boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

penguasa arogan

Hasil gambar untuk penguasa arogan

Penguasa arogan akan terjerembab bersama singgasananya. Walaupun saat ini adalah zaman akhir atau disebut modern, hal itu seperti sesuatu yang wajar terjadi dalam perjalanan sejarah naik turunnya para penguasa.

Seorang penguasa disebut arogan bukan hanya dilihat karakter pribadinya namun kebijakannya yang mendzalimi rakyat. Semisal Hitler yang banyak mengorbankan rakyat dalam Perang Dunia II. Banyak contoh yang lainnya baik di zaman kuno dan di zaman sekarang.

Di negara ini pun memiliki banyak contohnya.

Dulu ada raja Nusantara walau berjubah negara modern (nation state). Otoritas titah ada di tangannya, siapa yang dianggap musuh harus dilenyapkan dan siapa yang dianggap kawan atau lawan yang perlu dicurigai.

Di wilayah yang lebih kecil setingkat gubernur pun demikian. Penguasa itu memaki rakyat di muka umum, membentak dan menantang siapa saja yang dianggap musuh. Sepertinya ia mengidap stress, atau kata tetangganya, psikopat.

Jika memang seperti itu apakah penguasa itu mampu menanggung amanat yang tertulis dalam konstitusi negara ini?! Rasanya tidak. Sebab ia memiliki agenda untuk membela siapa yang membiayai dalam banyak hal, yang disebut mafia. Mereka membuat pulau tersendiri dan sementara rakyat banya dipinggirkan yang berimbas pada kehidupan ekonomi mereka.

Kelompok ini dalam catatan sejarah negeri ini banyak yang berkhianat di zaman kemerdekaan, mereka membela penjajah barat, Belanda, dan Eropa lainnya. Hanya bagian kecil yang setia untuk merdeka. Kini, mereka ingin menguasai banyak hal.

Rakyat harus melawan!

Nusantara, 4 Oktober 2015

suara warga


Leave a comment

haluan partai itu telah berubah

Hasil gambar untuk kartun banteng menyeruduk rakyat

Partai yang mendeklarasikan diri sebagai partai wong cilik dan selama ini partai itu mengklaim dirinya sebagai partai rakyat kecil ternyata hanya sebatas slogan, sebab ia kini telah menjelma menjadi partai yang mengusung penguasa pro kapitalis asing dan aseng.

Tapi itulah politik, yang bisa berubah sesuai dengan kepentingan. Yang kata orang dalam partai “tak ada musuh abadi tapi yang ada adalah kepentingan abadi.”

Walaupun dalam politik selalu dinamis namun selayaknya berkaca pada sejarah bangsa ini, bagaimana para pendahulu membuat partai dan mengembangkannya? Berbagai pemikiran mereka direkam para sejarawan politik. Saat itu Bung Karno, Hatta, Agus Salim, dll menjadikan partai sebagai alat perjuangan untuk membebaskan bangsa ini dari  penjajahan. Cengkraman penjajahan oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Jepang, Sekutu dan sejenisnya membuat bangsa ini tidak mandiri dan hanya dijadikan budak.

Apakah partai-partai setelah masa panjang itu hanya untuk mengejar kekuasaan semata tanpa tujuan untuk membebaskan bangsa ini dari penindasan kaum penjajah baru (kapitalis)? Memang ada sebagian yang masih mengikuti idealisme para pendahulu bangsa ini, namun sebagiannya ide para pendahulu itu hanya dijadikan pajangan.

Ide para penduhulu yang hanya dijadikan pajangan oleh partai tentu terbaca oleh rakyat. Rakyat yang telah belajar akan memlilih partai secara rasional, yang membela kepentingan mereka untuk keadilan dan kesejahteraan.

Bukankah selama bangsa ini merdeka rakyat selama itu pula  terabaikan..??!

Nusantara, 22 September 2016

suara warga


Leave a comment

haus kekuasaan

Image result for orang berteriak

Orang yang kehausan biasanya akan meminum apa saja yang ada didekatnya sampai hausnya hilang. Tapi jika itu “haus kekuasaan” bagaimana mengatasinya. Tentu seseorang akan meraihnya dengan cara apapun untuk memenuhi hasrat itu. Apakah orang yang haus kekuasaan dapat dilihat dari model tubuhnya atau mungkin bentuk wajahnya? Agaknya tak bisa dilihat dengan cara itu.

Orang-orang jenis ini akan terlihat jika ditelisik jejak langkahnya (track record) semasa sebelum menjadi penguasa. Jika orang itu kelihatan mukanya sangar belum tentu ia seorang yang “haus kekuasaan” dan bisa sebaliknya. Juga orang yang kalem ternyata haus kekuasaan dan bahkan bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin”.  Jadi, dari segi bentuk fisik banyak kemungkinannya.

Pada masa lalu bangsa ini memiliki penguasa yang kelihatan kalem, jika marah tak pernah ditunjukkannya dan hanya mengatakan gebuk. Kata gebuk ternyata dalam sejarah politik bangsa ini begitu nyata dan menjadi trauma hingga kini. Sampai kini para pendukungnya aman sebab menyembunyikan identitas mereka atau menyamar menjadi orang baru. Atau istilah lainnya “orang lama kostum baru”.

Kini, setelah reformasi, orang-orang yang haus kekuasaan bergentayangan dan didukung oleh kekuatan lama yang dulu menjadi pendukung rezim otoriter. Kelihatan kalem dan tak mau berkuasa, namun berkali-kali khianati janjinya kepada rakyat, ketika ia menduduki kursi kekuasaan baru sebentar sudah berhenti dan pindah ke kursi yang lebih tingg dan begitu hingga ia menduduki jabatan tertinggi. Mengapa bisa terjadi? Begitulah rekayasa politik kekuatan lama yang ingin berkuasa dari balik layar.

Juga sesorang yang selalu berkata tidak haus kekuasaan tapi berkhianat meminggirkan rakyat yang semestinya dibelanya.

Semua itu hanya dilihat dari jejak langkah ketika mereka meraih kekuasaan dan apa yang diperbuat saat berkuasa. Jejak langkah mereka terbaca ‘siapa sesungguhnya mereka’? (meminjam istilah tetralogi Pram)

Image result for kursi kekuasaan

Nusantara, 13 September 2016

warga


Leave a comment

teman kita berucap apa

Jika seseorang dianggap teman maka apa yang ia katakan akan kita terima dengan senang hati, tak peduli kata yang ia ucapkan itu baik, buruk, atau tak sopan dan dengan nada apapun. Tapi jika seseorang sudah bukan dianggap teman kata-kata baik pun kadang disalahartikan dan apalagi jika kata-kata itu tak sopan atau kata orang disebut “songong“.

Memang, sebaiknya kita jangan memandang siapa berbicara tapi apa yang diucapkannnya. Namun, hal itu sering kali tidak berlaku dalam keseharian. Baik itu dalam masyarakat umum maupun dalam komunikasi dunia politik.

Kata-kata yang jelas dan terang tidak sopan diucapkan dimuka umum sudah pasti dianggat tak etis. Tapi akan dianggap biasa ketika yang mengucapkan seseorang yang dianggap teman kita.

Orang diluar sana memakai pepatah, “undzur maa qaala wa laa tandzur man qaala” *lihatlah apa yang diucapkan dan jangan lihat siapa yang mengucapkan. Tapi kenyataannya sulit hal itu kita terima, atau mungkin oleh sebagian kita.

Jadi itulah kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kita secara umum dan dalam dunia politik. Tentu ada orang yang masih memegang teguh prinsip etis, antara kata dan perbuatan menyatu atau antara maksud dan ucapan sesuai.

nusantara, 31-8-2016

warga


Leave a comment

Doa… Untuk Bangsa (Pray For Our Nation)

Hasil gambar untuk bendera merah putih

Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir ya Allah.

Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Nuh bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu.

Biarlah kehidupan ekonomi kami, Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah. Bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami. ya rabbal alamin.

Kehidupan sosial budaya, seperti kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya. kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika bangsa lain menyerang bangsa kami. Ya rahman ya rahim tapi kami masih percaya kepadaMu, bahwa kami masih menadahkan tangan kepadamu artinya engkau adalah Tuhan kami, Engkau adalah Allah YME.

Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat.


Leave a comment

berpolitik tanpa basis ideologi

Jika kita melihat sejarah sejenak betapa para politisi zaman Bung Karno konsisten dengan basis ideologi yang mereka pegang. Dengan basis itu mereka tak gampang untuk loncat ke partai yang basis ideologinya berbeda atau sangat kontras. Dengan konsistensi itu perjuangan mereka jelas terbaca.

Namun di zaman Orde Baru pragmatisme politik begitu kental. Asal tujuan jangka pendek tercapai tak masalah politisi loncat sana loncat sini, atau istilah orang menyebut “kutu loncat”. Tentu, tak ada aturan tertulis harus konsisten dalam ideologi.

Tapi melihat kondisi seperti itu perjuangan politik menjadi tidak jelas arahnya. Sebab, gampang berubah sesuai arah angin. Penomena itu bukan hanya terjadi di tingkat daerah bahkan pada level nasional pun terjadi.

Apakah politik angin anginan itu menguntungkan rakyat? Saya cenderung berpendapat bahwa model perilaku politik yang tak konsisten semacam itu merugikan rakyat, sebab labil, mudah terbeli dan tentu saja bisa berubah-ubah seperti bermain-main dalam berpolitik.

Padahal beban bangsa ini begitu berat, setelah zaman Bung Karno berhasil membangun demokrasi dengan Pemilu 1955 lalu dibelokkan menjadi “Demokrasi Terpimpin”, yang disebut contradictio in terminis. Tapi Bung Karno masih memiliki wibawa di mata asing dan kita sebagai tuan dengan proses menjadi. Lalu muncul istilah “Demokrasi Pancasila” yang tak bukan hanyalah kamuflase otoritarianisme di zaman Orde Baru. Yang juga menjual nasib nagsa ini ke tangan asing dan kini ditambah ke tangan aseng.

Lengkaplah beban berat itu. Apakah nasib bangsa Indonesia seperempat atau setengah abad ke depan akan dipermainkan oleh para politisi dan para penguasa semacam itu? ….

Nusantara, 28 Juli 2016

warga

Sumber: Asvi W Adam, Ricklefs, Eef S Fatah, dll