boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


1 Comment

jika nasionalisme bola sebanding dengan nasionalisme kekayaan alam…

Hasil gambar untuk sepak bola

Kita tak usah membandingkan bola di sini dengan di sana. Yang sama adalah bulatnya, permainan dan manajemennya tentu yang berbeda dan segala yang berkaitan dengannya, baik bisnis maupun judi. Ini berkaitan dengan gairah nasionalisme sepak bola.

Sepak bola tentu memiliki dampak ekonomi, terutama bagi pemainnya dan bagi mereka yang secara langsung berkecimpung dan berkaitan dengannya. Tapi bagi rakyat secara umum hanyalah sebagai tontonan yang menghibur, apalagi jika pihak kita menang bisa tertawa gembira, namun jika kalah, sedihnya bukan main. Padahal sepak bola itu terlihat seperti hiasan di depan rumah, terlihat indah namun dampak bagi rakyat sedikit.

Jika saja nasionalisme sepak bola sama antusianya dengan nasionalisme terhadap kekayaan alam, alangkah makmurnya rakyat. Sebab untuk membangun fasilitas umum di negeri ini tek perlu dengan hutang dari rentenir dunia (Bank Dunia), tapi secara mandiri menggunakan dana dari hasil kekayaan alam sendiri.

Nasionalisme dalam sepak bola inilah yang terlihat kuat dalam diri generasi muda dan para pecinta sepak bola. Tentu nasionalisme sepak bola bagus dan alangkah lebih baik lagi jika nasionalime itu mengalir dan menjalar ke berbagai bidang lain yang selama ini dianggap biasa-biasa saja.

nusantara, 15 des 2016

suara warga


Leave a comment

haus kekuasaan

Image result for orang berteriak

Orang yang kehausan biasanya akan meminum apa saja yang ada didekatnya sampai hausnya hilang. Tapi jika itu “haus kekuasaan” bagaimana mengatasinya. Tentu seseorang akan meraihnya dengan cara apapun untuk memenuhi hasrat itu. Apakah orang yang haus kekuasaan dapat dilihat dari model tubuhnya atau mungkin bentuk wajahnya? Agaknya tak bisa dilihat dengan cara itu.

Orang-orang jenis ini akan terlihat jika ditelisik jejak langkahnya (track record) semasa sebelum menjadi penguasa. Jika orang itu kelihatan mukanya sangar belum tentu ia seorang yang “haus kekuasaan” dan bisa sebaliknya. Juga orang yang kalem ternyata haus kekuasaan dan bahkan bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin”.  Jadi, dari segi bentuk fisik banyak kemungkinannya.

Pada masa lalu bangsa ini memiliki penguasa yang kelihatan kalem, jika marah tak pernah ditunjukkannya dan hanya mengatakan gebuk. Kata gebuk ternyata dalam sejarah politik bangsa ini begitu nyata dan menjadi trauma hingga kini. Sampai kini para pendukungnya aman sebab menyembunyikan identitas mereka atau menyamar menjadi orang baru. Atau istilah lainnya “orang lama kostum baru”.

Kini, setelah reformasi, orang-orang yang haus kekuasaan bergentayangan dan didukung oleh kekuatan lama yang dulu menjadi pendukung rezim otoriter. Kelihatan kalem dan tak mau berkuasa, namun berkali-kali khianati janjinya kepada rakyat, ketika ia menduduki kursi kekuasaan baru sebentar sudah berhenti dan pindah ke kursi yang lebih tingg dan begitu hingga ia menduduki jabatan tertinggi. Mengapa bisa terjadi? Begitulah rekayasa politik kekuatan lama yang ingin berkuasa dari balik layar.

Juga sesorang yang selalu berkata tidak haus kekuasaan tapi berkhianat meminggirkan rakyat yang semestinya dibelanya.

Semua itu hanya dilihat dari jejak langkah ketika mereka meraih kekuasaan dan apa yang diperbuat saat berkuasa. Jejak langkah mereka terbaca ‘siapa sesungguhnya mereka’? (meminjam istilah tetralogi Pram)

Image result for kursi kekuasaan

Nusantara, 13 September 2016

warga


Leave a comment

teman kita berucap apa

Jika seseorang dianggap teman maka apa yang ia katakan akan kita terima dengan senang hati, tak peduli kata yang ia ucapkan itu baik, buruk, atau tak sopan dan dengan nada apapun. Tapi jika seseorang sudah bukan dianggap teman kata-kata baik pun kadang disalahartikan dan apalagi jika kata-kata itu tak sopan atau kata orang disebut “songong“.

Memang, sebaiknya kita jangan memandang siapa berbicara tapi apa yang diucapkannnya. Namun, hal itu sering kali tidak berlaku dalam keseharian. Baik itu dalam masyarakat umum maupun dalam komunikasi dunia politik.

Kata-kata yang jelas dan terang tidak sopan diucapkan dimuka umum sudah pasti dianggat tak etis. Tapi akan dianggap biasa ketika yang mengucapkan seseorang yang dianggap teman kita.

Orang diluar sana memakai pepatah, “undzur maa qaala wa laa tandzur man qaala” *lihatlah apa yang diucapkan dan jangan lihat siapa yang mengucapkan. Tapi kenyataannya sulit hal itu kita terima, atau mungkin oleh sebagian kita.

Jadi itulah kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kita secara umum dan dalam dunia politik. Tentu ada orang yang masih memegang teguh prinsip etis, antara kata dan perbuatan menyatu atau antara maksud dan ucapan sesuai.

nusantara, 31-8-2016

warga


Leave a comment

Jalan Rusak, Tanpa Drainese (saluran air)

Banyak jalan rusak di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia disebabkan tanpa drainese memadai untuk menyalurkan air hujan. Jika hujan deras dan melimpah arus air akan menggerus jalan sehingga cepat rusak. Akibat jalan rusak banyak hal terjadi.

Tapi jalan rusak tak hanya karena tanpa drainese, bisa akibat penggalian untuk kabel, pipa atau lainnya. Jalan yang sudah dibeton, atau diaspal atau dikeraskan jika digali akan berubah menjadi labil, dan apalagi jika tak dikembalikan seperti semula.

Bisa juga memang bahan yang digunakan untuk membuat jalan kurang berkualitas tak sesuai dengan beban kendaraan yang melintas.

Akibat jalan rusak banyak terjadi kecelakaan, macet, kendaraan rusak dan sebagainya. Rakyat pengguna jalan sudah bayar pajak, terutama pajak kendaraan. Tapi kendaraan besar yang mengangkut barang melebihi tonase jalan siapa yang menindak?

Nusantara, 22 April 2016

Image result for jalan rusak di jakarta