boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


1 Comment

Cinta Indonesia, Bukan Hanya Dalam Kata…

Image result for harian indonesia raya

Siapakah orang yang disebut sebagai cinta Indonesia, bangsa, bahasa dan tanah airnya. Dahulu pada tahun 1928 pernyataan cinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dicetuskan oleh para pemuda, beragam suku dan bahasa mereka. Pernyataan itu yang semula dari letupan ide yang kemudian dinyataakan dalam sikap (politik) bersama untuk identitas bangsa ini.

Pernyataan para pemuda itu lalu diperkuat lagi dengan deklarasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tahun 1945 (17 Agustus) secara de fakto dan tahun 1949 secara de jure ketika penjajah mengakui bahwa Indonesia menjadi negara berdaulat. (MC Riclefs)

Itulah catatan sejarah.

Lalu dimanakah orang-orang yang mengaku cinta Indonesia dan kebhinekaan ketika itu berada dan bersikap terhadap cengkraman kekuasaan kaum penjajah barat? Siapa sajakah mereka yang telah berjuang? Apa orientasi hati dan pikiran mereka, membela penjajah atau menolaknya?

Mereka ada yang berjuang angkat senjata juga dengan diplomasi. Mereka melawan dengan pena, seperti wartawan dan penulis. Juga ada melalui pendidikan (mandiri). Dan bermacam-macam tapi tentu tujuannya sama, merdeka dan berdaulat!

Saat ini, mereka yang berjuang telah lama wafat, dan tinggal keturunan ke sekian dari para pahlawan itu. Anak biologis para pendahulu belum tentu mewarisi ideologi para pejuang itu, tapi justru malah mengkhianatinya. Lalu jika saat ini ada banyak orang yang mengkalim diri menyintai Indonesia dan kebhinekaan, apakah benar begitu? Bergantung kata atau ucapan, perilaku dan hasilnya apa.

Jika penguasa berjanji, menebar janji tapi penerapan janji itu berlainan, tidak ditepati (ingkar janji) dan bahkan melenceng dari konstitusi negara ini–untuk keadilan dan kesejahteraan–apakah mereka masih dapat disebut sebagai cintai Indonesia (NKRI)? Termasuk individu dan kelompok? Apalagi jika mereka hanya mencari peluang untuk memburu materi termasuk kekuasaan –di belakang layar– bisa dikatakan menyintai Indonesia?

Kita tahu jenis manusia apa kita atau mereka bergantung pada track record dan kelanjutan dari itu (konsistensi)…

Nusantara, 23-1-2017

warga


Leave a comment

Cuplikan Dialog Rachmawati…


(RM):Kenapa Anda ngotot untuk kembali ke UUD 1945?

 

(RS):Di dalam proses amandemen banyak pelanggaran-pelang­garan dari tahun 1999-2002. Pertama, tidak melalui proses referendum. Pendapat rakyat harus ditanyakan dulu.

Kedua, amandemen itu hanya berupa risalah rapat anggota MPR, tidak dicatatkan di dalam lembaran berita negara.

Ketiga, bahan atau draf yang sudah ada disiapkan oleh kon­sultan asing, NDI, dari AS, National Democrat Institute, Jimmy Carter.

Keempat, memanipulasi pena­maan dengan istilah UUD 1945, padahal isinya sudah berubah sama sekali. Jadi orang terjebak dengan kosakata UUD 1945.

Perubahan yang dilakukan empat kali itu sudah cukup memberikan arti bahwa UU kita sudah bukan UUD 1945.

Sebetulnya, kalau di dalam ketentuan, perubahan tidak perlu dengan amandemen, tapi dengan istilahnya adendum. Amandemen kelima, memberi­kan kewenangan kepada MPR untuk membuat GBHN. Itu membuka peluang amandemen-amandemen berikutnya.

(rm/19/12/2016)


Leave a comment

penguasa arogan

Hasil gambar untuk penguasa arogan

Penguasa arogan akan terjerembab bersama singgasananya. Walaupun saat ini adalah zaman akhir atau disebut modern, hal itu seperti sesuatu yang wajar terjadi dalam perjalanan sejarah naik turunnya para penguasa.

Seorang penguasa disebut arogan bukan hanya dilihat karakter pribadinya namun kebijakannya yang mendzalimi rakyat. Semisal Hitler yang banyak mengorbankan rakyat dalam Perang Dunia II. Banyak contoh yang lainnya baik di zaman kuno dan di zaman sekarang.

Di negara ini pun memiliki banyak contohnya.

Dulu ada raja Nusantara walau berjubah negara modern (nation state). Otoritas titah ada di tangannya, siapa yang dianggap musuh harus dilenyapkan dan siapa yang dianggap kawan atau lawan yang perlu dicurigai.

Di wilayah yang lebih kecil setingkat gubernur pun demikian. Penguasa itu memaki rakyat di muka umum, membentak dan menantang siapa saja yang dianggap musuh. Sepertinya ia mengidap stress, atau kata tetangganya, psikopat.

Jika memang seperti itu apakah penguasa itu mampu menanggung amanat yang tertulis dalam konstitusi negara ini?! Rasanya tidak. Sebab ia memiliki agenda untuk membela siapa yang membiayai dalam banyak hal, yang disebut mafia. Mereka membuat pulau tersendiri dan sementara rakyat banya dipinggirkan yang berimbas pada kehidupan ekonomi mereka.

Kelompok ini dalam catatan sejarah negeri ini banyak yang berkhianat di zaman kemerdekaan, mereka membela penjajah barat, Belanda, dan Eropa lainnya. Hanya bagian kecil yang setia untuk merdeka. Kini, mereka ingin menguasai banyak hal.

Rakyat harus melawan!

Nusantara, 4 Oktober 2015

suara warga


3 Comments

Vietnam Mengusir Keturunan Cina Karena Rakus, Sombong, Pelit, Serakah

HANOI – Di Vietnam
meledak gerakan anti Cina. Rakyat
Vietnam sudah muak dan jijik
dengan pendatang Cina, yang
menjadi parasit, bahkan mereka
mulai mau menjajah negeri Vietnam.
Berbagai sektor mereka kuasai. Inilah
yang menjadi faktor meledaknya
gerakan anti- Cina di Vietnam yang
semakin besar.

Kondisi ini yang
mendorong Beijing bertindak cepat
menyelamatkan warganya. Lima
kapal angkut dikirim mengevakuasi
warga keturunan Cina dari negara
Asia Tenggara itu.
Sudah satu kapal yang tiba
membawa pulang tiga ribu warga
Cina di Vietnam. Satu kapal itu
diberangkatkan dari Provinsi Hainan
kemarin (18/5).

Tak hanya melalui jalur laut,
pemerintah Cina juga bergerak cepat
lewat udara. Menggunakan pesawat
carter, 16 warganya yang dalam
kondisi kritis akibat aksi kekerasan
demonstran anti-Cina diterbangkan
keluar Vietnam.

Akibat kerusuhan yang pecah
pertengahan akhir pekan lalu, dua
warga Cina tewas. Seratus lainnya
dikabarkan cedera. Beberapa insiden
kekerasan terparah terjadi di Provinsi
Ha Tinh, pantai tengah Vietnam.
Perusahaan asing, khususnya yang
dikelola warga Cina dan Taiwan,
dibakar, dijarah, serta dirusak para
demonstran.

Kemarahan mereka
dipicu oleh langkah Beijing
membangun kilang minyak dan
menyiagakan perlengkapan
pengeboran di Laut Cina Selatan yang
diklaim kedua negara sebagai
wilayah teritorialnya.
Demonstrasi yang berujung
kerusuhan itu diawali dari dibukanya
keran protes anti-Cina oleh
pemerintah Vietnam 11 Mei lalu.

Padahal, sebelumnya demonstrasi
dilarang di negeri komunis itu.
Kebijakan itu berbuntut blunder
karena demonstrasi semakin tak
terkendali dan melibatkan tokoh-
tokoh oposisi di dalam negeri
Vietnam.

Akhirnya Sabtu (17/5) pemerintah
Hanoi mengirimkan pesan berantai
kepada seluruh pengguna telepon
seluler. Isinya bahwa Perdana
Menteri Nguyen Tan Dung
memperingatkan warganya untuk
tidak terlibat dalam demonstrasi
ilegal, karena dianggap mengganggu
ketenteraman publik.
Menteri Keamanan Publik Tran Dai
Quang seperti dikutip VNA Sabtu
(17/5) menyayangkan penyerangan
terhadap warga Tionghoa di
Vietnam. Puluhan polisi juga terluka
saat berupaya mengendalikan
kemarahan massa.

Meski demikian, situasi di Laut Cina
Selatan tetap saja panas. Kedua pihak
belum memperlihatkan tanda-tanda
menarik diri untuk meredam
ketegangan. VNA melansir Cina terus
memperlihatkan agresivitasnya
dengan mengirim lebih banyak kapal
perang ke wilayah dekat pengeboran
minyak. Vietnam mendesak Cina
segera menarik fasilitas kilangnya
dari wilayah sengketa.

Nguyen Van Trunng, petugas di
Departemen Pengawas Maritim
menyatakan, Cina menempatkan 119
kapal di wilayah sengketa pada Sabtu
pagi. Armada tersebut termasuk
kapal perang, patroli laut, dan kapal
nelayan. Beberapa di antaranya
bahkan memprovokasi dengan
menabrak kapal Vietnam dan
menembakinya dengan meriam air.

Cina punya pendapat sendiri soal
pendirian sikapnya. Beijing
menyatakan, tindakannya adalah
respons dari provokasi kapal
Vietnam yang mengganggu
operasional pengeboran minyak
lepas pantai.
Beijing menyatakan telah
memberlakukan “zona pengusiran”
dengan radius tiga mil dari sekitar
kilang. Kilang itu dikelola perusahaan
migas negara CNOOC.

“Kami tidak menciptakan masalah,
tapi kami tidak takut menghadapi
masalah ini,” tegas Jenderal Fang
Fenghui, kepala staf jenderal Tentara
Pembebasan Rakyat Tiongkong (PLA),
Kamis (15/5) saat melawat ke
Amerika Serikat.

“Kalau menyangkut teritori, sikap
kami tegas. Kami tidak akan mundur
satu langkah pun,” tandas Fang.
Beijing juga menyatakan akan
meninjau ulang sejumlah kerja sama
bilateral kedua negara. Selain itu,
travel warning dikeluarkan untuk
warga Tiongkok yang akan
berkunjung ke Vietnam.

KTT ASEAN pertengahan Mei lalu juga
membahas secara khusus sengketa
wilayah di Laut China Selatan yang
melibatkan Filipina, Vietnam, Malaysia,
Brunei Darussalam, Taiwan, dan
Tiongkok tersebut.

Namun, perhimpunan bangsa Asia
Tenggara itu tidak mengambil
langkah frontal karena ingin menjaga
hubungan baik dengan Negeri Tirai
Bambu tersebut. Alhasil, tidak ada
sikap tegas dari ASEAN untuk
bernegosiasi dengan Beijing.

Cina terus melakukan langkah-
langkah agresifitasnya dan ingin
memperluas pengaruhnya militer ke
Cina Selatan. Tindakan pemerintah
Cina ini menimbulkan sentimen anti
Cina. Termasuk aksi menentang
penguasaan oleh berbagai
perusahan Cina di Vietnam.

Kondisi di Vietnam sama dengan di
Indonesia, dimana kelompok
komunitas melakukan penguasaan
terhadap sumber-sumber ekonom
Indonesia. Di mana konglomerat
Cina sudah menguasai 85 persen
ekonomi Indonesia. Kapan di
Indonesia lahir gerakan anti Cina?

(Copi paste dari tetangga, 2014)


Leave a comment

garuda dalam ancaman naga?

Kebijakan pemerintah Indonesia saat ini yang membuka kran investasi untuk negara-negara lain di negara ini sebenarnya ada postitif dan juga negatif dan bahkan destruktif. Positif jika investasi itu dikendalikan dengan aturan main yang jelas, lugas dan tegas, namun jika aturannya tidak jelas maka akan menjadi rusak.

Dari berbagai berita beberapa tahun belakangan ketika investasi dari Cina mengalir deras ke negara ini, di antaranya Proyek Kereta Cepat, bersamaan dengan itu banyak tenaga ilegal dari negara investor berdatangan. Apakah ini insiden ataukah ada program sistematis? Jika hal itu dibiarkan dan tak diselesaikan akan menjadi bom waktu antara pribumi dan pendatang. Para tenaga kerja pribumi saja beberapa tahun terakhir banyak yang dipecat atau PHK (putus hubungan kerja). Serbuan tenaga kerja asing itu akan menimbulkan persoalan sosial.

Berkaca kepada bebrapa negara Asia Tenggara yang melakukan hal sama kita perlu hati-hati soal investasi dari Cina dan dampak ikutannya. Sebab Cina ini jika melakukan investasi banyak tenaga dari negaranya juga dibawa serta. Lalu kaum pribumi dimana investasi ditanam mau apa? Oleh karena itu ada beberapa negara ASEAN yang berhati-hati dan bahkan menghentikan bentuk investasi gaya Cina.

Apapun namanya untuk melakukan kerjasama dengan negara lain pemerintah perlu berhati-hati agar Indonesia tak merugi dan merugi lagi….

Dan jika pekerja ilegal Cina dibiarkan masuk tanpa kendali maka Era Jokowi telah menanam bom waktu yang akan siap meledak, ledakan sosial. Hal itu telah ada contohnya dalam sejarah Indonesia sendiri!

Tengoklah sejarah bangsa ini agar bijak menatap masa depan!!

anak bangsa

Nusantara, 16 Mei 2016


1 Comment

choose the humanist leader

Mencari pemimpin tidaklah mudah. Apalagi pemimpin yang humanis, patut dicontoh baik pikirannya maupun perilakunya. Tapi mendapatkan penguasa amatlah banyak, berserakan.

Memilih pemimpin yang humanis akan lebih baik daripada pemimpin yang membentak, memaki dan menghardik rakyat, sementara the have (yang membela dengan modal) dibela, demi alasan ketertiban. Tentu kita tak boleh tertipu penampilan yang dibentuk media. Penguasa dulu, sebelum reformasi terlihat seperti santun, tapi dibalik itu, menggunakan bahasa “gebuk” untuk membungkam para lawan politik atau yang kontra pemerintah.

Saat ini mengebuk rakyat kecil dengan peraturan, untuk ketertiban. Ketertiban harus ditata semua orang setuju, namun keadilan (ekonomi) pun perlu disertakan. Jika keadilan ekonomi minus akan terjadi ledakan sosial, atau mungkin revolusi sosial. Sebab yang diuntungkan hanya kalangan tertentu, padahal mereka para pengutil, pengemplang dan pembobol uang negara (ingat kasus Edi Tanzil 1,3 T, BLBI 600 T, Century 6,7 T dll).

Tertib secara fisik, terlihat mata, memang perlu, tapi itu harus lahir dari pikiran yang tertib yang menghasilkan kata-kata yang santun. Sama halnya dengan orang tua yang bertujuan baik mendidik anaknya, tapi yang keluar adalah kata-kata kasar dan sarkasme?!

Tentu anak tak akan terima. Sama dengan rakyat yang dipimpin. Seorang pemimpin adalah figur yang dapat dicontoh, baik pikirannya maupun perilakunya (termasuk kata-kata atau ucapannya).

Kita sebagai bangsa dalam melihat pemimpin dapat berkaca pada sejarah dunia, termasuk sejarah Indonesia, dan penguasa yang kini sedang menjabat.

Nusantara, 31-3-2016