuk menghadapi tes. Fokus dan tujuan akhirnya adalah untuk lulus tes.

Menurut saya seandainya mereka tidak terlalu fokus di situ, ujian tetap bis apunya akuntabilitas, tapi harusnya system pendidikan lebih fokus pada proses pembelajaran itu sendiri. Dan nantinya toh murid akan bias mengerjakan ujian, bahkan dengan pemahaman yang lebih baik.

( Republika bertanya kepada Bobbi D.)