boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


2 Comments

Apa Makna Kunjungan Jokowi ke Amerika? (He Goes to Amerika With Smoke)

Apa makna kunjungan Joko Widodo ke Amerika? Mungkin agenda sudah ada walau sampai kini publik Indonesia belum mengetahui rincian rencana yang akan dan telah dibicarakan.

Rakyat Indonesia berharap kunjungan itu memiliki maka penting bagi Indonesia, terutama perbaikan ekonomi, transfortasi, teknologi dan sebagainya.

Tapi agaknya rakyat sangsi. Sebab, hubungan Indonesia dan Amerika bukanlah hubungan yang setara dan berkeadilan. Hubungan dua negara itu, setelah Bung Karno tiada, berubah menjadi hubungan yang tak seimbang, Amerika menjadi tuan dan Indonesia menjadi budak yang diperas baik tenaganya dan lebih-lebih kekayaan alamnya.

Rakyat sudah tahu apa yang dirampok Amerika cs dari Indonesia! Tinggal pemimpin mengkonsolidasi kekuatan rakyat untuk mendukung kebijakan yang pro kesejahteraan rakyat, maka ia memiliki modal! Tapi jika tidak, semuanya hanya hiasan di media.

Sebenarnya kunjungan itu akan bermakna dan memiliki nilai jika posisi Indonesia setara dalam makna yang sesungguhnya. Indonesia memiki daya tawar dalam percaturan global, sebab telah memiliki kekuatan ekonomi, politik dan teknologi.

Tapi jika kekuatan itu semua tak ada, negara Indonesia hanya akan menjadi sapi perah bahan-bahan tambang dan kekayaan alam lainnya dan tenaga murah (buruh) yang dieksploitasi pabrik sepatu bermerek! (lihat video John Filger tentang Indonesia)

Apa makna penting kunjungan itu? Rakyat tak peduli. Sekedar jalan-jalan untuk bertemu sang idola? …

Nusantara, 30-10-2015

anak bangsa


Leave a comment

Dagelan Demokrasi Pilpres 2014


Terbukti Pernyataan Dari Relawan Jokowi Kecurangan Massal Sistematis Dan Brutal Pilpres Kubu No.2 Di Tahun 2014 

Metrotvnews.com, Jakarta: Analis politik Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menilai, kecurangan yang terjadi pada Pilpres 2014 lebih masif dan terstrukur.

“Pilpres kali ini paling brutal,” kata Boni di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (16/7/2014). Menurut Boni, brutalnya kecurangan pemilu dimulai dari tingkat bawah, seperti tempat pemugnutan suara dan penyelenggara pemilu di tingkat kelurahan.

Sedasngkan Pilpres sebelumnya dilakukan secara sistematis tetapi pergerakannya senyap. Sebab, permainannya waktu Pilpres 2009 pada data-data yang sudah diakumulasi oleh Komisi Pemilihan Umum.

“Tapi kali ini permaiannya itu dimulai dari tingkat bawah. Seperti memunculkan pemilih siluman dan metode ini pernah ditemukan di tahun 2006 di Pilkada Depok, Jawa Barat, untuk mencoblos secara tertentu,” tutupnya. (lal)

Ini yg bilang relawan jokowi lho, dan diliput serta diberitakan oleh media pro jokowi Metro TVboni hargens mulai buka suara ttg kecurangan pilpres yg dilakukan timses jokowi

Jika Sumber Link Metrotv.com Nya  Sudah Tidak Dapat Di Akses Lagi Berarti Sama Mereka DiHapus Ketakutan Belangnya :v :v

Waspadalah Terhadap Orang2 Yang Curang !


Leave a comment

Kongsi Moerdani (CSIS), Agum dan Megawati

Saya pernah menempuh pendidikan di sekolah milik Cosmas Batubara, tokoh eksponen’66 yang menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri Sofyan Wanandi (Jakarta Post).

Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani mengungkap rencana menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial anti Tionghoa dan Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316).
Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah melakukan retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD retreat selama lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip asrama daripada tempat retreat.
Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat tua dan berdesain khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di sana saya sudah merasakan aura  yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari lokasi retreat lain seperti Maria Bunda Karmel di puncak.
Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan melatih mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan selama retreat kami dipaksa bangun jam 4 pagi ppadahal baru tidur rata-rata jam 11 malam, ada puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada beberapa kegiatan yang tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat bau bumbu masakan atau bunga yang disimpan dalam beberapa botol kecil selanjutnya mata ditutup dan setiap anak akan disodori botol-botol tadi dan diminta menebak bau/wangi apa.
Puluhan tahun kemudian saya membaca bahwa pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi Sebulan (Kasebul) milik Pater Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang memiliki tiga blok, 72 ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama Kasebul dengan tempat retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu.
Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang luar biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat saat di Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud Richard Tanter bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut pada akhirnya akan menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater Beek secara personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia melakukan apapun bagi Pater Beek sekalipun  kader tersebut sudah pulang ke habitat asalnya.
Apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuatan Katolik dan Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin Kasebul masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab  Suryasmoro Ispandrihari mengaku kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan diajarkan untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan, peserta Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan Sofyan Wanandi di CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas karakter Ultra Kanan untuk melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan Pater Beek, tapi tetap saja mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan harus diproses secara hukum.
Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto bisa dianggap dimulai pada tanggal 8 Juni 1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan pertemuan tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema “MENDORONG TERCIPTANYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI DAERAH-DAERAH” yang dihadiri antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal, tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny Moerdani.
Tidak berapa lama kemudian, operasi Benny Moerdani untuk meradikalisasi rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit melawan Presiden Soeharto dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. Soerjadi, orang yang pada tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar dan akhirnya menjadi Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico Daryanto dari CSIS dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi yaitu Gemala Grup dan akhirnya menjadi Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan Presiden Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai oleh Sofyan Wanandi.
Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati Soekarnoputri pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan Intelijen ABRI waktu itu yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke Hotel Presiden sambil ditodong pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih Megawati akan berhadapan dengan saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum Gumelar adalah salah satu anak didik yang setia kepada Benny Moerdani dan bersama Hendropriyono menerima perintah untuk seumur hidup menjaga Megawati Soekarnoputri.
Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor PDI oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang berorasi di depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny Moerdani bahwa penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga berakibat matinya ratusan pendukung Megawati dan menelan korban harta dan jiwa dari rakyat sekitar. Pada hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik yang didirikan oleh Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin mendeklarasikan perubahan nama menjadi Partai
Rakyat Demokratik yang mengambil tempat di YLBHI, dan selanjutnya pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada Agustus 1997 PRD deklarasikan perlawanan bersenjata.
Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain: berbagai gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian, Showroom Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess KOWAD, Bus Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar massa. Sepanjang Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank Harapan Sentosa dan tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll.
Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar 510, Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah jam berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur berantakan. Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding retak, salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut keterangan Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu pelaku yang tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi belepotan darah dan luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua lainnya berhasil kabur. Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10 bom yang siap diledakan, obeng, stang, kabel, botol berisi belerang, dokumen notulen rapat, paspor dan KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket, buku tabungan, detonator, amunisi, laptop berisi email dan lain sebagainya. Dari dokumen tersebut ditemukan fakta bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, Megawati terlibat dalam sebuah konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di Indonesia demi gulingkan Presiden Soeharto.
Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny Moerdani (dibatalkan), Surya Paloh (metro tv) dan kakak beradik Wanandi dengan hasil:
1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak ketika ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis berita mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut.
2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD ketika menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya pada tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di Simprug yang diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo, Zen Maulani dan seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian tanggal 28 Januari 1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat membuat aparat berang dan murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan Februari 1998.
Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani tersebut, dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah” padahal negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan segera melakukan demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto melakukan intervensi dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu CSIS? Karena dia adalah orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno sempat digadang-gadang oleh CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto karena CSIS tidak menyukai BJ Habibie dengan ICMI dan CIDESnya.
Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri.
Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti Soeharto tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana terutama kepada aktivis “kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5 miliar.
Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi dan CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi Idris pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode kerusuhan akan meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani dengan diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu massa yang menunggangi demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal Soemitro.
Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari 1976 adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh mahasiswa UI atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan mana kemudian membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy, Jakarta-By-Pass, 11 mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur atau terbakar, 187 motor hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios di Pasar Senen dibakar habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali Moertopo dan CSISnya.
Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah:
1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think);
2. Identitas massa perusuh (tank); dan
3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh?
Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo, dalang Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga sudah dapat dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran almarhum Soedjono Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS dan Ali Moertopo.
Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria Diani, Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak lain sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain dengan menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dengan menulis bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada awal Mei 1998 antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana konon Adi Sasono menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan penguasaan jalur distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan Tionghoa.
Ad. 2. Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam sejarah kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus Malari, CSIS membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek untuk tujuan menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus penyerbuan ke Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk bekerja sama dengan orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste menjadi kisruh yang kemudian menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan buruh bongkar muat dari daerah Pasar Induk Kramat Jati, 200 orang yang terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain sebagainya.
Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi yang menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut Kwik Kian Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak dalam usaha panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan kredit macet milik kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap Aberson Marle Sihaloho dan Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP. Adapun kredit macet dimaksud adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 92miliar yang dibayar melalui mekanisme cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau baru lunas 184 tahun kemudian, dan tanpa bunga.
Ad. 3. Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara tersebut bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban materi dan jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei disengaja atau tidak?
Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar Makarim memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi akan terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa kerusuhan masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung jawab BIA. Jadi siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang berperilaku aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada tanggal 14 Mei 1998 dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU, KSAL ke Malang untuk mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30 di mana sekembalinya ke Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat.
Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak usul jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei 1998 malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan Kasum Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya dengan alasan sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo untuk mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang dengan cara tidak mau memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi KSAL Arief Kusharyadi sampai harus berinisiatif mendatangkan marinir dari Surabaya karena tidak ada marinir di markas mereka di Cilandak KKO dan atas jasanya ini, Wiranto mencopot Arief Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan mereda.
Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia adalah orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto bekerja sama dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi terhadap 100 perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti dengan perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.”
Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi mengenai terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa termasuk marah karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama kerusuhan. Tidak berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF dan berumur 17 tahun mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan di leher sedangkan sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong tidak diketahui dan dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan semakin menguat sebab beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya membuat rencana akan memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai temuan mereka terkait korban Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
(AM Panjaitan)
Jadi Kenapa Kecurangan dalam pemilu TNI/POLRI hanya diam saja, Bukankah mereka punya bukti kuat bahwa prabowo mendapat 54% suara lebih unggul dari pada jokowi…lantas siapakah yang ada dalam pimpinan TNI / POLRI sekarang…Barisan hijau kah atau Barisan Merah kah…?
Jika Anda Pintar Pasti Tidak Cukup Sekali Membaca Artikel FAKTA Ini…!!
Waspadalah – Waspadalah !!
Terhadap para mafia-mafioso, political dan militaries…
PESAN PRESIDENT RI 1 SOEKARNO : 
” Di jamanku melawan penjajah itu lebih mudah sebab melawan bangsa asing
Namun di jaman kalian esok melawan penjajah itu lebih sulit karna musuhnya anak bangsa sendiri “
Selamatkan Indonesia….!!
(sumber kopas, gebraknews)


Leave a comment

Media Popaganda Asing

Kompas Pembela Kasus BLBI dan Jokowi Ahok, Ada Apa?

Jaringan media Komando Pembela Aseng (Kompas) dan katolik ini paling terdepan menghasut publik untuk membenci Prabowo Subianto dan jutaan pendukungnya. Apa saja menyangkut Prabowo dan Koalisi Merah Putih (KMP), diplintir dalam aneka berita yang penuh fitnah dan menyesatkan.

Melalui moto: “Khianat Hati Nurani Rakyat” Kompas melenggang bebas menipu pembacanya. Tapi belakangan kedok busuk itu mulai terbongkar. Publik tersadar bahwa Kompas bukan sekedar kantor berita, tapi agen politik pembela kepentingan asing – aseng untuk membodohi rakyat dan menguasai sumber kekayaan alam di negeri ini.

Fakta menegaskan, Kompas sang media katolik ini tidak pernah mempersoalkan kejahatan perampokan ratusan triliun uang negara dalam skandal BLBI. Maklum, para pelakunya adalah konglomerat Tionghoa. Tapi kalau koruptor kelas teri yang melibatkan oknum pribumi, dengan rupa opini, Kompas gencar mendesak KPK untuk bertindak cepat.

Kepentingan Kompas membela penjahat BLBI yang merampok ratusan triliun uang rakyat, disenyalir tidak gratis. Tapi demi memperkuat kejahatan di antara mereka. Sungguh ironi, sebuah media yang konon katanya berbasis intelektual, ternyata menjadikan jurnalisnya sebagai budak yang setia membela kepentingan sang majikan aseng.

Pernahkah anda menemukan berita Kompas secara konsisten mendesak KPK untuk memanggil dan memeriksa keterlibatan Megawati Soekarnoputri dalam kasus BLBI…? Justru sebaliknya, Kompas berupaya menghindar bahkan “melindungi” si “Ratu Kebal Hukum” tersebut.

Tak hanya itu, Kompas juga memainkan peran penting melalui serangkaian opini untuk melindungi Jokowi dan Ahok dari maha skandal Trans Jakarta. Dan celakanya, ratusan jurnalis Kompas seolah kompak dalam misi terselubung, dengan apa yang mereka sebut sebagai: “Skenario yang tidak lepas dari agenda melindungi kejahatan BLBI”. Tegasnya, kasus BLBI dan segala skandal Jokowi – Ahok harus diamankan urai Faizal.

Faizal : Saya Akan Terus Perangi Kejahatan Kompas, Sampai Seluruh Rakyat Tahu Bahwa Kalian Adalah Penipu Berkedok Pers !

Kompas dan kepentingan politik Katolik adalah dua hal yang tak terpisahkan. Fakta tersebut sejak lama telah diketahui oleh kaum terpelajar di negeri ini, lebih-lebih bagi kalangan aktivis yang terlibat dalam dunia pergerakan. Tahu dan memahami sepak terjang Kompas yang gencar membela kepentingan kelompoknya secara licik dan arogan.

Di era Orde Baru, media milik Jacobus Oetama itu disebut sebagai Komando Pastor. Dan ketika rezim Soeharto tumbang, berganti sikap secara ekstrim menjadi Komando Pembela Aseng (Kompas). Sebuah misi terselubung politik Tionghoa – Katolik guna menguasai hajat hidup mayoritas pribumi secara semena-mena.

Sehingga tak heran, bila Kompas sangat ekstrim dan membabi buta melakukan pembelaan terhadap ambisi Jokowi, Ahok dan PDIP. Sembari melindungi kejahatan konglomerat Aseng yang terlibat skandal BLBI menjarah ratusan triliun uang negara.

Perpaduan afiliasi Tionghoa – Katolitik terbentuk begitu rapi di level elit dan bersenyawa secara homogen ditingkat arus bawah. Yakni, Kompas yang dibantu oleh CSIS beperan sebagai wadah pembentuk opini publik, sementara jaringan Katolik melalui ratusan yayasan binaan Gramedia Group milik Kompas digerakan untuk menjalankan agenda politiknya.

Dengan berkedok kebebasan pers, isu HAM, Demokrasi, Pluralisme dan aneka jargon yang berorentasi pada kepentingan Neoliberal, secara perlahan, Kompas dan konglomerat aseng melancarkan pembodohan kepada rakyat pribumi. Bukan hanya ummat muslim tapi kaum Protestan menjadi sasaran penghancuran diberbagai aspek.

Pada pemilihan presiden 2014, gerakan politik Tionghoa – Kompas begitu terlihat mencolok dan sulit untuk dinafikan. Arah dan tujuannya: Memastikan bahwa negeri ini tidak boleh lepas dari cengkraman kepentingan aseng dan asing. Dengan cara itu mereka akan tetap eksis dan berperan sebagai penguasa yang sesungguhnya!

(berbagai sumber)


2 Comments

Just Warning for Reader Indonesia Media!

BIAR TIDAK DIANGGAP ANTI ISLAM, KOMPAS BIKIN BERITA TENTANG KISAH MUALAF THERESA CORBIN… WASPADA, ITU MODUS LAMA !

Dalam empat hari ini Kompas terlihat panik menghadapi perubahan dinamika politik seputar tarik-menarik penentuan kabinet. Fakta paling mencolok adalah arah pemberitahannya yang mulai berbalik mengkritisi Jokowi. Padahal, lebih dari dua tahun Kompas paling terdepan membela si boneka aseng tersebut secara membabi-buta.

Perubahan arah pemberitaan Kompas membuat berbagai pihak mencemoh: “Kemarin gencar membela Jokowi dengan segala rekayasa isu dan opini, kini kok berbalik menyerang..”. Itulah Kompas, yang terkenal sebagai pers dengan moto: “khianat hati nurani rakyat”.

Bincang tentang kelakuan Kompas ini perlu untuk diketahui publik. Mengingat, Kompas dan jaringannya (CSIS) merupakan alat kepentingan politik kelompok misionaris pembela konglomerat asing. Dengan segala dusta dan tipu muslihat selalu berusaha membodohi ummat di negeri ini. Tapi kini, akal bulus Kompas terjebak dalam permainan kotornya.

“Begitu kentara anti Islam dengan membela Jokowi dan Ahok bagai dewa, serta menuding semua pihak yang bersebrangan dengannya sebagai musuh”. Media milik Jacob Oetama itu tak ubahnya “anjing” lapar yang bersikap buas bila mana kepentingannya tidak terakomodir. Lebih jauh untuk meyakinkan ummat yang telah terlanjur memahami Kompas sebagai media anti Islam, maka modus lama pun dimainkan. Yakni, berpura-pura menjadi toleran dengan memuat berita tentang: “Kisah Theresa Corbin, Perempuan Feminis yang Masuk Islam…” (berita kompas online 25/10).

Begitulah Kompas, setelah mengobrak-abrik dan menyiram luka di hati ummat, kini mencoba untuk bersikap membujuk. Memberi kesan bahwa mereka tidak membenci islam. Padahal semua itu hanyalah sesaat saja. Selanjutnya akan kembali menyudutkan kaum mayoritas dengan sikap penuh kebencian dan hasutan. Hem, Kompas benar-benar penipu ulung, rakyat sudah tahu kejahatan kalian ! salam

Faizal Assegaf

Ketua Progres 98


Leave a comment

SBY, Mafia dan Asing

Nusantara- Bangsa dan rakyat Indonesia menghadapi pemilu yang kesekian dan hingga kini kesejahteraan masih jauh dari harapan, biaya hidup semakin tinggi dan kepastian hukum makin tak tergapai.
Tanggung jawab dan kepemimpinan presiden dalam sebuah negara bukanlah sebagai simbol kedaulatan bangsa, bukan pula membangun imperium keluarga dari bisnis minyak yang tiap malam menerima pundi-pundi dollar dari ‘Oil Godfather’ dari Muhammad Riza Chalid yang sejatinya telah berlangsung sejak era Presiden Soeharto hingga SBY.

Jumlah uang yang luar biasa besar yang dikeluarkan negara untuk beli minyak impor melalui Petral ini tentu saja tidak pernah luput dari mafia-mafia minyak yg disebut-sebut menguasai dan mengendalikan Petral adalah Muhammad Riza Chalid. Riza diduga kuasai Petral selama puluhan tahun. Disamping Riza, dahulu Tommy Suharto juga disebut salah satu mafia minyak. Perusahaan Tommy diduga mark up atau titip US$ 1-3/barel.

Kita sudah tahu Tomy Suharto, tetapi siapakah Muhammad Riza Chalid ? Dia adalah WNI keturunan Arab yang dahulu dikenal dekat dengan Cendana, Riza, pria berusia 53 tahun ini disebut sebagai  PENGUASA ABADI dalam bisnis impor minyak RI. Riza disebut-sebut sebagai sosok yang rendah hati, tetapi siapapun pejabat Pertamina termasuk Dirut Pertamina akan gemetar dan tunduk jika bertemu ia.

Di Singapore, Muh Riza Chalid dijuluki “Gasoline God Father”. Lebih separuh  impor minyak RI dikuasai oleh Riza, parahnya tidak ada yang berani melawan. Dahulu Global Energy Resources, perusahaan Riza pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak impor ke Pertamina, Tetapi kasus tersebut hilang tak berbekas dan para penyidiknya diam tak bersuara. Kasus ditutup, padahal itu diduga hanya sebagian kecil saja. Global Energy Resources adalah  induk dari 5 perusahan : supreme energy, Orion Oil, Paramount Petro, straits oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Spore & terdaftar di Virgin Island yang bebas pajak ke lima perusahaan mitra utama Pertamina.

Kelompok Riza cs ini juga yg diduga selalu halangi pembangunan kilang pengolahan BBM dan perbaikan kilang minyak di Indonesia, Bahkan penyelesaian PT. TPPI yg menghebohkan itu karena rugikan negara juga diduga tak terlepas dari intervensi kelompok Riza cs.

Bangsa dan rakyat ini sudah cukup lelah dengan intrik ‘muka manis’ dan episode sinetron ‘terdzalimi’ bukanlah solusi. Namun dibalik muka manis itu ada sejumlah fakta yang terkuak dari media internasional tentang dugaan kuat Susilo Bambang Yudhoyon adalah agen asing sebagaimana dituturkan Aljazeera berikut ini:
“Despite a smear campaign that includes allegations he is a CIA agent, polls show that Yudhoyono’s personal approval ratings. Asked who was their second choice to become president should their candidate not win, electors unanimously backed Yudhoyono. 

A career soldier, Yudhoyono and graduate of US military training programmes at Fort Benning, Columbus (1976 & 1982) and the Command and General Staff College at Fort Leavenworth, Texas (1991), Yudhoyono has fond memories of the US.
Informasi di atas dipaparkan Aljazeera, secara tegas menempatkan sosok Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden binaan Amerika.  Tentu saja ini bermula dari  jejak SBY dalam lajur militer. Ia, seorang prajurit karir, dan lulusan program pelatihan militer AS di Fort Benning, Columbus.
Jejak rekam SBY ini dibongkar akun twitter @TrioMacan2000.  Dalam kicauannnya, Sabtu, (20/7) di jejaring sosial itu, ia membongkar siapa sosok SBY dan menunjukkan beberapa bukti faktual tentang keterlibatannya dalam missi rahasia Amerika Serikat.
Seperti dilansir Aljazeera, SBY adalah agen Amerika yang sangat loyal bahkan dengan bangga SBY berharap bisa menjadi bagian dari Amerika. Inilah bukti keterlibatan SBY dalam aksi AS apapun di Indonesia, termasuk pembiaran pangkalan militer dan penempatan pasukan AS di Darwin.
Kondisi ini, diperoleh SBY dengan dukungan penuh Presiden George Bush pada SBY. Fakta ini makin terkuak ketika koran terbitan Singapura, Business Times edisi 10 April 2004. Koran itu mengutip sumber di pemerintahan Bush yang menyatakan bahwa AS mendukung SBY untuk membentuk koalisi yang tidak terkalahkan.
Di mata Bush, SBY adalah sosok yang kredibel mendukung kebijakan Bush soal perang melawan terorisme Islam. Koran The Asian Wall Street  Journal (AWSJ) juga menulis tajuk yang isinya senada. AWSJ menilai SBY sebagai tokoh loyalis No. 1 AS.
Kembali kepada Aljaeer, dalam situs Al http://Jazeera.Net , 4 Juli 2004, terdapat profil SBY dengan tulisan Paul Dillon bahwa SBY adalah seorang yang sangat pro AS.
Gambaran itu semakin terang benderang, ketika Paul Rowland, pimpinan National Democratic Institute for International Affairs (NDI) yangg selalu membuat jajak pendapat memenangkan SBY. Rowland mengatakan bahwa SBY “firm leader, but not an iron fist” (pemimpin yang tegas dan tidak bertangan besi).
“Pujian ini tentu berlebihan jika melihat sikap SBY yang peragu, cari aman dan tak mampu mengambil keputusan. Sikap Washington sangat hangat terhadap SBY terjadi sejak lama dan hal itu terbukti ketika ia melakukan kunjungan kerja ke AS ,” begitu kicauan @TrioMacan2000.
Fakta lain
Pada September 2003, kendati badai Isabel di ibukota AS, kunjungan kerja SBY tetap jalan. Pertemuan para petinggi AS dgn SBY tetap dilakukan. Pada kunjungan SBY ke AS tersebut, SBY mendapat perlakuan istimewa terutama oleh Asosiasi Persahabatan AS-RI  (USINDO Society).
Pada Jumat, 19 September 2003, SBY disambut meriah. Para petinggi AS seperti  Menlu Powell, Wkl Menhan Wolfowitz dan Direktur FBI Robert S. Mueller. Wolfowitz,  arsitek penjajahan AS di Irak, mengajak seluruh hadirin melakukan toast utk SBY. Capres RI dukungan dan loyalis AS sejati.
Ratusan undangan tamu VIP dan VVIP AS berdiri bersulang dengan mengangkat gelas berisi minuman beralkohol anggur dan sampanye. SBY tampak terharu  menerima penghormatan ini dengan anggukan kepala tanda terima kasih. Hatinya berbunga2 penuh bahagia … . “Saya berada di sini hari ini utk menegaskan lg solidaritas Indonesia – USA dalam koalisi global melawan terorisme Islam dunia,” tutur SBY
Seperti kita tahu, komitmen pemerintahan Bush yang pro Israel, dilanjutkan Obama terhadap SBY itu ternyata tak sebatas retorika belaka. Menurut Senator Paul Findley, kedua organisasi ini merupakan dua organisasi lobi Yahudi yang paling berpengaruh di Gedung Putih. Sumbangan dana seperti ini memang diumumkan di AS sehingga  sebagian mahasiswa Indonesia di sana dengan mudah mendapatkan informasi.
Di Jakarta, kini telah berdiri pula Indonesian-Israeli Public Affairs Committee (IIPAC) yang dipimpin agen Mossad, Benjamin Ketang. Benjamin Ketang adalah mantan aktivis PMII yang mendapatkan beasiwa ke Israel atas jasa Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Dan Benjamin Ketang jadi WN Israel. Padahal sebelumnya dia adalah WNI.
Kantor IIPAC pimpinan agen Mossad, Benjamin Ketang yang sebelumnya di ITC cempaka putih kini pindah ke Jl Sudirman. Mossad juga yang diduga memberikan jaminan kepada SBY untuk membantu menangkan kembali PD di pemilu dan Pilpres 2014.
“Kalau besok akun twitter ini lenyap atau disuspend selama2nya, kami harap Anda dapat mengerti siapa pelakunya,” celoteh @TrioMacan2000.
Apa kompensasi yang diminta Mossad terhadap jaminan bantuan kemenangan PD di pilpres dan pemilu 2014 itu ? Papua Merdeka ? PKS ? Islam ?
“Akankah kita ucapkan selamat datang Papua Merdeka? Aceh Merdeka? Melayu Raya? Semoga tidak. Semoga Allah melindungi NKRI. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin,” ungkap akun yang penuh kontroversi mengakhiri celotehannya.
Pada titik yang lain, Profesor Ilmu Politik Universitas Northwestern, Jeffrey Winters mengatakan bahwa SBY Tak Bikin AS Pusing. Adalah fakta bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyukai SBY karena selama berkuasa SBY tak pernah membuat pusing mereka dan memainkan agenda barat dengan sangat baik.
.
“Saya rasa AS dan negara Barat senang pada SBY justru karena dia mediocre. Dia tidak membuat Amerika pusing dan dia itu good boy,” ujarnya kepada wartawan. Sementara itu menurut beberapa sumber SBY dengan kebijakan pencitraannya berusaha menampilkan kewarganegaraan dan rasa nasionalismenya terhadap rakyat Indonesia. Padahal sangat bertolak belakang dengan pernyataannya ketika Hal itu dikaitkan dengan SBY saat bertandang ke Negeri Paman Sam pada 2004 lalu.

(dari berbagai sumber)


2 Comments

Indonesia, the State of Mafioso

What is mafia? “a crime syndicate in the United States; organized in families; believed to have important relations to the Sicilian Mafia”. Mafia adalah perkumpulan rahasia yg bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Kita lihat di Wiki, apa itu mafia dan asal usulnya.

“Mafia, juga dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir.

Anggota Mafia disebut “mafioso“, yang berarti “pria terhormat“.

Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-20.

Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan.

Istilah “mafia” kini telah melebar hingga dapat merujuk kepada kelompok besar apapun yang melakukan kejahatan terorganisir (bandingkan dengan Mafia Rusia, Yakuza di Jepang), dan Triad di China.”

Di negeri ini mafia bisa terdiri dari pejabat negara, kapitalis asing Barat dan Timur (Cina). Meraka ‘bermain’ dalam banyak lahan, diantaranya minyak, gas (migas), hukum, keuangan, politik, perdagangan termasuk media.

Sejak kapan mereka bermain dan menjadi mafia. Untuk mencari tepatnya sulit. Tapi jika melihat karakter penguasa dan track record-nya maka akan terlihat. Mafia itu berkembang subur pasca kejatuhan Bung Karno. Bung Karno itu seorang cerdas, berani dan terdidik yang menonjolkan rasionalitas. Setelah kekuasaan Bung Karno rontok oleh kekuatan, yang sampai saat ini masih samar ditulis dalam sejarah bangsa ini. Semestinya apa yang diletakkan semasa Bung Karno disempurnakan tapi malah dirusak dan diporakporandakan. Bagaimana sekarang menegakkannya? Jika bisa masih butuh waktu lama.

Jika ditelusuri siapa mafia yang bermain di minyak dan gas? Ya pejabat sendiri, bekerja sama dengan asing dan aseng.  Begitupun di bidang-bidang lain. Antara satu dengan lainnya saling berkaitan dan menopang sehingga sulit dibersihkan.

Adakah pejabat yang lurus? Ada tapi biasanya tak memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan.

Nusantara, 4-6-2015