boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

haluan partai itu telah berubah

Hasil gambar untuk kartun banteng menyeruduk rakyat

Partai yang mendeklarasikan diri sebagai partai wong cilik dan selama ini partai itu mengklaim dirinya sebagai partai rakyat kecil ternyata hanya sebatas slogan, sebab ia kini telah menjelma menjadi partai yang mengusung penguasa pro kapitalis asing dan aseng.

Tapi itulah politik, yang bisa berubah sesuai dengan kepentingan. Yang kata orang dalam partai “tak ada musuh abadi tapi yang ada adalah kepentingan abadi.”

Walaupun dalam politik selalu dinamis namun selayaknya berkaca pada sejarah bangsa ini, bagaimana para pendahulu membuat partai dan mengembangkannya? Berbagai pemikiran mereka direkam para sejarawan politik. Saat itu Bung Karno, Hatta, Agus Salim, dll menjadikan partai sebagai alat perjuangan untuk membebaskan bangsa ini dari  penjajahan. Cengkraman penjajahan oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Jepang, Sekutu dan sejenisnya membuat bangsa ini tidak mandiri dan hanya dijadikan budak.

Apakah partai-partai setelah masa panjang itu hanya untuk mengejar kekuasaan semata tanpa tujuan untuk membebaskan bangsa ini dari penindasan kaum penjajah baru (kapitalis)? Memang ada sebagian yang masih mengikuti idealisme para pendahulu bangsa ini, namun sebagiannya ide para pendahulu itu hanya dijadikan pajangan.

Ide para penduhulu yang hanya dijadikan pajangan oleh partai tentu terbaca oleh rakyat. Rakyat yang telah belajar akan memlilih partai secara rasional, yang membela kepentingan mereka untuk keadilan dan kesejahteraan.

Bukankah selama bangsa ini merdeka rakyat selama itu pula  terabaikan..??!

Nusantara, 22 September 2016

suara warga


Leave a comment

Mega, Jokowi dan Asing…

https://i2.wp.com/thumbnews-e48.kxcdn.com/picture/watermark/20150218_063027/063027_72087_Jokowi_ric_dl.jpg
Dikatakan Bachtiar Nasir, bahwa Jokowi yang sekarang dielu-elukan itu, sejatinya hanya membuat musibah, bagi rakyat Indonesia, bukan membuat kehidupan menjadi lebih tenang. Tetapi, kalangan masyarakat banyak yang menjadi korban media, yang memang sudah disetting membuat berpikirnya kalangan masyarakat, berubah dan terbalik. Mereka percaya bahwa Jokowi itu, manusia suci, dan sangat ‘mumpuni’, dan akan membebaskan Indonesia dari berbagai belitan masalah. Bangsa Indonesia berulangkali menjadi korban dari  opini media, yang menggiring dan mengarahkan mereka. Seperti, ketika sesudah Soeharto lengser, media mengangkat Megawati sebagai ‘ratu’ piningit, dan akan menyelamatkan Indonesia dari krisis. Sehingga, ketika berlangsung pemilu l999, PDIP menang, dan kemudian Mega menjadi presiden. Semua itu, tak terlepas dari peranan  opini yang dibuat media massa yang ada. Karena media massa di Indonesia berada di tangan konglomerat Cina dan Zionis. Lebih dari 12 media massa, seperti telivis, surat kabar, majalah, dan radio, sebagian besar di tangan konglomerat Cina. Tetapi, sesudah Mega berkuasa, tak dapat melakukan apa-apa, dan malah menjerumuskan Indonesia, menjadi subordinasi asing. Asset negara yang sangat strategis dijual, seperti Indosat kepada Singapura. Mega memberikan ampunan kepada obligor konglomerat Cina yang sudah ngemplang dan maling dana bailout BLBI Rp,650 triliun. Di era Mega lahir UU Anti Teroris, dan sampai sekarang UU itu, digunakan oleh aparat keamanan khususnya Densus 88, mengejar para aktivis Islam, yang sudah diberi lebel sebagai ‘teroris’, dan banyak diantara mereka yang tewas, akibat tembakan oleh Densus 88. Sekalipun kasusnya tidak pernah dibuktikan secara hukum. Semua itu, berlangsung di era Megawati. Jokowi dengan dukungan konglomerat Cina yang merupakan kelompok minoritas di Indonesia berusaha mengangkangi kekuasaan, dan menggunakan kalangan ‘Muslim’ abangan yang dapat dijadikan ‘boneka’ guna merengkuh kekuasaan di Indonesia. Jokowi bukan hanya meninggalkan pejabat kafir, seperti sekarang di Solo, di mana walikota Solo dipegang oleh seorang katolik. Di DKI Jakarta, sekarang Jokowi melenggang, dan dicalonkan oleh Mega, menjadi calon presiden. Jika terpilih,maka otomatis Ahok akan menjadi gubernur. Tidak terbayangkan bagaimana jika gubernur DKI dipegang Ahok. Mega dengan keputusan mengangkat Jokowi itu, seperti memasang ‘bom waktu’ bagi Indonesia. Karena, dibelakang Jokowi sarat dengan kepentingan kelompok konglomerat Cina, Kristen, dan ditambah dengan Syi’ah. Semua itu akan menciptakan konflik horisontal bagi masa depan Indonsia. (vi) Sejarah akan membuktikan apa yang terjadi nanti, apakah Indonesia akan membaik dengan kedaulatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat atau semakin hancur?!