boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


1 Comment

Peserta Asuransi Prudential

Indonesia benar-benar sudah menjadi negara bebas, diantaranya asuransi asing. Salah satu asuransi asing yakni Prudential (Inggris).

Baru saja di koran nasional (JP, 8 Juni 2016) ada surat pembaca yang berisi tentang keluhan klaim asuransi, setelah sekitar 36 kali (bulan) bayar premi mereka menyatakan berhenti dengan beberapa sebab yang terkait dengan pencairan klaim. Setelah mereka memutuskan berhenti sebagai peserta asurasi Prudential mereka mengajukan pencairan uang premi yang menjadi hak mereka, tentu dengan potongan biaya administrasi. Ketika menjadi peserta sulit klaim untuk baya berobat dan setelah berhenti juga uang peserta tak dapat cair.

Kasus semacam itu bisa jadi bukan menimpa satu atau dua orang saja. Pengalaman dengan asuransi Prudensial mungkin bukan hanya mereka yang mengalami banyak anggota lain yang mungkin mengalami hal sama. Uang (premi) yang telah mereka bayarkan tak dapat dicairkan, dan apalagi yang baru mulai beberapa bulan, mungkin di bawah 5 bulan. Dari pihak agen  tentu ada dikatakan bahwa klaim bisa cair untuk bisa berobat di rumah sakit.

Walaupun baru 5 kali atau lebih peserta membayar tentu itu adalah hak anggota dan tak ada hak perusahaan asuransi Prudensial tidak mengembalikan uang masyarakat. Jika yang sedikit 5 atau lebih terakumulasi seluruh anggota se Indonesia berapa jumlah uang terkumpul?

Sulit mengatakan bahwa uang yang terakumulasi itu disebut sebagai uang halal. Walau mereka tentu saja berdalih memiliki aturan-aturan main!

Jadi apakah motonya masih berlaku?

nusantara, 8 Juni 2016

Advertisements


Leave a comment

garuda dalam ancaman naga?

Kebijakan pemerintah Indonesia saat ini yang membuka kran investasi untuk negara-negara lain di negara ini sebenarnya ada postitif dan juga negatif dan bahkan destruktif. Positif jika investasi itu dikendalikan dengan aturan main yang jelas, lugas dan tegas, namun jika aturannya tidak jelas maka akan menjadi rusak.

Dari berbagai berita beberapa tahun belakangan ketika investasi dari Cina mengalir deras ke negara ini, di antaranya Proyek Kereta Cepat, bersamaan dengan itu banyak tenaga ilegal dari negara investor berdatangan. Apakah ini insiden ataukah ada program sistematis? Jika hal itu dibiarkan dan tak diselesaikan akan menjadi bom waktu antara pribumi dan pendatang. Para tenaga kerja pribumi saja beberapa tahun terakhir banyak yang dipecat atau PHK (putus hubungan kerja). Serbuan tenaga kerja asing itu akan menimbulkan persoalan sosial.

Berkaca kepada bebrapa negara Asia Tenggara yang melakukan hal sama kita perlu hati-hati soal investasi dari Cina dan dampak ikutannya. Sebab Cina ini jika melakukan investasi banyak tenaga dari negaranya juga dibawa serta. Lalu kaum pribumi dimana investasi ditanam mau apa? Oleh karena itu ada beberapa negara ASEAN yang berhati-hati dan bahkan menghentikan bentuk investasi gaya Cina.

Apapun namanya untuk melakukan kerjasama dengan negara lain pemerintah perlu berhati-hati agar Indonesia tak merugi dan merugi lagi….

Dan jika pekerja ilegal Cina dibiarkan masuk tanpa kendali maka Era Jokowi telah menanam bom waktu yang akan siap meledak, ledakan sosial. Hal itu telah ada contohnya dalam sejarah Indonesia sendiri!

Tengoklah sejarah bangsa ini agar bijak menatap masa depan!!

anak bangsa

Nusantara, 16 Mei 2016


Leave a comment

Freeport, Akankah Didiamkan Merampok Emas Indonesia untuk Kemakmuran dan Kemegahan Amerika? Tak ada kata lain, Usir!!

Data FREEPORT *

Sejak 1967 pada awal era Suharto hingga kini Freeport masih menggangsir bumi Papua, menambang emas, perak, dan tembaga. Selama hampir setengah abad itu telah muncul pelbagai masalah, terutama menyangkut jatah penerimaan negara karena kurang optimal. Masalah lain ihwal minimnya peran negara, terutama Badan Usaha Milik Negara, untuk ikut mengelola tambang dikuasai Freeport McMoran di daerah Mimika, Papua, itu.

Rupa-rupa persoalan itu mengakibatkan desakan terhadap pemerintah melakukan renegosiasi kontrak karya agar lebih menguntungkan negara dan rakyat Papua. Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara, Freeport merasa dirinya digdaya karena di bawah bendera Amerika Serikat.

Dia menjelaskan setelah Freeport McMoran menikmati keuntungan besar, mereka seperti emoh membagi keuntungan lebih banyak dengan pemerintah. Kontrak karya itu pertama kali ditandatangani pada 1967 berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pertambangan.

Berikutnya pada 1991 kontrak karya kedua kembali diteken dan berlaku 30 tahun mendatang, dengan opsi perpanjangan dua kali, masing-masing 10 tahun. Pemerintah sempat meminta renegosiasi kontrak karya itu. Sebab beleid baru tentang pertambangan sudah lahir, yakni Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentan Minerba.

Namun Freeport tidak mau mengubah kontrak sesuai akta itu. “Mereka mengancam bakal memperkarakan ke pengadilan arbitrase internasional. Jadi persoalannya lebih pada arogansi kekuasaan. Di sisi lain, pemimpin kita pengecut,”. Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara, Freeport merasa dirinya digdaya karena di bawah bendera Amerika Serikat.

Berdasarkan data yang dirilis Oleh PT Freeport Indonesia dan dimuat oleh BBC news, bahwa akibat kerugian yang ditimbulkan oleh karyawan PT Freeport Indonesia pada aksi mogok perharinya mencapai US$19 juta atau sekitar Rp 114 miliar per hari dengan kurs USD$ 1 = Rp. 6000.
Maka manusia awam sekalipun dapat menebak, berapa besar penghasilan PT Freeport Indonesia perhari. Artinya “kerugian” yang disampaikan sebagai akibat pemogokan dapat dibaca sebagai sebuah “Keuntungan/pemasukan” bersih PT Freeport Indonesia yang diperoleh setiap hari adalah : US $19 juta atau sekitar Rp 114 miliar dengan kurs USD$ 1 = Rp. 6000..

Coba silahkan hitung jika penghasilan Freeport perhari US$19jt atau dalam Rupiah 114 milyar dengan kurs USD$ 1 = Rp. 6000.
Lalu berapa pemasukan perbulan..??

USD$ 19.000.000 x 30 = USD$ 570.000.000 atau dalam kurs rupiah jika kurs dollar sekarang tahun 2014 USD$ 1 = Rp 11.500, Maka USD$ 570.000.000 x Rp 11.500 = Rp. 6.555.000.000 atau Rp. 6,5 Trilyun.
Berapa pemasukan Freeport pertahun..??? maka hasilnya Rp. 6,5 trilyun x 12 bulan = Rp. 78 Trilyun.

Maka coba lihat kembali ke atas hutang terbanyak indonesia pada era presiden sama2 dari MILITER yaitu Suharto dan SBY, Hutang pada era Suharto rata-rata sebesar Rp. 46 trilyun/Thn dan pada era SBY utang indonesia kepada IMF (Bank Dunia Milik AMERIKA) rata-rata sebesar Rp. 80 Trilyun/Thn.

Ini Artinya Amerika ambil kekayaan alam indonesia lewat FREEPORT, lalu uangnya dihutangkan kembali kepada indonesia dengan di bebani bunga dan masa jatuh tempo.
Kok bisa2nya mau ganyang amerika wong utangnya saja segunung, siapapun presidennya nanti akan menjadi pertaruhan berat.
Perlu presiden yang dekat dengan rakyat karena perlu kerjasama antara presiden dengan rakyat untuk melunasi semua utang tersebut, salah satunya dengan cara menarik subsidi pemerintah yang terlanjur mendarah daging membuai masyarakat indonesia sejak dulu yg mengakibatkan hutang kepada IMF sudah menjadi budaya bangsa ini seolah-olah dana tersebut seperti hibah yang berbunga, maka bersiap-siaplah masyarakat Indonesia kencangkan pinggang kuat-kuat untuk perbanyak berpuasa.

Hebaat Selamat berbahagia buat Amerika atas kecerdikannya dan selamat BERDUKA CITA buat Indonesia atas kebodohannya.

(dari berbagai sumber)