boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


2 Comments

Sisi Lain Pusat Kota Jakarta: Macet, Banjir dan Kumuh

Siapa yang tak permah pergi ke Jakarta? Dulu disebut Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia. Pernakah kota ini direncanakan menjadi ibu kota (capital city) sehingga semuanya tertata dan dapat menjadi percontohan kota-kota lain di wilayah negeri ini?

Inilah potret ketimpangan ekonomi antara pusat dan daerah yang selama ini dibiarkan bertahun-tahun. Modal dan pembangunan berputar hanya di Jakarta dan sekitarnya, sehingga orang-orang dari daerah seluruh Indonesia berduyun-duyun (migrasi) pergi ke kota. Jika dibandingkan antara pusat dan daerah, di pusat  ada orang hidup mewah dengan segala fasilitasnya di samping banyak kaum miskin kota, namun di daerah lebih parah lagi, sepertinya dibiarkan bak zaman batu. Padahal di daerah ini tempat berlimpahnya kekayaan negeri ini, di Sumatra, Kalimantan dan Papua.

Ketimpangan itu menimbulkan berbagai gejolak di daerah dengan pemberontakan, mulai dari Aceh sampai Papua, yang peristiwanya terjadi di masa lalu dan kini masih menyisakan letupan-letupan.. Namun, negara menaggapinya dengan kekerasan senjata dan bukan dengan dialog. Luka sejarah itu masih menganga belum sembuh betul. Saat ini masalahnya semakin kompleks. Akibat tumpukan masalah yang tak pernah diurai dengan tulus.

Bukankah negara seharusnya melindungi warganya dan sekaligus menyejahterakannya dan bukan malah memper-tuankan bangsa asing, para kapitalis!

macet

banjir

kumuh

dari berbagai sumber

Nusantara, 1-6-2015


2 Comments

Jokowi: I’m Sorry this is Wrong rong (Keliru lagi)….

Jokowi Mengakui Keliru Naikkan Uang Muka Mobil Pejabat Negara

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA – (6-4-2015) Presiden Joko Widodo akhirnya angkat bicara soal kontroversi akan pemberian uang muka pejabat negara.

Menurut dia, kebijakan itu keliru lantaran dikeluarkan di saat masyarakat tengah kesulitan. Jokowi pun berencana mengkaji ulang kebijakan tersebut.

“Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, dan ketiga sisi BBM,” kata Jokowi saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (5/4/2015).

Meski menandatangani peraturan presiden yang menambah jumlah uang muka bagi pembelian mobil itu, Jokowi menyatakan memang tidak mencermati satu per satu dokumen yang akan ditandatanganinya.

Jokowi menyalahkan Kementerian Keuangan yang seharusnya bisa menyeleksi dampak kebijakan itu bagi masyarakat. Oleh karena itu, Jokowi pun akan kembali mengkaji perpres itu.

“Coba saya lihat lagi. Tiap hari ada segini banyak yang harus saya tanda tangani. Enggak mungkin satu-satu saya cek kalau sudah satu lembar ada 5-10 orang yang paraf atau tanda tangan apakah harus saya cek satu-satu?” kata dia.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 tahun 2015 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan, Presiden Jokowi menaikkan uang muka pembelian kendaraan menjadi Rp 210,890 Juta. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2010 yang mengalokasikan tunjangan uang muka sebesar Rp 116.650.000.