boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


1 Comment

Neokolonialisme dan Dampaknya bagi Negara-Negara Berkembang (neocolonialism and the deplovement states)

“I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world”

Soekarno

Bung Karno dahulu sudah memperingatkan akan bahaya neokolonialisme*, terutama bagi bangsa Indonesia. Bentuk penjajahan baru ini berbeda dengan yang dialami Bung Karno, penjajahan fisik atau senjata, tapi melalui kekuatan ekonomi kapitalis dengan jalan menundukkan elit bangsa yang lemah nasionalismenya. (Selamatkan Indonesia, 2008) Hal yang diingatkan bapak Proklamator itu ternyata betul terjadi, setelah ia tak lagi berkuasa.

Pada periode paska Bung Karno negara Indonesia masuk ke dalam pangkuan kapitalis barat dengan memberikan pinjaman uang dan sekaligus mengeksploitasi sumber alamnya, mulai dai emas, tembaga, batu bara, minya, gas, kayu, dan sebagainya. Hampir semua kekayaan alam negara ini dikuasai korporat asing, yakni datanya menurut Guru Besar UGM Yogyakarta sekitar 80%. Jika diuangkan dan dihitung jumalahnya tentu mampu untuk membangun bangsa ini lebih maju, yakni mencerdaskan  dan menyejahterkanr rakyatnya. Namun, itu semua hanya mungkin dan mimpi, sebab kenyataannya kekayaan alam Indonesia dirampok untuk membangun kemegahan dan kesejahteraan negara-negara barat dan industri. Bahkan saat ini ada indikasi bukan hanya barat yang masuk tapi juga blok timur (China).

Zaman kolonialisme Belanda, Inggris dan Jepang tenaga rakyat Indonesia dieksploitasi untuk menanam berbagai tanaman untuk diekspor ke luar negeri dan yang meneikmati hasilnya para penjajah sendiri. Bangsa ini hanya dijadikan kuli. Kini, kekayaan bangsa ini dikuras habis dan rakyat tak mendapatka apa-apa, hanya kesusahan dan kemiskinan.

Tentu orang yang waras dan sadar akan selalu bertanya, mengapa bangsa indonesia yang kaya akan sumber alam rakyatnya miskin? Logiskah hal itu terjadi? Sudah cukup banyak buku yang mencoba memberikan jawaban secara analitis dengan data yang akurat, namun jika pucuk pimpinan negeri ini belum tergerak untuk menghapus semua kebocoran maka tetap saja nasib rakyat Indonesia tak akan beranjak berubah. (Mafia Berkeley dan Neoliberalisme)

Seperti juga di negara-negara berkembang lainnya. Banyak negara yang disebut sebagai berkembang dimiskinkan secara sistematis dengan dikuras dan dirampok kekayaan alamnya oleh korporat dunia dari negara-negara besar, sehingga terjadi ketimpangan ekonomi. Di dunia bagian utara sangat kaya dan makmur namun di dunia bagian selatan miskin. Ketidakadilan ini akan terus berlangsung jika tak ada perlawanan.

Perbedaan itu sangat jelas. Contoh Amerika. Masyarakatnya sangat konsumtif  ditambah binatang peliharaan mereka. Setiap tahun mereka membuang bahan yang dibutuhkan di dunia lain, baik matrial maupun makanan. Banyak orang kegemukan (obesitas). Sementara di dunia lain kekurangan gizi dan kelaparan. Masih juga mereka menyerobot kekayaan alam di negara-negara lain, dengan dalih yang dibuat-buat. Oleh karena hidup yang boros mereka menjadi serakah.

Tentu neokolonialisme bukanlah perbuatan individual tapi adalah kejahatan negara atas negara lain, yang para elitnya telah ditundukan. Sebab para elitnya telah menjadi pengekor, berjiwa budak dan kerdil.

Nasib bangsa ini akan berubah bergantung siapa yang menjadi pucuk pimpinan. Ia ibarat nahkoda sebuah kapal yang membawa nasib para awaknya. Seperti juga beberapa negara berkembang lainnya masuk ke dalam kekuasaan barat. Namun, mereka yang sadar berusaha melepaskan diri dari cengkraman itu, beberapa negara Latin di selatan.

Ternyata reformasi 1998 sampai kini belum membawa perubahan yang berarti (substansial). Arah perjalanan bangsa ini masih jauh dari mimpi  founding fathers (para bapak bangsa), yang tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila, yakni keadilan dan kesejahteraan.

Jika yang tampil para pemimpin atau elit bermental budak negara tidak akan maju dan menyejahterakan rakyatnya, sebab kekayaan alam dikuasai para kapitalis asing dan rakyat hanya dijadikan budak atau istilah lainnya buruh! Elit-elit bermental seperti itu, biarpun bergelar doktor, ada ketakutan ketika mengambil keputusan yang pro rakyat! Rakyat harus melawan kebijakan yang melanggar konstitusi negara ini!!

Nusantara, 17-1-2015

anak bangsa

Catatan

*Neokolonialisme adalah praktik Kapitalisme, Globalisasi, dan pasukan kultural untuk mengontrol sebuah negara (biasanya jajahan Eropa terdahulu di Afrika atau Asia) sebagai pengganti dari kontrol politik atau militer secara langsung. (sumber Wk yang dicetuskan oleh Bung Karno)
Advertisements


Leave a comment

Jika Para Intelektual Indonesia Bergabung, Membangun Negeri…

Hasil gambar untuk kaum intelektual

Seorang intelektual bukan saja ia yang memiliki kecerdasan akademis namun juga kecerdasan dari hati nurani, tak hanya emosional tapi lebih ke spiritual. Bisa saja seseorang secara akademis hebat, tapi karena tidak memiliki kecerdasan hati nurani maka bisa saja ia menjadi pengkhianat, pada kebenaran!

Negeri ini, yang disebut Indonesia, pada awal masa kemerdekaan memiliki banyak kaum intelektual. Mereka berpikir bagaimana memerdekakan bangsa ini. Dengan meraih kemerdekaan maka akan terlahir sebuah negara dengan bangsa dan bahasanya, yang kemudian disebut Indonesia. Yang berawal dari sebuah imaginasi.

Imaginasi seorang intelektual tidak bertolak dari ruang hampa, namun dari fakta, bahwa bangsa yang bersuku-suku ini harus merdeka, dan apa yang akan membuat mereka bersatu. Saat itulah mereka berpikir untuk menciptakan sesuatu yang dapat mengikat secara nasional, bahasa, bangsa dan tanah air. Dari letupan pikiran itu maka tercetuslah, apa yang kemudian disebut “Sumpah Pemuda”.

Peristiwa itu terjadi tahun 1928 jauh sebelum negeri ini terbentuk (1945/ 1949). Peristiwa itu lalu diberi makna dan sebagai tanda untuk menyatukan kebinekaan suku bangsa dan bahasa untuk menyatukan ke dalam satu tujuan bersama, keindonesiaan!

Itulah kerja kaum intelktual. Namun, intelektual pengkhianat justru bukan menyatukan yang berbeda, tapi bagaimana memanfaatkan perbedaan itu untuk dipelihara dan mengambil peluang manfaat pribadi! Mereka melacurkan ilmunya untuk kekuasaan dan bangsa penjajah (asing)! Pengkhianatan itu dampaknya sangat besar, negara terancam hancur dari dalam.

Juga mereka yang berdiam diri dan tak berbuat apa-apa melihat kedzaliman, ketidakadilan dan kejahatan korporasi, sama saja dengan kejahatan itu sendiri! Siapa lagi yang akan membela rakyat negeri ini jika bukan mereka?!

Jika kaum intelektual negeri ini, yang tersebar, bergabung menyatukan kekuatan, maka apa yang akan terjadi?! Betapa dahsyatnya kekuatan itu untuk Indonesia ke depan!

Hasil gambar untuk intelektual membela  rakyat

Indonesia, 29-10-2014

Sumber:

Golongan Cendikiawan, Ed. M. Tsyarif.

-dll.


Leave a comment

Catatan Para Pengkhianat Bangsa

Siapakah para pengkhianat bangsa Indonesia? Untuk menjawabnya tentu kita sebagai bangsa harus memiliki garis batas. Garis itu telah ditorehkan oleh Bung Karno dengan pernyataan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan bahwa negera ini adalah negara berdaulat, seperti isi dalam teks kemerdekaan itu. Para pengkhianat itu adalah mereka yang merampas kekuasaan dengan tidak sah dari Sukarno. Dialah Suharto dan para budaknya (para jenderal). (Asvi, Membongkar Manipulasi Sejarah, 2010). Suharto ketika berkuasa bukan saja merekrut para jenderal tapi didukung juga banyak kelompok, di antaranya para ekonom, yang disebut ‘Mafia Berkeley’ (kebanyakan dari Universitas Indonesia) yang pro-barat (ekonomi liberal), dan disokong CSIS (centrsl for strategis and international studies) yang juga banyak pejabat Orde baru.

Jika kita runut lagi ke belakang di zaman penjajahan barat maka akan terlihat dan kita paham siapa sejatinya para pengkhianat bangsa yang tidak berjuang untuk membebaskan bangsa ini dari kekuasaan kolonial barat? Mereka hanya menikmati dan mengejar materi dan bergabung dengan siapa yang dapat menguntungkan. Mereka bisa individu, kelompok atau juga dalam bentuk yang lain. Yang mereka kejar adalah materi dan kekuasaan (oportunisme), apapun caranya.

Di zaman setelah kemerdekaan, terutama Orde Baru hingga sekarang.

Mereka menggadaikan kekayaan alam negera Indonesia kepada kapitalis asing di Jenewa. Perusahaan2 asing itu di antaranya, Freeport, Exxon, Newmont, Chevron dll dari  AS, Inggris, Belanda, Kanada, Australia, Jepang dll. Yang sebelumnya mereka memberi pinjaman dana lalu mengeruk kekayaan alamnya, minimal 30 tahun dan ditambah kontrak baru. Bukankah ini sikap para pejabat dan ilmuwan dungu dan sekaligus pengkhianatan yang harus dikutuk?! Sampai saat ini kebijakan yang dungu itu tetap dipertahankan dan tidak mau diubah dan belajar kepada negara-negara yang menasionalisaikan perusahan-perusahaan asing yang merugikan negara, seperti negara-negara Latin di Selatan.

Kebijakan itu adalah memiskinkan rakyat secara sistematis!!

Negara ini masuk dalam perangkap neokolonialisme dalam pusaran rekayasa global, termasuk di dalamnya yang berperan adalah ekonomi neoliberalisme. Noeliberalisme dapat beroperasi sebab mereka telah ‘mendidik’ para budaknya dari kaum pribumi sendiri. Keterikatan antara tuan dan hambanya pribumi terjalin karena mereka telah diberi ‘makan siang’ (tidak ada makan siang gratis bukan?). (Baca Selamatkan Indonesia, 2008)

tentara menjaga Freeport

Satu contoh Freeport. Mereka merampok emas, perak dan tembaga di Papua. Yang aneh lagi adalah perampokan itu dijaga para tentara (TNI) dan polisi (Polri) dan para direkturnya banyak orang pribumi dan sementara penduduk setempat diperangi. Dan lebih aneh lagi kita tidak tahu berapa emas yang dibawa para perampok itu dan kepala pemerintah diam saja, padahal ia jenderal! Bagaimana kita  mencerna hal itu?

Mengapa negara yang kaya akan sumber alam ini rakyatnya miskin? Di Aceh, Riau, Papua, Kalimantan dan tempat-tempat lain, juga warga di perbatasan. Sebab, selama ini banyak pengkhianat, mulai dari penguasa, para jenderal, sampai sarjana-sarjana. Mereka mau dibayar serupiah untuk menjual negara dan memiskinkan rakyatnya.

Sungguh itu adalah suatu kebodohan yang nyata! Yang bodoh bukan otaknya, tapi hati nuraninya! Sebab banyak dari mereka bergelar doktor lulusan dari barat, yang telah mendapat bea siswa. Ingatlah adagium, ” Tak ada makan siang gratis (There’s no such thing as a free lunch)!”

rakyat memunguti sisa-sisa

Sampai kapanpun jika para pejabat tak memiliki keberanian bertindak dan belajar kepada Bung Karno maka tetap saja negara ini tak akan mandiri dan sejahtera!!

Indonesia, 28-8-2014