boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Potret Kecil Pendidikan

Para ahli pendidikan banyak mengkaji teori-teori pendidikan, dari masa kuno hingga terkini. Namun penerapannya melalui kebijakan bergantung siapa penguasanya. Seperti sekolah yang diseragamkan. Jika seragam cuma bajunya mungkin masih dapat dimaklumi tapi jika pikiran juga diatur agar seragam maka akan menjadi malapetaka bagi masa depan bangsa.

Itulah yang selama berkuasa dijejalkan oleh rezim otoriter, sebelum reformasi. Satu contoh tentang sejarah. Pelajaran sejarah yang diajarkan adalah versi pemerintah, yang kini sudah dikoreksi. Itu baru satu hal dan masih banyak hal lainnya, terkait komponen pendidikan.

Jika saat ini ada usaha untuk mengubah hal itu, agaknya masih akan sulit, sebab orang-orang lama sudah banyak yang didoktrin oleh rezim lama. Selama seperempat abad berlangsung  agaknya sia-sia. Selama itu, para elit negeri ini hanya menjadi pengekor dan lebih para lagi, selain mengekor, kekayaan alam dibiarkan dikelola negara asing (industri).

Itulah ironisnya negeri ini.

Berbeda dengan beberapa negara lain di Asia, semisal Korea, Pakistan, dan beberapa yang lain. Jepang memang hebat tapi ia pernah menjadi penjajah yangt ganas! (Lihat tulisan mantan Ketua LIPI dalam Selamatkan Indonesia). Mereka mengawali pembangunan dengan memajukan pendidikan dan ketika hasilnya mulai terlihat, sekitar 10 atau 20 tahun kemudian, sumber daya manusia itu diberdayakan.

Namun, dari itu semua, tentang penyeragaman gaya dan pikiran, saat ini  untunglah ada orang-orang yang memiliki ide kreatif dan inovatif yang coba diterapkan dalam dunia pendidikan. Hanya saja itu masih terbatas, sebab statusnya swasta, dan belum diadopsi oleh pemerintah, seperti sekolah karakter atau sejenisnya.

Nusantara, 2 Mei 2016


Leave a comment

Jual Beli Ijazah, Untuk Mendapat Gelar

Ketika sebuah buku diterbitkan di Barat, katakanlah Eropa atau Amerika, pada sampulnya cukup ditulis nama pengarangnya, tapi identitas lengkap penulis ditulis di bagian lain, biasanya di belakang, sarjana di bidang apa. Contoh Edward W Said, Annemarie Schimmel, John L Esposito, Noam Comsky dst. Juga ilmuwan di kawasan Arab klasik, Al-Ghazali, Ibnu Rusydi (Averroes), Ibnu Khaldun, dan seterusnya. Buku dilihat dari isinya dan bukan hanya sampul yang menarik. Tapi di negeri ini banyak buku diterbitkan dengan embel-embel gelar dan begitu juga pada papan nama.

Bukankah gelar-gelar itu hanya untuk kebutuhan administrasi?

Dengan persepsi bahwa gelar adalah segalanya maka orang bergelar pasti terhormat, tapi untuk mendapatkannya dengan jalan menipu. Gelar itu didapat karena telah menempuh pendidikan. Inilah proses yang harus dilalui. Namun, orang pendek akal untuk meraihnya dengan membeli gelar. Padahal ada konsekwensi ketika seseorang meraih gelar akademik, yakni ia telah mumpuni dalam bidang ilmu  yang digelutinya.Banyak orang dulu memiliki ilmu ensiklopedis dan spesialis tanpa gelar. Tapi dilihat dari hasil karyanya dan apa yang diucapkannya orang akan tahu, siapa dia.

Jika diuji seorang bergelar itu akan menjawabnya. Tapi orang yang yang mendapatkannya secara instan, bisakah ia mempertangungjawabkannya? Rasanya sulit.

Gelar akademik adalah gelar yang mestinya diraih dengan kejujuran, sebab di dunia itulah kebenaran dan kejujuran dipupuk dan diuji. Sudah jelas mendapatkan gelar akademik tanpa menempuh pendidikan adalah suatu penipuan dan itu adalah melanggar hukum.

Memang, di negeri ini, sudah lama ilmuwan tak banyak dihargai, bukti-bukti bisa dibentangkan panjang lebar.

Nusantara, 25-5-2015