boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Sri Bintang Pamungkas, Kaum Pribumi dan Cina

Jejak sejarah keinginan Cina menguasai Nusantara sudah dimulai sejak masa Sriwijaya tahun 600an. Walaupun Cina dikalahkan dalam perang oleh Raja Kediri Kertanegara dan Raden Wijaya penguasa Singosari usaha penaklukan Nusantara oleh Cina terus berlanjut. Pada zaman penjajahan, Cina menjadi kolaborator Belanda.

Pada masa Suharto gerakan politik Cina diredam tetapi ekonomi mereka mencapai kemajuan yang luar biasa dengan lahirnya 200an konglomerat yang menguasai ekonomi Indoneisa. Puncaknya Pemilu 2014 terpilih Jokowi yang antek Cina menajadi RI-1. WA

Bagaimana kejadiannya sampai Cina menggusur Islam dan Pribumi. Baca penjelasan selengkapnya….

Meski usianya menjelang 70 tahun, Sri Bintang tetap Bintang. Kecerdasannya tampak tak berkurang ‘sedikitpun’ meski usianya sudah senja. Kata-katanya tetap tajam. Ia mampu bercerita tentang sejarah Indonesia lebih dari satu jam dengan lancar. “Saya masih mengajar dua kali seminggu (di UI). Tapi saya sudah pensiun.”katanya kepada Suara Islam yang menemuinya di rumahnya yang asri di Cibubur.

Laki-laki kelahiran 25 Juni 1945, di Tulungagung ini, ayahnya seorang hakim. Sejak kecil ia suka politik. Ia juga suka protes. Ketika kelas V SD kepalanya pernah dipukul oleh gurunya dengan tongkat rotan yang dililit karet, karena bajunya tidak dimasukkan ke dalam celana. Ia protes dan mengadu kepada kepala sekolah.

Setelah lulus SMA Negeri I, Surakarta, Bintang melanjutkan kuliahnya ke ITB. Ia mengambil jurusan Teknik Penerbangan. Ia lulus tahun 1971.
Keinginannya untuk meraih ilmu di luar negeri, menjadikannya mengambil S2 di University of Southern California, Amerika. Di sini ia mengambil jurusan Teknik Industri. Program doktornya diselesaikan di Iowa State University, dengan disertasi berjudul “Medium-Term Dynamic Simulation of the Indonesian Economy” (1984).

Ketika mahasiswa Bintang juga aktif di kegiatan mahasiswa. Di ITB, ia pernah menjadi Ketua Biro Pendidikan Himpunan Mahasiswa Mesin (1967). Setelah pulang dari Amerika, Bintang juga pernah menjadi Anggota Dewan pakar ICMI.

Sekitar tahun 1972, Bintang menjadi staf pengajar tetap di Fakultas Teknik UI sampai pensiun sekarang. Kini selain beberapa hari mengajar di UI, Bintang banyak meluangkan waktu di rumah. Berkebun, menulis dan diskusi adalah hobinya.

Dari hasil ketekunannya menulis, ia telah menerbitkan beberapa buku, diantaranya : Getaran Mekanis (1975, Metode Numerik (1989), Manajemen Industri (1990), Teknik Sistem (1992), dan Pokok-pokok Pikiran Sri-Bintang 3 jilid (1994). Kini ia juga sudah menyelesaikan bukunya ‘Ganti Rezim, Ganti Sistem’. Buku ini ia cetak sendiri dan sudah menyebar ratusan eksemplar.

Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat Jokowi saat ini?

Mafia Persaudaraan Cina Indonesia itu sudah merencanakan menguasai republik ini sudah lama. Beberapa kasus masa lalu bisa dilihat. Ketika masa Sriwijaya tahun 500-an, orang-orang Cina yang belajar agama Budha, mereka mendaapti Nusantara itu sebagai Tanah Harapan.
Artinya mereka menemukan Indonesia ini, lalu mereka berfikir, Nusantara ini sebagai tanah air. Lalu dimulailah dari daratan Cina, kaisar-kaisar mengirimkan ekspedisi dalam jumlah yang besar. Dan itu berlangsung terus berkali-kali.
Ketika Sriwijaya mulai runtuh, maka muncullah di Jawa Timur, kerajan-kerajan kecil seperti Kediri, lalu Singosari, sebelumnya ada Medang dan seterusnya. Mereka, kerajaan-kerajaan itu didatangi oleh orang-orang Cina, utusan-utusan kaisar di sana, untuk takluk dengan Cina. Itu sekitar tahun 1200-an.
Pernah Raja Kertanegara, didatangi oleh utusan Cina yang namanya Meng Chi. Kertangera marah dan Meng Chi itu dipotong telinganya dan disuruh pulang. Tapi kemudian ketika Mongol mengalahkan kerajaan-kerajaan Cina, muncullah Jengis Khan, Kubilai Khan, dan seterusnya.
Kubilai Khan pernah mengirim 20 ribu pasukan dengan angkatan lautdan tentara berkuda ke sini. Orang Nusantara menyebutnya pada waktu tentara Tartar. Maka muncullah yang namanya Raden Wijaya dari Singosari. Raden Wijaya menghancurkan tentara Tartar itu dengan perang gerilya.
Lalu Raden Wijaya menjadi menantunya Kertanegara dan akhirnya menjadi pendiri Majapahit dan sekaligus raja pertama Majapahit. Dimulailah saat itu era baru Kerajaan Majapahit.
Lalu ada Hayam Wuruk dan Gajah Mada muncul sebagai raja yang terkuat, yang (dikatakan sebagian ahli sejarah) wilayahnya sampai Pantai Timur Afrika dan Amerika Latin. Tentang Amerika Latin itu hubungannya sejak dengan Sriwijaya. Oleh karena itu relief-relief di Borobudur itu menunjukkan gambar orang Amerika Latin.

Setelah dihancurkan Raden Wijaya apakah orang-orang Cina kapok ke Indonesia?

Nafsu dari orang Cina, dari Utara tidak luntur untuk menguasai Nusantara. Mereka mulai masuk tanpa tentara, dalam jumlah besar bersamaan dengan runtuhnya Majapahit, bersamaan dengan masuknya Belanda dan Portugis. Islam itu masuk karena Majaphit sendiri dengan perdagangan lautnya mencapai Hadramaut dan Gujarat.
Hadramaut itu Yaman, dan Gujarat itu Pantai Barat India yang kemudian jadi Pakistan. Melalui itulah kemudian Islam masuk. Dan kita tahu bahwa kerajaan Majapahit itu kemudain menjadi kesultan-kesultanan Islam, dari Serambi Mekah sampai ke Ternate.
Papua itu di bawah kesultanan Ternate. Kesultanan-kesultanan itu ‘tidak merupakan satu imperium yang satu’, sehingga mudah dimasuki oleh infiltran-ilnfiltran asing termasuk Cina.
Cina ini merembes kayak air.Bahkan mereka mengklaim Islam datang dari Cina. Bahkan dari berbagai tulisan dibikin seolah-olah Walisongo itu sebagiannya adalah orang-orang Cina. Itu jelas- tidak betul. Kalau Islam betul datang dari Cina, maka Cina yang Islam itu mayoritas, ternyata kan nggak. Mayoritas malah Indonesia. Jadi itu palsu. Termasuk sunan-sunan dari Walisongo yang disebut Cina itu palsu.
Lalu ketika VOC masuk dan pemerintah Belanda menjajah Indonesia, orang-orang Cina itu menjadi perantara. Mereka menjadi pedagang-pedagang bahkan industriawan yang bagus dan punya ketrampilan yang bagus ddan unggul dibanding orang Jawa.
Bahkan orang jawa menganggap bahwa orang dagang itu rendah, yang tinggi itu adalah kebangsawanan dan pendidikan. Jadi karena itu sama Belanda mereka dijadikan -dengan pendatang yang lain seperti Arab dan India- dan diangkat menjadi warga negara kelas satu di bawah Belanda. Di bawah orang-orang bule. Pribumi itu dianggap paling rendah.
Maksud Belanda di situ untuk mencari teman. Sedang si Cina-Cina ini selain menganggap bahwa Nusantara adalah tanah harapan juga mereka mendendam sakit hatikarena ekspedisi-ekspedisi mereka, tentara-tentara Tartar tadi, selalu dikalahkan oleh kerajaan di Nusanrta. Nafsu mereka untuk menguasai Nusantara sangat besar.
Maka ketika perang kemerdekaan mereka bantu Belanda. Setelah perang kemerdekaan, mereka menolak Indonesia merdeka. Sekalipun beberapa diantara mereka ada yang mendukung Soekarno Hatta. Sebagian besar mereka menginginkan Belanda terus disini. Karena dengan Belanda di sini, mereka menjadi terlindung, karena mereka merasa minoritas.
Mereka ada yang jadi pasukannya,sewaktu Belanda atau Jepang (menjajah Indonesia). Orang-orang Cina itu yang kedudukanya lebib tinnggi dari pribumi boleh masuk ke sekolah-sekolah Belanda bahkan dikirim ke Belanda. Merekajuga ikut membuat perkumpulan yang mendukung Belanda. Zaman Jepang pun begitu. Sekalipun ada yang menjadi anggota BPUPKI, PPKI dan dan lain-lain.
Dalam sejarah, ada peristiwa yang namanya Kali Angke. Itu 10 ribu orang Cina dibantai Belanda karena mereka mempunyai kebiasaan yang buruk dan sudah ada peraturan mereka melanggarnya. Yaitu pelaranganmembuat pelacuran, perjudian dan minuman-minuman keras. Mereka memproduksi. Sehingga ketika mereka melakukan pelanggaran, sehingga gubernur Belanda bersama orang-orang Eropa lainnya, membantai mereka. Kali Angke menjadi merah darah.

Contoh pengkhianatan orang Cina ini dalam sejarah seperti apa?

Ketika perang Diponegoro, banyak orang Cina yang mengkhianati Diponegoro dan membantu Belanda. Dan karena itu juga terjadi pembunuhan besar terhadap orangorang Cina oleh orang-orang Diponegoro. Terutama di Ngawi, daerah perbatasan Jateng dan Jatim. Adipati di Madura juga banyak membunuh (orang Cina).
Artinyasifat-sifat Cina ini, menurut saya, menjadi karakter orang Cina dimata pribumi tidak berubah. Antara lain suka meniou, nyogok, sewenang-wenang, licik, dan memperkaya diri. Memang mereka terampil dalam binis. Tapi mereka menjadi besar karena nyogok. Dan banyak pejabat kita yang terkena sogokan itu. Termasuk raja-raja kita pada masa lalu.
Sebagai akibat dari sifat-sifat itu, mereka tidak pernah mau menyatu dnegan pribumi. Mereka membentuk kelompok sendiri, yang saya sebut sebagai segregasi. Itu terjadi sejak dimasa Bung Karno. Sehingga akhirnya Soeharto mengeluarkan surat keputusan pemerintah, mereka dilarang melakukan perdagangan di pedesaan.
Karena cara-cara mereka berdagang yang licik dan mencederai orang-orang pedesaan. Peraturan Pemerintah itu sebenarnya dikeluarkan sejak tahun 1959 (zaman Bung Karno), karena ada laporan bahwa orang-orang Cina itu mulai mendominasi perekonomian-perekonomian. Sampai sekarang PP itu nggak pernah dicopot.
Lalu pada tahun 1963, bulan Mei, terjadi peristiwa bentrok yang dimulai dari Cirebon sampai menjalar ke Jawa barat. Rumah-rumah dan toko-toko Cina dirusak dan dibakar oleh masyarakat.
Sifat congkak, merasa diri kelasnya lebih tinggi akibat dari sikap Belanda dulu, dan juga tidak bisa dilepaskan dari dendam mereka yang sampai tahun 1500 selalu dikalahkan. Itulah mereka.
Ada peristiwa yang menarik, tahun 63-64 menjelang 65. Ada seorang imigran Cina yang mengambil nama suryawijaya itu dengan alasan mengunjungi ibunya, ia menjadi warganegara Indonesia. Entah prosesnya seperti apa waktu itu. Ia ternyata tentara Cina. Ia memang dikirim darisana. Ia melakukan aktivitas pengiriman senjata dari Cina untuk membantu Barisan Tani Indonesia, yang kemudian ikut mendukung PKI.
Dan memang dikabarkan menjelang tahun 65 itu ada kapal yang ditangkap yang isinya penuh dengan senjata, mendarat di Pantai Utara Jawa. Itu kemungkinan juga bagian dari Suryawijaya. Itulah mengapa Pak Harto menganggap bahwa peristiwa PKI 30 September itu juga didalangi oleh RRC. Dan Suryawijaya ini mempunyai keturunan, sampai sekarang sudah cucu.
Bisnis senjata itu dilanjutkan oleh anak-anaknya,diantaranya Edward Suryawijaya. Mereka jadi supplier senjata bagi TNI dan Polri. B ahkan yang terakhir pesawat kepresidenan SBY, dari mereka. Lalu pesawat itu dijual lagi, mereka yang beli.

Bagaimana nasib kaum Cina dibawah Pak Harto?

Pak Harto punya alasan sendiri, Cina-Cina ini harus diredam. Alasan lain Lim Bian Koen (Sofjan Wanandi) dan Lim Bian Kie (Jusuf Wanandi), mendirikan CSIS bersama dengan Harry Tjan Silalahi. Harry Tjan bersama-sama Subhan ZE orang NU kharismatik, mereka membentuk Front Pancasila mendukung Pak Harto. Itu mulai tahun 1966.
Subhan ZE jadi Ketua, Harry Tjan jadi Sekjen. Tapi kemudian Subhan dan Harry Tjan bentrok. Karena Subhan berpandangan pimpinan tertinggi RI itu harus seorang sipil. Sedang Harry Tjan mengatakan bahwa kami orang-orang Cina perlu pelindung,persis sepeti Cina minta perlindungan Belanda. Menurut Harry Tjan, meski tentara itu otoriter, kami merasa lebih aman. Kemudian mereka mendirikan CSIS, di situ ada juga Ali Moertopo dan Sudjono Humardani.
CSIS Indonesia itu cabangnya CSIS di Amerika. Sejak awal CSIS, Harry Tjan sebetulnya orang CIA. Bahkan mereka, atas petunjuk CIA membantu Soeharto menjelang peristiwa G30S sampai akhirnya Soeharto dapat Surat Perintah 11 Maret, (termasuk dengan MI6 Inggris yang membantu).
Karena waktui itu MI6 menerbitkan surat tentang Dewan Jenderal yang menjadi alasan Untung melakukan kudeta 30 September 1965itu. Jadi sekalipun Harry Tjan belum ketemu Subhan, tapi keberadaannya usaha jejaringnya sama CIA.
Antara lain peristiwa Desember 1965, ada suatu rapat di Cipanas yang diselenggarakan oleh orang-orang Bung Karno untuk membubarkan atau menasionalisasi Caltex, ternyata pak Harto tiba-tiba muncul dan menolak nasionalisasi. Dari mana Pak Harto tahu kalau ada rapat di Cipanas? Dalam peristiwa G30S, Pak Harto ada dalam jejaring CIA untuk menjatuhkan Soekarno.
Ketika Pak Harto berkuasa,ia memutuskan orang-orang Cina dilarang berpolitik. Berbisnis dipersilakan. Pak Harto sadar atau tidak sadar situasi itu menyebabkan sosial ekonomi mereka mendominasi. Maka muncullah Bob Hasan, Liem Swie Liong dan munculnya 200 konglomerat Cina. Di situ saya melihat bahwa gerakan menguasai Nusantara atau Indonesia itu terus dan mencapai kemajuan, yang khususnya disetir oleh CSIS dan LIPPO di bawah Mochtar Riyadi dan James Riyadi.
Ketika Bill Clinton naik jadi presiden AS, masalah Timtim nggak pernah selesai. Kebetulan keluarga Clinton bersahabat dengan James Riyadi. James ikut bantu keuangan ketika Clinton kampanye presiden. Clinton ingin Timor Timur selesai.
MasalahTimtim nggak selesai-selesai, dan tiga Sekjen PBB, Xavier Peres Dequiar, Boutros Boutros Gali dan Kofi Annan lewat, masalah Timtim juga nggak selesai. Maka keputusan Clinton harus dijatuhkan. Soeharto harus jatuh, maka Clinton minta bantuan James Riyadi.
Pada waktu terjadi konferensi APEC di Bogor, tahun 1994, di Lippo Cikarang, Clinton berkunjung ke rumahnya James Riyadi. Dan disepakatilah upaya kejatuhan Soeharto. Kebetulan di tanah air terjadi gerakan-gerakan yang menentang Soeharto, khususnya dari pihak mahasiswa .
Jadi saya kira di samping ada gerakan mahasiswa, tidak sadar ada keuangan yang mengalir ke indonesia baik dari James Riyadi maupun dari Washington. Tahun 1997 terjadi krisis moneter yang menurut pendapat saya krisis moneter rekayasa. Ekonomi Indonesia itu kecil kalau direkayasa oleh negara besar kayak AS dibantu oleh CSIS, serta Mochtar dan James Riyadi, hasilnya menakjubkan.
Jadi krisis moneter menjadikan Indonesia kolaps, direkayasa masuknya IMF dan sekaligus menjadi penasehat untuk menangani krisis itu. Ini terjadi pada akhir pak Harto. Kemudian setelah itu ada pengucuran dana 210 trilyun agar Habibie turun, lalu naik Gus Dur.
Saya kira Timtim itu lepas karena rekayasa kelompok dari domestik dengan dukungan AS. Karena Habibie yang naik itu kan periodenya sampai dengan 2003, kenapa ia melakukan Pemilu 1999 yang menghasilkan kemenangan PDIP lalu pertanggungjawaban Habibie ke MPR ditolak saat itu? Itu rekayasa. Mayoritas rakyat kita nggak sadar, banyak nggak suka Habibie, menganggap ia tangan kanannya Soeharto, melepaskan Timtim dan tidak mau mengadili Soeharto. Termasuk penghancuran IPTN itu adalah rekayasa.

Kenapa Habibie harus dijatuhkan?

Untuk mempercepat terpilihnya presiden yang pro Amerika dan tentu saja pro Persaudaraan Mafia Cina Indonesia. Dipaksalah Gus Dur untuk mengucurkan Surat Tanda Utang (STU) 430 trilyun. Dilanjutkan Megawati, membantu bank-bank yang kolaps. Pemerintah seakan-akan bertanggung jawab kepada konglomerat-konglomerat itu. Karena pemerintah nggak punya uang, dikasih STU itu (kasus BLBI),untuk mengganti aset-aset mereka yang diambil pemerintah.
Tetapi ketika aset-aset itu dijual 430 trilyun itu diperkirakan total nilai aset- ternyata hanya terjual 15-20 trilyun. Artinya kita dibohongi konglomerat itu. Lebih gawatnya lagi Megawati keluarkan Inpres No. 8 tahun 2002. Cina-cina yang bohong ini yang sebetulnya berutang kepada negara,karena mereka nggak bisa bayar ke nasabah.
Keputusan Mega, mereka tidak akan ditangkap. Lalu STU itu untuk dipakai untuk mengucurkan bunganya kepada para konglomerat nilainya 60-70 trilyun pertahun.
Memang obligasi rekap itu dibuat untuk mencairkan bunganya itu. Karena 430 trilyun cash pemerintah nggak kuat bayar, kalau 60-70 trilyun per tahun pemerintah bisa. Ini dibayar mulai 2003 sampai hari ini. Lunasnya nggak jelas kapan, katanya sampai 2021.
STU itu sudah diperjualbelikan, termasuk kepada orang asing dan lembaga-lembaga asing. Indonesia membayar kepada lembaga-lembaga asing pemegang STU. Dan aset-aset yang murah itu, 15-20 trilyun dibeli lagi sama pemiliknya. Menteri keuangan AS sendiri, di zaman George Bush mengatakan bahwa aset-aset di bank-bank Indonesia itu aset sampah yang dibeli dengan harga tinggi. Tapi sama SBY ini dbiarkan. Kebijakan Megawati itu dilanjutkan SBY, koceknya lari ke SBY juga.
Zaman Gus Dur juga terjadi rekayasa. Satu, MPR dimandulkan. Tidak ada penguasa tertinggi selain presiden. Kedua, pasal 33 UUD 45 diubah. Akibatnya Indonesia menjadi liberalis dan kapitalis. Yang berlaku ekonomi pasar. Siapa yang kuat dialah yang menang.
Istilahnya, free fight liberalism. Yang ketiga, presiden tidak harus asli Indonesia (cukup warga negara). Setelah itu berhasil, target mereka 2014 harus muncul persiden Cina. Itu setelah kekayaan mereka (terkumpul) 60-70 triltyun sampai 12 kali dari 2003. Nilainya hampir 1000 trilyun. Sudah cukup rekaysa untuk memenangkan pemilu dan pilpres.

Berarti mereka (kaum Cina) sekarang ini berhasil?

Ya sekarang ini mereka berhasil. Selama 2014 itu ratusan triyun mereka keluarkan. Akhirnya mereka menemukan Jokowi. Christianto Wibisono pernah kasih SMS, ia mengatakan Soekarno itu shionya kerbau, tapi Soekarno mengatakan bahwa shionya bukan kerbau tapi banteng. SBY shionya kerbau juga, Jokowi shionya kerbau juga. Bahkan kemudian ia menambahkan smsnya: Lihat (nanti) Jokowi jadi presiden 2014. Kira-kira sms itu disebarkan Januari 2014 kemarin.

Benarkah Jokowi keturunan Cina?

Benar, jokowi keturunan Cina. Wi, Widodo itu selalu menjadi namanya. Ada Wijoyo, Winardi, Cina Wi. Bapaknya sekarang ini bapak tiri. Kalau ibunya benar Sujiatmi. Kalau mau membuktikan periksalah DNA bapaknya, periksalah DNA-nya Jokowi. Apa benar anaknya? Saya yakin nggak benar. Komunitas Cina sendiri mengakui bahwa ia itu Cina. Ada yang menyebut bapaknya namanya Oey Hong Liong.
Sedang beredar di media sosial, Jokowi punya adik kandung asli Cina di RRC yang bernama Wi Yo Fang. Saya bisa menambahkan ketika dia pertamakali jadi walikota, ada seorang Cina asal Semarang yang ingin bertemu sama Jokowi tetapi nggak berhasil, sehingga dia ngoceh dimuat di Solo Pos.
Ia mengatakan bahwa ia adiknya Jokowi. Ini Cina beneran. Artinya bapaknya Jokowi yang Cina itu, mungkin sudah menikah dengan Cina lain. Bapak tirinya ini (sekarang sudah meninggal), sama ibunya Jokowi menghasilkan anak tiga perempuan, yang menjadi adik tiri Jokowi sekarang ini.
Termasuk sejak dulu PDIP itu kan dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi Cina, Komunis, dan non Muslim. Ini satu peristiwa dulu. Yaitu ketika Pater Beek masuk ke CSIS. Dia mengadakan namanya kaderisasi sebulan (kasebul). Dan Sofjan Wanandi, CSIS itu menggusur pribumi dan menggusur Islam.
Pada waktu bersamaan di dunia muncuk kelompok Nasrani baru. Namanya Kristen Kharismatik. Masuk Indonesia lewat Timtim tahun 1975, menyebar ke Surabaya, sampai ke seluruh Indonesia. Kristen merasa takut muncul Kristen kharismatik ini. Khawatir kayak munculnya Potestan, sehingga sama Vatikan dikasih tempat.
Akhirnya menjadi banyak orang Katolik yang berpindah (ke Kristen kharismatik). Ini yang menjadi kuat mereka. Mereka menggunakan sepersepuluhan. Artinya sepersepuluh pendapatan untuk Kristen kharismatik. Surabaya, Malang berkembang. Ciputra masuk ke situ, Ahok masuk ke situ.
Ketika PDIP mengadakan kongres di Semarang kemarin, tempatnya Holy Stadium, yang katanya gereja terbesar di Indonesia, atau Asia Tenggara. Memang tempatnya di dekat Marina, sehingga sama Kompas diplesetkan menggunakan gedung Marina. Sebenarnya PDIP menggunakan gedung itu. Pimpinannya, Pendeta Petrus Agung Purnama.
Bahkan Gerindra sempat terkecoh, ia membikin sayap Cina dan Kristen. Dikiranya bisa menjaring Cina dan Kristen. Ternyata mereka memilih Jokowi.

Anda mengatakan Pilpres rekayasa. Bagaimana merekayasanya kan sulit?

Saya kira pilpres itu hasil rekayasa. Selama kotak suara berjalan dari TPS, lalu ke kecamatan, kemudian ke tempat lain sampai KPU,(dimungkinkan rekayasa) termasuk e-KTP. E-KTP itu, yang saya barusan ikuti beritanya, Direktur Astra Graphia, Karyawan Anang Sudiarjo itu diangkat menjadi ‘server e-KTP’. Nama cinanya Yo Ie Peng.
Nama ini sebenarnya sudah masuk ke KPK, tapi kok nggak ditindaklanjuti. Ini salah satu server dugaan saya. Selain ini ada lagi di tempat lain dugaan saya. E-KTP ini dijual kepada calon-calon imigran yang masuk ke Indonesia. Mereka nggak bisa berbahasa Indonesia, dijual dengan 5juta orang. Mereka bisa nyoblos. Berapa yang sudah terjual? Nggak tahu kita. Atau mungkin dicobloskan orang lain.
Saya menganggap pemilu 2014 itu pemilu yang paling kotor. Selain rekayasa tadi, juga calon-calon legilslatif bayar. Baik bayar kepada partai maupun bayar kepada pemilik suara. Contoh disebuah dapil, ada yang bayar 100 juta per masjid. Menang dia.
Artinya yang lain-lain juga begitu. Kita tahu bahwa mereka tidak dikenal, namanyamuncul dipohon-pohon, di tembok-tembok kok bisa jadi wakil rakyat. Juga disebut-sebut Jusuf kalla bayar, jokowi bayar juga. Bagaimana, mereka kan bukan kader PDIP bisa jadi calon? Nggak mungkin, pasti bayar.
Pencalonan Jokowi kan terjadinya setelah pertemuan Lenteng Agung. Setelah 70 sampai 100 pengusaha Cina bertemu Megawati. Kedua, Jokowi terlibat korupsi. Soal bantuan pendidikan, dulu ada Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS), dimana ada manipulasi jumlah siswa 65ribu ditulisnya 100ribu. Lalu pikiran-pikiran ini dibawa terus sampai ke jakarta. Jadilah kartu sakti. Trikartu sakti.
Dimana KPK hanya mengatakan bahwa ada penyalahgunaan wewenang karena tidak memiliki tender. Menurut konsutan yang ikut menggarap BPMKS, manipulasi serupa dipakai di Jakarta. Termasuk Transjakarta. Kan itu jelas-jelas bahwa tidak mungkin yang namanya Udar melakukan kebijakan itu tanpa perintah dari gubernur.
Dan ternyata bus-bus itu ‘brodol’ semua. Tapi dengan kekuatan Persaudaraan Mafia Cina Indonesia semua hilang (masalahnya). Juga taman BMW jakarta, itu juga jatuhnya ke tangan Cina juga. Dan ganti ruginya itu menuai korupsi.
Terus yang terakhir tidak pernah terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya, adalah Cina-Cina itu begitu begitu antusiasnya pilih Jokowi (sama Ahok).

Jokowi kemarin melakukan pertemuan APEC, G-20 dan ASEAN, bagaimana menurut Anda?

Di pertemuan APEC, disitu Jokowi menjelaskan, tapi sekaligus juga secara sadar dia membuka koridor bagi masuknya armada laut internasional ke Indonesia.
Disini ada yang dikenal dengan namanya ALKI (Alur laut Kepulauan Indonesia). Ketika indonesia disahkan mejjadi negara kepulauan, maka indonesia wajib menentukan Alur laut Kepulauan Indonesia, bagi keluar masuknya kapal-kapal asing.
Sudah ditetapkan yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Timor. Ini konon Amerika dan Australia selalu mendesak ini, keluarkan lagi ALKI. ALKI yang baru inilah yang sengaja dibuka oleh Jokowi tanpa konsultasi dengan KSAL, panglima TNI dan DPR/MPR.

Kenapa begitu?

Ketika pengumuman KPU ada kemungkinan ditolak sama MK, di samping berbagai macam (tuduhan) pidana yang dilakukan Jokowi, mereka gusar. Akhirnya Megawati berangkat ke AS, juga JK yang didukung oleh Sofjan Wanandi. Dipertemukanlah mereka dengan para pimipinan dunia di sana. Antara lain ada Obama, Hillary Clinton, David Cameron, dan Xi Jinping. Intinya minta tolong agar Jokowi dimenangkan.
Dari AS dikirimpula yang namanya senator John Mc Cay. John ketemu dengan pimpinan MPR dan Pramono Anung, tanpa satupun dari mereka yang menyampaikan kepada masyarakat isi pertemuan itu. Padahal setiap pertemuan dengan pejabat tinggi harusnya disampaikan isinya.
Permintaan bantuan Megawti dan JK ke mereka bukannya tanpa upeti. Salah satu upetinya adalah ALKI itu. Kunjungan mreka awal Agustus 2014 lalu, sebelum 17 Agustus, sebelum pengumuman MK.
Sebelum September 2014 di Australia beredar kabar, 18-19 Agustus ada konferensi di sana tentang Timtim. Konferensi International Force for East Timor. Yaitu tentara internasional untuk Timtim. Itu dibentuk paska referendum tahun 1998.
Salah satu pimpinan dari konferensi itu namanya Damien Kingsburry mengatakan : “Saya sudah mendapatkan proposal referendum Papua yang dibuat oleh Mr Jokowi”. Dalam fikiran saya itulah dua hal yang dijanjikan. Kesatu adalah kemerdekaan papua, kedua, ALKI.
Dugaan saya lewat jalur Utara Timur. Masuk dari Filipina, masuk ke Manado, ke Halmahera, dan Laut Timur Sulawesi. Ikannya banyak dan itu berbahaya bagi kedaulatan Indonesia. Angkatan laut Jepang menghancurkan Belanda dari situ. Kita nggak punya angkatan laut (yang kuat).Juga pertemuan antara Menteri Susi Pudjiastuti dengan Dubes AS yang lalu. Susi minta bantuan angkatan laut AS untuk mencegah illegal fishing.
Jadi selain memperkenalkan diri, presiden Jokowi juga menjual Indonesia kepada asing. Sama seoerti SBY. SBY juga menjual Indonesia. Soeharto dulu tahun 1967, dgn Hamengkubuwono, Widjojo Nitisastro (Mafia Berkeley) di Jenewa Swiss, bertemu dengan pimpinan-pimpinan MNC (Multinational Corporation).
Antara lain dari Freeport dan di situ diputuskan indonesia bisa dapat bantuan, dengan dibentuknya IGGI. Kelompok-kelompok negara donor untuk Indonesia. Sebagai upeti atau korbannya adalah kekayaan alam Indonesia. Mereka meminta agar diterbitkan UU Penanaman Modal Asing nomor 1 tahun 1967.
Lucunya UU itu antara lain dibikin Mohammad Sadeli, ditandantangani 10 Januari 1967 dan yang menandatangani Bung Karno. Bung Karno dipaksa Pak Harto untuk menandatangani itu, untuk menghukum Bung Karno. Karena Bung Karno pernah menyatakan neraka untuk bantuan-bantuan asing.

Ada yang mengatakan investasi asing kan perlu?

Ya perlu, tapi nggak perlu dikorbankan. Seperti investasi tanah dijual 95 tahun. Sekarang yang namanya Jawa itu 80 persen dikuasai Cina. Jakarta hampir 100 persen dikuasai. Juga pulau-pulau.
Kekayaan alam kita dikuasai Cina. Minyak dikuasai asing. Hutan kita juga dikuasai mereka, yang semuanya bertentangan dengan pasal 33 UUD 45. Pertamina sudah bukan BUMN lagi, tinggal namanya doang. Listrik kita sudah beli dari asing. Dijual digadaikan.
Cinaisasi sudah berlangsung: Jokowi, Ahok, Tjahjo Kumolo dan Setya Novanto, terindikasi Cina. Dan ini sudah merupakan gerakan dan konspirasi yang dimulai sejak zamannya Sriwijaya.
Sekarang kelompoknya Wijaya di Bandung yang mempopulerkan produk-produk Cina. Ada namanya Cucu Wijaya, salah satu pimpinan dari Universitas Maranatha. Dia lulusan ITB, jurusan Seni Rupa. Kemarin dia membawa rombongan ITB itu ke Cina.
Promosi produk-produk Cina dengan harga Cina yang tidak ada struktur biayanya. Kalau produk di dunia kan ada struktur biayanya. Kalau di Cina nggak ada. Bisa menjual seenaknya, industri-industri Indonesia bisa habis.
Belum lagi soal kesepakatan Asean. Dimana antara lain insinyur-insinyur Indonesia harus punya sertifikat asing (Asean), yang nggak punya sertififat Asean dianggap tidak mampu, dan ahli-ahli Asean bisa menggantikan mereka.
Sementara dari Soeharto sampai sekarang tidak pernah ada upaya untuk memajukan ahli-ahli kita. Indonesia benar-benar terjual, alam, air dan udaranya. Juga sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya. (Nuim Hidayat) (vi)


Leave a comment

Waspadai Pers “Pelacur” Dari Kekuasaan Sang Pengusaha!

SEBELUMNYA, mari kita tengok sejenak salah satu tokoh pergerakan yang juga sebagai wartawan yang sangat aktif berjuang, juga amat tegas membela hak-hak rakyat pada masa kolonial. Yaitu Abdul Muis.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa Abdul Muis adalah tokoh pertama yang dinobatkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Ia wafat tahun 1959 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP), Cikutra, Bandung.

Meski Abdul Muis adalah putra asal Minangkabau yang lahir di Agam, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Namun ia banyak berjuang dan mengabdikan diri di tanah Jawa dan untuk seluruh Indonesia. Yakni setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda. Ia bahkan termasuk salah seorang pencetus berdirinya Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung (ITB) di Priangan.

Semasa hidup, Abdul Muis banyak menggunakan Pers sebagai alat perjuangannya. Ia meninggalkan pekerjaannya di Departemen Onderwijs en Eredienst (Pendidikan dan Agama) lalu lebih memilih menjadi seorang wartawan di Bandung.

Tahun 1905 ia menjadi anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia, wartawan Majalah Neraca, lalu tahun 1913 menjadi Pemimpin Redaksi “Harian Kaoem Moeda”. Ia melawan dan menentang pemerintahan kolonial (Belanda) tidak dengan menggunakan senjata api ataupun tajam, tetapi melalui pena. Dan ia mampu membuktikan bahwa pena lebih “tajam” daripada pedang.

Dan dari situlah ia memulai perjuangannya untuk Indonesia. Yakni sebagai seorang sastrawan, wartawan, nasionalis dan politisi yang sangat keras melawan Belanda lewat tulisan-tulisannya. Salah satu tulisannya di harian berbahasa Belanda “De Express”, Abdul Muis pernah mengecam seorang Belanda yang menghina orang Indonesia.

Selain sebagai wartawan, tahun 1918 Abdul Muis juga pernah dipercaya sebagai anggota Volksraad (dewan rakyat) mewakili Central Sarekat Islam. Kemudian saat Belanda mengasingkannya di Garut, ia malah menjadi anggota Regentschapsraad (dewan kabupaten) tahun 1926, lalu menjadi Regentschapsraad Controleur (pengawas dewan kabupaten) hingga Jepang masuk ke Indonesia.

Membayangkan perjuangan Abdul Muis ketika itu, tentulah situasinya amat berat, karena teknologi pada saat itu belumlah berkembang seperti saat ini, tetapi bentuk perjuangannya sangatlah jelas adalah untuk melawan kezaliman yang dilakukan oleh kolonialis (asing) terhadap rakyat Indonesia.

Dan itulah sekelumit kisah Abdul Muis sebagai salah satu contoh tokoh pergerakan yang menggunakan Pers sebagai alat perjuangannya, dan tentu saja itu sangat patut dijadikan panutan oleh pelaku maupun tokoh-tokoh Pers yang hidup di era saat ini. Sebab, ia adalah tokoh Pers sekaligus wartawan yang samasekali tak ingin disogok, apalagi diperbudak dan menjadi “pelacur” (menjual diri) untuk kepentingan asing dan kelompok tertentu saja.

Sayangnya, sekarang justru kelihatan sebaliknya. Sejumlah Pers malah terindikasi sebagai “pelacur” yang hanya cenderung “melayani” (membela) pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan asing dengan melakukan penzaliman dan pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh pergerakan yang berupaya menghalau “nafsu” asing untuk kembali menguasai negeri ini.

Dan Pers “pelacur” seperti ini sangat mudah dideteksi, terutama pada situasi pertarungan politik jelang pemilu atau pilkada. Selain itu, “penampakan” Pers “pelacur” seperti ini juga dapat terlihat ketika terjadi benturan sebuah kebijakan di lingkungan pemerintahan, misalnya masalah PT. Freeport, Blok Masela, dan lain sebagainya.

Dan konon, salah satu media massa yang bertolak-belakang dengan nuansa dan semangat perjuang pahlawan Abdul Muis adalah Majalah Tempo. Jika pada masa lalu Abdul Muis sebagai tokoh Pers berjuang melawan kezaliman negara luar terhadap rakyat Indonesia, Majalah Tempo saat ini justru melakukan penzaliman terhadap Rizal Ramli sebagai tokoh pergerakan sekaligus salah satu pejabat negara yang kerap tegas membela kepentingan rakyat, termasuk menghalau “nafsu” negara luar agar tidak seenaknya memaksakan kehendaknya untuk menguasai kekayaan alam negeri ini.

Mengapa Majalah Tempo dinilai melakukan penzaliman terhadap diri Rizal Ramli?

Begini cerita singkatnya, dan publik juga sebetulnya sebagian besar sudah tahu. Bahwa Rizal Ramli adalah sosok “petarung” yang pantang menyerah apapun risikonya akan tetap berhadapan dengan siapapun ketika berjuang membela hak-hak rakyat.

Olehnya itu, kehadiran Rizal Ramli di dalam Kabinet Kerja nampaknya merupakan “mimpi buruk” bagi Jusuf Kalla (JK) beserta kelompoknya. Sebab, sejak dulu Rizal Ramli memang sangat dikenal sebagai penganut ekonomi kerakyatan, sementara JK sebagai pengusaha adalah penganut ekonomi neoliberal yang kini “berlabel” penguasa itu diduga kuat akan menggunakan kekuasaannya untuk “berbisnis”.

Benar saja, sejumlah kebijakan pun dikritisi dan dikoreksi secara tegas oleh Rizal Ramli. Sebab, selain diduga ada kepentingan terselubung dari JK bersama kelompoknya, sejumlah kebijakan itu juga dinilai tidak sesuai dengan cita-cita Trisakti serta Nawacita, dan cenderung hanya menimbulkan kerugiaan bagi bangsa dan negara.

Kritik dan koreksi yang dilakukan Rizal Ramli itu pun membuat publik nampaknya makin mengerti, tentang mengapa JK dan kelompoknya begitu sangat menghendaki proyek listrik 35 ribu Megawatt. Juga publik kelihatannya makin memahami mengapa Sudirman Said selaku Menteri ESDM begitu nampak sangat mati-matian (meski menabrak aturan) demi membela PT. Freeport. Selain itu, publik juga nampaknya semakin memahami mengapa Sudirman Said begitu ngotot menghendaki metode offshore pembangunan Kilang Gas Blok Masela meski harus melawan kehendak rakyat Maluku.

Merasa “rencananya” dihalang-halangi dan “diobrak-abrik” oleh Rizal Ramli, JK bersama kelompoknya pun sepertinya kompak melakukan perlawanan kepada Rizal Ramli dengan menuding sebagai sumber kegaduhan di dalam kabinet.

Dan besar dugaan, salah satu bentuk perlawanan kubu JK tersebut adalah dengan mengerahkan kekuatan propaganda melalui media massa. Tentu saja ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengajak pihak-pihak lain (termasuk rakyat) agar dapat turut menyudutkan Rizal Ramli.

Misalnya seorang rohaniawan, Romo Benny, pada Kamis (10/3/2016) di Metro TV dalam acara Prime Time News, tiba-tiba “disulap menjelma” bak pakar Hukum Tata Negara dengan menyampaikan protes dan keberatannya terhadap Rizal Ramli yang telah melakukan penambahan kata “Sumber Daya” di belakang nomenklatur (penamaan) Kementerian Koordinator Kemaritiman. Parahnya, Romo Benny menuding Rizal Ramli telah melakukan pembangkangan karena masalah penambahan nomenklatur tersebut.

Anehnya, pada hari yang sama (Kamis, 10/3/2016), Tempo.co juga menayangkan dua judul tulisan yang berbeda namun dengan tema yangsama, yakni masalah penanganan dwelling-time. Anehnya, dalam tulisan tersebut, Tempo nampaknya sengaja memunculkan data yang sudah tak sesuai dengan kondisi saat ini (data 6 bulan lalu).

Lucunya lagi, kedua judul yang berbeda tersebut pada beberapa paragraf terdapat tulisan yang sama persis rangkaian kalimatnya. Di antaranya kalimat, “Jokowi mengaku kecewa karena dwelling time di Indonesia mencapai enam-tujuh hari.” Padahal di dashboard online Pelabuhan Tanjung Priok jelas-jelas saat ini menunjukkan dwelling time sudah berada pada posisi normal 3,6 hari.

Apakah Romo Benny melalui Metro TV dan juga dengan Tempo.co atau dengan pihak lainnya tersebut merupakan bagian dari bentuk “pengerahan perlawanan” yang telah di-setting oleh kelompok JK atau tidak, entahlah??? Juga apakah hal-hal tersebut merupakan upaya balas dendam atas ditetapkannya salah satu orang JK (RJ Lino) atau tidak, entahlah???

Yang jelas penayangan Metro TV dan Tempo.co tersebut cukup terkesan manipulatif, sehingga sangat patut dicurigai sekaligus diwaspadai sebagai salah satu upaya penzaliman sekaligus kejahatan dari kubu JK guna menghentikan langkah para tokoh perjuangan dan pergerakan seperti Rizal Ramli yang memang sangat aktif menghalau “nafsu” sang pengusaha yang juga sebagai penguasa itu.

Pernah menonton salah satu Film James Bond berjudul Tomorrow Never Dies? Secara umum kira-kira seperti itulah yang sedang dilakukan oleh kelompok JK.

Dalam film tersebut, si jahat bernafsu lalu berupaya menguasai dunia, bukan dengan menggunakan kekerasan, melainkan dengan menguasai media komunikasi massa. Pesan transparan yang diberikan oleh film ini, bahwa kita hidup dalam dunia yang semakin terancam oleh pihak-pihak pengendali ‘kekuasaan media’, yaitu mereka yang menguasai jaringan televisi, studio produksi film, dan media komputer, yang tertarik membangun konspirasi untuk menguasai apa saja menurut seleranya.

Di saat seperti itu, insan Pers benar-benar merasa merdeka namun kehilangan idealisme dan nurani, sehingga media massa pun tak lagi segan-segan menjadi “pelacur” untuk menjadi “budak” sang pengusaha yang juga berlabel penguasa itu.

Tentang penggambaran tersebut, Jakob Oetama selaku pendiri Kompas Gramedia pernah berpesan, “Kemerdekaan Pers jangan hanya mengutamakan freedom from, tetapi juga harus diimbangi freedom for, yaitu kemerdekaan Pers untuk rakyat. Membela kepentingan rakyat sudah jadi naluri dan nurani wartawan di mana-mana.”

Jujur, pesan Jakob Oetama tersebut secara kebetulan menjadi motivasi saya mencintai profesi sebagai wartawan yang saya tekuni sejak tahun 1990-an. Di samping itu, saya juga punya ideologi (pandangan) dan alasan tersendiri mengapa harus memilih “hidup” sebagai seorang wartawan yang saya yakini sebagai pekerjaan yang sangat mulia itu.

Menurut pandangan saya, bekerja dalam penerbitan media massa ibarat melakukan “pekerjaan seperti yang dilakukan oleh nabi-nabi”, yakni sama-sama menyebarkan dan menyampaikan “ayat-ayat” kebenaran untuk menjadi manfaat bagi seluruh makhluk. Bedanya, nabi-nabi menuliskan “kebenaran” itu di dalam sebuah media yang disebut kitab (Kitab kaum Islam disebut Quran, bahasa Inggrisnya adalah Koran), dan para nabi itulah yang bertindak sebagai “pemimpin redaksi” atas kitab masing-masing.

Perbedaan lainnya, para nabi menerbitkan kitab (medianya) hanya dalam sekali periodik penerbitan, selanjutnya akan terus dicetak dalam jumlah oplah yang tak terbatas. Sedangkan para penerbit media massa (cetak) punya priodik penerbitan yang bervariasi (harian, mingguan, bulanan, dan sebagainya). Tetapi, yang menjadi inti dalam hal ini adalah hendaknya sebagai insan Pers ataupun pemilik media massa untuk selalu memberi “petunjuk” ke arah kebenaran, bukan pembenaran menurut selera dan rekayasa dari kelompok tertentu yang justru akan memunculkan tragedi-tragedi baru yang mengenaskan dan juga menjerat korban-korban yang tak bersalah.

Jadi, bekerja sebagai insan Pers sesungguh memang sangatlah mulia jika dilakukan dengan benar. Sebaliknya, akan menjadi pekerjaan yang sangat dilaknat Tuhan apabila media massa dijadikan sebagai alat kekuasaan untuk melakukan penzaliman terhadap individu atau kelompok yang memperjuangkan kebenaran.

Ada kutipan pesan menarik dari mantan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Al-Ahram terbitan Kairo-Mesir, Dr. H. Hassan Albanna, bahwa: ‘’the job of journalist is not for hunting news only, but how to save the people’’ (tugas utama seorang wartawan sejati, bukan hanya mampu memburu berita, tapi harus juga dapat menyelamatkan orang-orang,– yang teraniaya).

Bahkan mantan Pemred PosKota, H. Sofyan Lubis (almarhum), pernah secara tegas melontarkan sindiran keras kepada para pemilik media massa agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya sebagai insan Pers. Ia mengatakan, bahwa Pers Indonesia jangan sampai menjadi ‘’centeng’’ (anjing penjaga malam) buat para pejabat rakus, ataupun ‘’pelacur’ buat penguasa dan pengusaha.

H. Sofyan Lubis yang juga mantan Ketua Umum PWI Pusat itu mengajak Pers Nasional agar tidak segan-segan menjalankan kontrol sosial dengan tajam, transparan, akurat namun berimbang. Karena, katanya, Pers juga berfungsi sebagai pengawal nilai-nilai kebenaran, bukan pelindung kejahatan terselubung, atau menjadi alat propaganda yang bombaptis, sesat dan menyesatkan informasi yang hakiki.

Cover both side dan croos check, buat menjaga kemuliaan sejati seorang wartawan, adalah hendaknya wajib dijadikan sebuah prinsip untuk tetap dijunjung tinggi dan dipertahankan. Sehingga, nantinya tidak melahirkan opini keliru, dimana seringkali ‘ber­naung’ di bawah ketiak pemilik sebuah media raksasa.

Suatu berita yang tidak memenuhi prinsip cover both side yang disusun oleh jurnalis tidak ada bedanya membangun reality in imagination (kenyataan dalam imajinasi), bukan real in reality (nyata dalam kenyataan). Berita yang disusun berdasar reality in imagination rata-rata lebih merupakan pekerjaan kehumasan, bukan jurnalistik.

Sehingganya, jika suatu media banyak gagal melakukan cover both side karena mungkin media tersebut sangat sulit lepas dan bebas dari kepentingan pemilik yang memihak pada kelompok tertentu, maka media massa tersebut hanya sebatas sebagai media pengawal aspirasi dan penyambung lidah sang pemilik. Dan media seperti ini lebih pantas dinamai sebagai media humas yang bertugas hanya untuk memenuhi kepentingan pemilik.

Padahal bila peran dan fungsi media massa atau Pers bila dilaksanakan dengan benar, maka akan membawa manfaat dan kemajuan besar bagi negeri ini. Saya justru membayangkan, betapa dahsyatnya jika para pemilik media dapat bersatu dan kompak untuk tidak memberitakan atau menulis “ide-ide” dari oknum-oknum pejabat pemerintahan atau siapa saja yang nyata-nyata telah terindikasi melakukan pelanggaran, baik sebagai koruptor maupun kejahatan-kejahatan lainnya.

Sebagai kesimpulan dari saya, bahwa suatu negara yang dianggap telah rusak sebenarnya masih bisa menjadi baik (bahkan maju dan berkembang) apabila negara tersebut mendapat “asuhan” dari elite-elite dan juga media-media massa yang baik dengan berani tampil (seperti Rizal Ramli) dalam membela kepentingan umum.

Sebaliknya, Elite-elite dan juga media-media massa yang dianggap telah “rusak” (mental dan moralnya) karena melakukan kegiatan yang merugikan bangsa dan negara hanya akan melahirkan generasi-generasi yang rusak pula, salah satunya rusak karena “melacur” (menjual diri, bangsa dan negaranya) demi kepentingan kelompok tertentu. Jadi waspada… dan waspadalah!!!

http://abdulmuissyam.blogspot.co.id/…/waspadai-pers-pelacur…


Leave a comment

proxy war by freeport in indonesia?

Kronologi Pertemuan Keluarga JK dengan Bos Freeport

Asal usul Freeport mengapa melakukan eksplorasi, penambangan dan pengerukan, pengangkutan serta perampokan barang tambang di Indonesia yang semula misterius sedikit demi sedikit mulai terkuak. Mereka banyak melakuakan lobi, terutama terhadap para pejabat Orde Baru (New Order). Sebelumnya terhadap Orde Lama tak berhasil, sebab Bung Karno sangat hati-hati terhadap keinginan asing, terutama Amerika. Pada rezim Orde Baru mereka bisa masuk, setelah Bung Karno tumbang, tahun 1966-1967.

Sejak Orde Baru hingga kini asing banyak menguasai kekayaan tambang Indonesia, dengan perjanjian yang tak jelas. Ketidakjelasan ini berlanjut sebab mereka melobi dan menyuap para pejabat yang dengan mudah dibodohi kaum asing.

Kini, paska Orde Baru mereka melakukan hal sama, namun zaman telah berubah. Oleh karena itu mereka menggunakan pihak ketiga, yakni orang dalam sendiri yang memahami peta politik dan kawasan Indonesia, yang mau diajak kerja sama dan berkhianat kepada negara. Siapa mereka? Para antek asing yang sudah diberi uang atau pernah dibantu atau dibiayai asing. ‘Tidak ada makan siang gratis bukan?’

Freeport dari Amerika salah satunya, dan banyak korporasi lainnya. Melalui Presiden direkturnya, para pejabat Indonesia diadu domba, antara pejabat legislatif (DPR) dan eksekutif (menteri ESDEM), dengan menyiarkan sadapan pembicaraan ke media. Dalam rekaman yang terdiri 3 orang, PRESDIR Freeport sebagai perekam, SN, MR tak ada kesepakatan apapun, hanya seperti orang ‘ngobrol’.

Kasusnya sedang ditangani MKD (majelis kehormatan dewan) dan lemabaga lain. Namun, hingga kini belum jelas ujung pangkalnnya. SN  mendahului hasil keputusan sidang MKD. Sebagaimana banyak diberitakan di media massa.

Gaduh politk itu sengaja diciptakan agar perhatian masyarakat beralih ke kasus perseteruan para elit, dan bukannya pelanggaran Freeport  yang luar biasa, yang melakukan pengerukan, pencemaran lingkungan dengan limbah, pemiskinan dan pelanggaran konstitusi negara Indonesia (Pasal 33 UUD 1945) dan banyak lagi. Dengan politik yang kacau mereka bisa leluasa untuk memuluskan dan memetik keinginan mereka, yakni eksploitasi tambang emas, perak, tembaga untuk kemakmuran Amerika.

Jika mudah diadu domba dan tidak bersatu maka kehancuran akan menanti….

Nusantara, 14-12-2015

rujukan

dari berbagai sumber


Leave a comment

Liberalisasi Perbankan Para Ekonom Ikuti Titah Siapa? IMF, …

Para pejabat ekonom Indonesia berpikiran aneh! Mereka selalu mengekor apa kata IMF dan lembaga asing sejenis untuk liberaliasi keuangan. Keanehan dan keberpihakan kepada asing tercermin pada kebijakan yang bebas memberi izin perbankkan asing 100 % beroperasi di Indonesia tanpa ada jaringan aturan ketat.

“Bank bank asing dengan sangat bebas beroperasi Indonesia, dan asing boleh memiliki 100% saham di pasar modal”, kata Faisal H Basri. 1 (h. 376)

_________________

1. Ishak Rafick, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Ufuk PH


Leave a comment

Indonesia Negara Kaya yang Salah Urus (Indonesia is the Rich Country with Error Managemant)

Apakah Indonesia negara miskin akan sumber daya alam? Jawabannya tidak. Indonesia sangat kaya. Dari segi sejarah saja dapat dilihat. Mengapa banyak para penjajah perampok Barat menjarah negeri ini, mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Jepang (timur) dan Amerika cs!

Untuk apa mereka datang ke wilayah Indonesia? Tak lain tak bukan, hanya untuk mengeruk dan merampok kekayaan alamnya! Untuk membangun kemegahan dan kesejahteraan negara mereka, maka di negara dimana kekayaan alam dikeruk rakyatnya sangat miskin!

Oleh karena penjajahan itu maka rakyat melawan seperti raja-raja, lalu Bung Karno dan kawan-kawan hingga merdeka 17 Agustus 1945-49. Merdeka akhirnya menjadi kenyataan setelah sekian lama berjuang. Namun, ketika Bung Karno tersingkir dari kekuasaannya, rakyat sesungguhnya masuk ke dalam penjajaha baru atau neokolonialisme, menurut istilah Bung Karno. Ini yang sulit dilawan, sebab mereka terdiri dari orang pribumi sendiri yang menghambakan diri (dijadikan budak) kepada asing!

Lihat saja kebijakan semasa Orde Baru hingga kini memiskinkan rakyat secara sistematis. Ekonomi hanya menyejahterakan kelompok kecil, asing dan aseng! Rakyat justru ditekan, diintimidasi dan dimarjinalkan oleh mesin politik budak asing!! Kekayaan alam Indonesia dikuasai asing, sekitar 80%. Sebut saja yang terbear, Freeport, Exxon, Newmont, Chevron, dll.

Jadi setelah sekian tahun merdeka (70 tahun ) apa yang diharapkan rakyat Indonesia? Kenyataan hidup yang dihadapi rakyat semakin menjauh dari cita-cita yang ditorehkan para Bapak bangsa, seperti dalam Pancasila, yakni keadilan dan kesejahteraan!

Jika para pemimpin dan elitnya bermain-main dengan masa depan bangsa ini maka siap-siaplah akan datang masa kehancuran…!

Hasil gambar untuk exxon

Nusantara, 1-7-2015

anak bangsa


Leave a comment

R Somarno Agen Ganda Asing?

Langkah Menteri BUMN Rini Soemarno membangun pusat data pemerintah di Singapura dinilai sebagai langkah blunder. Langkah Menteri Rini akan membuat Indonesia mudah ditelanjangi.

“Dengan begitu akan terjadi sabotase, data-data penting yang berhubungan dengan kepentingan nasional akan jebol. Akan dengan mudah Singapura mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia, bahkan percakapan Presiden Jokowi yang bersifat top secret sekalipun. Tentu saja semua data ini bisa dijual ke negara lain atau digunakan oleh Singapura,” ujar Sekjen FSP BUMN Bersatu Tri Sasono kepada RMOL (16/6).

Menurut dia, dengan adanya pusat data base informasi E-Goverment di Singapura membuktikan kalau Rini Sumarno merupakan agen ganda yang ada dipemerintahan Jokowi.

Lebih lanjut dikatakan dia, keputusan Rini menyerahkan proyek E-Government kepada Singapura melalui kerjasama Telkom dan Singtel tidak bisa disebut sebagai langkah korporasi. Tetapi merupakan tindakan membantu intelijen asing dalam menguasai, memata-matai, dan memporak-porandakan negara.

“Tindakan Rini dapat dikatagorikan sebagai pengkhianatan terhadap negara. Dia menjual rahasia negara secara legal melalui mekanisme bisnis dan karena itu Menteri Rini harus ditangkap,” tukas Tri Sasono.(rz-em)