boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Kekuasaan dan Lingkaran para Pendukungnya

“Tidak ada makan siang gratis (there is no lunch free)” anonim

Dalam dunia politik tak ada sesuatu yang gratis. Semua ada perhitungannya dan tinggal dalam bentuk apa hitung-hitungan itu.

Kekuasaan yang baru saja terbentuk sudah mulai memperlihatkan diri. Siapa yang dulu menjadi pendukungnya dan kini mulai ditarik dan direkrut masuk ke dalam kekuasaan. Tentu mereka itu kalangan lingkaran terdekat.

Kekuasaan ini didukung media massa yang dibiayai iklan dari para pemodal yang mempunyai kepentingan terhadap kelangsungan bisnisnya. Media, para pemodal, para pengamat dan simpatisan pendukungnya.

Semua kekuatan itu saling mendukung untuk satu tujuan bersama kemenangan. Kekuatan itu sepertinya sulit tertandingi menggelinding bagai bola salju.

Yang menentukan langeng atau tidaknya hanyalah hasil akhir sesuai apa yang telah dijanjikan. Namun, lagi-lagi jika janji yang telah dituliskan dan diucapkan tak segera dilupakan masyarakat pemilihnya sendiri. Biasanya yang sering terjadi adalah janji hanyalah janji dan apa yang dilakukan berupa pencitraan dan bukan sesuatu yang sungguh-sungguh dan substansial masalah apa yang tengah dihadapi bangsa ini.

Masalah besar bangsa ini adalah: kekayaan alam yang dikuras korporat besar, hutang luar negeri yang tinggi dan kemiskinan akut belum lagi birokrasi yang carut-marut dan tumpang tindih.

Akankah semua persoalan bangsa akan terurai dalam waktu dekat? Jika tidak tentu harapan akan terus dipelihara agar jangan sampai mati. Indonesia dream never die…

Nusantara, 1 Januari 2015

Advertisements


Leave a comment

PR untuk Presiden Baru

Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun mereka masih harus berjuang secara diplomatis hingga Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 1949. Sejak itulah negara ini berdiri.
Negara ini dibangun atas kesepakatan bersama untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Mereka bukan saja berjuang secara fisik, tapi juga mereka belajar menguasai ilmu dan bahasa untuk berdiplomasi, sehingga secara intelektual mereka setara dengan penjajah Belanda. Ini menunjukkan bahwa warna kulit dengan kecerdasan intelektual tak ada korelasinya, seperti pernyataan menghina “kulit berwarna lebih rendah”.

Secara intelektual kemampuan para founding fathers (pendiri bangsa) tak diragukan dan sebagai pejabat negara mereka sadar bahwa negara ini memiliki kekayaan yang melimpah –ini dibuktikan dengan datangnya penjajah silih berganti ke negeri ini– sehingga mereka berhati-hati terhadap kekayaan alam itu. Kesadaran itu lahir bahwa mereka tidak ingin dijajah untuk kedua kalinya, penjajahan dalam bentuk lain, yakni “neokolonialime”, kata Bung Karno. Oleh karena kesadaran itu pula mereka sebagai pejabat tak ingin bermewah-mewah ditengah kehidupan rakyat yang masih sulit.

Namun, berganti penguasa pemikiran tersebut dilupakan begitu saja. Penguasa baru tak memahami apa arti sebuah kemerdekaan?! Apa arti sebuah kedaulatan?! Rakyat sampai hari ini masih bermimpi memiliki pemimpin yang mampu menjadikan negara ini mandiri, berdaulat dan sejahtera! Oleh karena itu pekerjaan rumah presiden baru di antaranya, yaitu:

1. Mengurangi dan melunasi hutang laur negeri negara ini, yang membuat negara ini diintervensi dan tak mampu berdaulat!
2. Menasionalisasikan perusahan-perusahaan asing yang menguasai kekayaan alam selama bertahun-tahun dan kita tak mendapatkan apa-apa, hanya limbah!
3. Membersihkan Undang-undang dari unsur intervensi asing!
4. Membersihkan birokrasi dari unsur para antek asing dan tikus-tikus!
5. Menyejahterakan rakyat Indonesia, seperti pesan para pendiri bangsa!

6. Lain-lain menyusul…

Indonesia, 30 Agustus 2014
Anak Bangsa