boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Jalan Rusak, Tanpa Drainese (saluran air)

Banyak jalan rusak di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia disebabkan tanpa drainese memadai untuk menyalurkan air hujan. Jika hujan deras dan melimpah arus air akan menggerus jalan sehingga cepat rusak. Akibat jalan rusak banyak hal terjadi.

Tapi jalan rusak tak hanya karena tanpa drainese, bisa akibat penggalian untuk kabel, pipa atau lainnya. Jalan yang sudah dibeton, atau diaspal atau dikeraskan jika digali akan berubah menjadi labil, dan apalagi jika tak dikembalikan seperti semula.

Bisa juga memang bahan yang digunakan untuk membuat jalan kurang berkualitas tak sesuai dengan beban kendaraan yang melintas.

Akibat jalan rusak banyak terjadi kecelakaan, macet, kendaraan rusak dan sebagainya. Rakyat pengguna jalan sudah bayar pajak, terutama pajak kendaraan. Tapi kendaraan besar yang mengangkut barang melebihi tonase jalan siapa yang menindak?

Nusantara, 22 April 2016

Image result for jalan rusak di jakarta

Advertisements


2 Comments

Jalan Raya Negeri Ini Dibuat Untuk Rusak

Kesal dengan kondisi jalan raya di Indonesia yang rusak dimana-mana? Jangankan di jalan perkampungan atau jalan-jalan kecil, di jalan tol yang seharusnya mulus pun banyak yang bolong dan “jerawatan”. Sekarang, pengguna jalan tol “ikhlas” membayar uang tol bukan untuk mendapatkan kelancaran jalan, namun semata-mata untuk menghindari motor yang kian hari kian ugal-ugalan. Saya pengguna kendaraan roda empat dan juga roda dua, jadi sangat paham dengan kenyataan ini.

Ada yang menarik, sekaligus menyedihkan, yang tidak banyak diketahui tentang kenapa jalan-jalan raya di Indonesia banyak yang rusak. Penyebabnya ternyata bikin dada sesak, sekaligus geram pada pejabat-pejabat sektor pekerjaan umum dan yang terkait.

Kisahnya berawal dari obrolan santai tentang suatu proyek film dan novel dengan seorang pengusaha papan atas negeri ini di kantornya suatu siang di Jakarta Selatan. Pengusaha yang usianya masih muda ini sudah enam tahun bersahabat dengan penulis. Dia putera seorang konglomerat yang juga putera mahkota bagi imperium bisnis ayahnya yang sejak zaman Suharto sudah malang-melintang di dunia bisnis nasional.

Ketika obrolan sampai kepada hak paten dan banyaknya putera-puteri Indonesia yang cerdas dan menemukan sesuatu yang diakui dunia, dia dengan ekspresif bercerita soal seorang profesor yang pernah bekerjasama dengannya namun putus di tengah jalan.

“Dia seorang profesor dari Nusa Tenggara Barat. Namanya Prof Mkh (sengaja namanya disini disamarkan). Dia telah menemukan satu formula yang mampu memperkuat aspal sehingga aspal itu akan menjadi sangat kuat, walau diterpa hujan, banjir, panas-dingin, dan sebagainya. Suatu hari dia pergi ke seorang pejabat yang berpengaruh di instansi pekerjaan umum pusat untuk menawarkan formulanya ini. Namun pejabat tersebut menolaknya. Prof Mkh ini tidak putus semangat, dia terus mengontak para pejabat pekerjaan umum yang lainnya namun selalu saja ditolak. Akhirnya Prof Mkh berkesimpulan jika jalan raya di Indonesia memang sengaja dibuat untuk rusak, agar para pejabat tersebut setiap tahun punya proyek dan tentu saja bisa menilep anggarannya… Formula hebat Prof Mkh itu kemudian dibeli oleh Jerman dan dipatenkan disana.”

Inilah kisah di balik kenapa jalan-jalan raya, termasuk tol, di Indonesia selalu saja rusak. Kerusakan jalan di negeri ini adalah “berkah” (yang tidak halal) bagi para pejabatnya, proyek abadi setiap tahun, dan berarti pemasukan uang panas abadi sepanjang tahun ke kantungnya sendiri. Gilanya lagi, di mana-mana proyek perbaikan jalan selalu saja dilakukan menjelang musim hujan, perhatikan saja setiap tahun, sehingga belum lagi aspalnya kering, hujan sudah mengguyurnya, disertai banjir, dan rusaklah kembali jalan-jalan raya itu.

Lagi-lagi perilaku korup para pejabat negeri inilah yang telah mengakibatkan tewasnya banyak orang di jalanan selama ini. Sedih, memang. Tapi faktanya memang demikian.(rz-em)