boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Tahun 2017 Disambut dengan Kenaikan Tarif Surat Kendaraan Bermotor, Tapi Pungutan Liar Jalan Terus….!

Hasil gambar untuk motor supra 125

Dalam PP 60/2016 tersebut, pemerintah Jk menaikkan tarif pengurusan surat-surat kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. (Mulai berlaku per 6 Januari 2017).

Adakah jaminan dengan tarif surat kendaraan naik tidak ada pungutan liar di SAMSAT atau lembaga yang ditangani polisi?

Ternyata tidak! Sebab faktanya baru saja (6-1-2017) saya urus mutasi dari Tangerang ke kota lain terakhir diminta uang dan tak ada bukti untuk apa uang itu. Bayar tarif mutasi lama Rp. 75.000,- + pajak + diminta uang “saku” petugas Rp. 50.000,- di Bagian Fiskal Kota Tangerang, Banten.

Ternyata eh ternyata! Di Samsat kota lain tempat tujuan mutasi tetap juga diminta sejumlah uang yang tak tercatat. Pertama di bagian berkas diminta rp. 30.000,-, lalu penerimaan mutas diminta rp. 60.000,-, di bagian surat baru bukan diarahkan bayar pajak dll malah diminta rp. 900.000 dan minta ditambah berapa saja (tertera di STNK rp. 5.49.000,- jumlahnya).

Seharusnya rakyat bayar pajak disambut dengan pelayanan (prima) dan bukan disambut dengan pungutan liar!

Berikut ini daftar tarif surat kendaraan baru.

Roda dua
Jenis Tarif lama Tarif baru Kenaikan
STNK baru Rp50 ribu Rp100 ribu 100 persen
STNK perpanjang (per 5 tahun) Rp50 ribu Rp100 ribu 100 persen
STNK pengesahan (per tahun) Rp25 ribu
Pelat nomor (per 5 tahun) Rp30 ribu Rp60 ribu 100 persen
STCK Rp25 ribu Rp25 ribu Nol persen
BPKB baru Rp80 ribu Rp225 ribu 181 persen
BPKB ganti pemilik Rp80 ribu Rp225 ribu 181 persen
Mutasi Rp75 ribu Rp150 ribu 100 persen
Roda empat
Jenis Tarif lama Tarif baru Kenaikan
STNK baru Rp50 ribu Rp200 ribu 300 persen
STNK perpanjang (per 5 tahun) Rp50 ribu Rp200 ribu 300 persen
STNK pengesahan (per tahun) Rp50 ribu
Pelat nomor (per 5 tahun) Rp50 ribu Rp100 ribu 100 persen
STCK Rp25 ribu Rp50 ribu 100 persen
BPKB baru Rp100 ribu Rp375 ribu 275 persen
BPKB ganti pemilik Rp100 ribu Rp375 ribu 275 persen
Mutasi Rp75 ribu Rp250 ribu 233 persen
Advertisements


Leave a comment

garuda dalam ancaman naga?

Kebijakan pemerintah Indonesia saat ini yang membuka kran investasi untuk negara-negara lain di negara ini sebenarnya ada postitif dan juga negatif dan bahkan destruktif. Positif jika investasi itu dikendalikan dengan aturan main yang jelas, lugas dan tegas, namun jika aturannya tidak jelas maka akan menjadi rusak.

Dari berbagai berita beberapa tahun belakangan ketika investasi dari Cina mengalir deras ke negara ini, di antaranya Proyek Kereta Cepat, bersamaan dengan itu banyak tenaga ilegal dari negara investor berdatangan. Apakah ini insiden ataukah ada program sistematis? Jika hal itu dibiarkan dan tak diselesaikan akan menjadi bom waktu antara pribumi dan pendatang. Para tenaga kerja pribumi saja beberapa tahun terakhir banyak yang dipecat atau PHK (putus hubungan kerja). Serbuan tenaga kerja asing itu akan menimbulkan persoalan sosial.

Berkaca kepada bebrapa negara Asia Tenggara yang melakukan hal sama kita perlu hati-hati soal investasi dari Cina dan dampak ikutannya. Sebab Cina ini jika melakukan investasi banyak tenaga dari negaranya juga dibawa serta. Lalu kaum pribumi dimana investasi ditanam mau apa? Oleh karena itu ada beberapa negara ASEAN yang berhati-hati dan bahkan menghentikan bentuk investasi gaya Cina.

Apapun namanya untuk melakukan kerjasama dengan negara lain pemerintah perlu berhati-hati agar Indonesia tak merugi dan merugi lagi….

Dan jika pekerja ilegal Cina dibiarkan masuk tanpa kendali maka Era Jokowi telah menanam bom waktu yang akan siap meledak, ledakan sosial. Hal itu telah ada contohnya dalam sejarah Indonesia sendiri!

Tengoklah sejarah bangsa ini agar bijak menatap masa depan!!

anak bangsa

Nusantara, 16 Mei 2016


Leave a comment

Kereta Api Cepat Made in Cina, Dibangun di Jawa

Dari berbagai media diberitakan pemerintah sekarang ingin mempercepat pembangunan infrastruktur negeri ini. Dari banyak rencana, salah satunya kereta cepat Jakarta-Bandung. Semula dari Jepang dan bahkan sudah mengadakan kajianm tapi akhirnya batal, Jepang marah kepada pemerintah Indonesia atas ulahnya membatalkan sepihak. Lalu masuk Cina. Cina diterima karena sesuai dengan kemauan pemerintah RI, yakni B to B, walau dari segi teknologi mungkin berbeda.

Persoalan percepatan pembangunan tentu semua orang Indonesia sepakat. Tapi mengapa kereta api cepat yang mahal yang dibangun di jalur Jakarta-Bandung. Persoalan kedua kota itu adalah kemacetan kendaraan, yang hingga kini belum terurai. Belum lagi soal alih teknologi. Alih teknologi adalah omong kosong! Mungkinkah sebuah negara mau memberikan rahasi negaranya ke negara lain? Soal pengetahun teknologi atau ilmu harus dicari sendiri melalui belajar atau ‘mencuri ilmu’. Itu dari dulu seperti itu.

Banyak yang mempertanyakan mengapa Cina? Dan apakah kereta cepat termasuk prioritas? Dan mengapa di pulau Jawa lagi. Jalur Jakarta-Bandung sudah memiliki akses tol Cipularang, jalur kereta api dan jalur Puncak Bogor. Sementara diluar pulau Jawa sangat membutuhkan akses jalan yang memadai. Misal di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan sebagainya. Anak sekolah harus menempuh jarak berkilo meter menuju sekolah, jembatan belum ada, jalan darat terbatas, dan banyak lagi infrastruktur belum tersedia.

Hasil gambar untuk kereta cepat jakarta-bandung china

Jika tak laku kereta cepat maka akan menjadi beban pemerintah dan menjadi beban rakyat juga sebagai pembayar pajak.

Biaya proyek kereta api cepat ini sekitar rp. 74 triliun. Dikatakan b to b, tak ada jaminan pemerintah RI, tapi belakangan Cina minta jaminan pemerintah RI, jadi mana yang benar? Kontoversi itu mengindikasikan bahwa proyek kereta api cepat dibuat asal-asalan dan tak memperhatikan banyak faktor!

Banyak hal lain terkait dengan proyek kereta cepat, seperti lingkungan, sosial, geologis dan sebagainya.

Apakah dengan adanya kereta api cepat Jakarta-Bandung rakyat Indonesia diuntungkan, khususnya Jawa Barat yang dilalui jalur rel kereta api? Mana nawacita, tol laut maritim dan janji-janji dulu?

Betapa manis janjimu tapi pahit bagi rakyat….

Nusantara 28-1-2016

dari berbagai sumber


Leave a comment

Jumlah Pelabuhan di Indonesia Sangat Sedikit

Pelabuhan Tanjung Priok

Indonesia adalah negara kepulauan. Ada sekitar 17.000 pulau tersebar, besar dan kecil. Namun, pelabuhan negara ini sangat sedikit dibanding luas wilayahnya. Ini sangat berbeda dengan negara Asia lainnya. Setidaknya pelabuhan dalam satu provinsi sekian kilometer ada pelabuhan sehingga tak menumpuk di satu wilayah tertentu, yang bisa jadi mengakibatkan ‘overload’ dan lama dalam proses bongkar muat barang.

Jika negeri ini ingin membenahi pelabuhan semestinya melalui kajian ilmiah dari para ahli di bidangnya dari perguruan tinggi, bukan sesaat atau bagian kecilnya saja. Dilihat secara menyeluruh antara kebutuan dan ketersedian pelabuhan, sarana dan sumber daya manusianya.

Dimana kekuranganya? Jika dituntaskan perbaikannya berapa lama?

Ingat nenek moyang bangsa ini adalah pelaut, seperti nyanyian, “Nenek moyangku seorang pelaut…”

Nusantara, 31-8-2015


Leave a comment

Indonesia Negara Kaya yang Salah Urus (Indonesia is the Rich Country with Error Managemant)

Apakah Indonesia negara miskin akan sumber daya alam? Jawabannya tidak. Indonesia sangat kaya. Dari segi sejarah saja dapat dilihat. Mengapa banyak para penjajah perampok Barat menjarah negeri ini, mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Jepang (timur) dan Amerika cs!

Untuk apa mereka datang ke wilayah Indonesia? Tak lain tak bukan, hanya untuk mengeruk dan merampok kekayaan alamnya! Untuk membangun kemegahan dan kesejahteraan negara mereka, maka di negara dimana kekayaan alam dikeruk rakyatnya sangat miskin!

Oleh karena penjajahan itu maka rakyat melawan seperti raja-raja, lalu Bung Karno dan kawan-kawan hingga merdeka 17 Agustus 1945-49. Merdeka akhirnya menjadi kenyataan setelah sekian lama berjuang. Namun, ketika Bung Karno tersingkir dari kekuasaannya, rakyat sesungguhnya masuk ke dalam penjajaha baru atau neokolonialisme, menurut istilah Bung Karno. Ini yang sulit dilawan, sebab mereka terdiri dari orang pribumi sendiri yang menghambakan diri (dijadikan budak) kepada asing!

Lihat saja kebijakan semasa Orde Baru hingga kini memiskinkan rakyat secara sistematis. Ekonomi hanya menyejahterakan kelompok kecil, asing dan aseng! Rakyat justru ditekan, diintimidasi dan dimarjinalkan oleh mesin politik budak asing!! Kekayaan alam Indonesia dikuasai asing, sekitar 80%. Sebut saja yang terbear, Freeport, Exxon, Newmont, Chevron, dll.

Jadi setelah sekian tahun merdeka (70 tahun ) apa yang diharapkan rakyat Indonesia? Kenyataan hidup yang dihadapi rakyat semakin menjauh dari cita-cita yang ditorehkan para Bapak bangsa, seperti dalam Pancasila, yakni keadilan dan kesejahteraan!

Jika para pemimpin dan elitnya bermain-main dengan masa depan bangsa ini maka siap-siaplah akan datang masa kehancuran…!

Hasil gambar untuk exxon

Nusantara, 1-7-2015

anak bangsa


Leave a comment

Korea : Raksasa Tidur Itu Bernama Indonesia

Posted by Ronin Samurai in Kisah


Seorang sahabat baik saya asal Korea Selatan Mr. Kim yang juga adalah Kepala
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi di Korsel (sejenis BPPT di
Indonesia) sekitar setahun lalu pernah ucapkan kepada saya bahwa Indonesia itu
seperti raksasa yang sedang tidur (The Sleeping Giant). Dia ucapkan analogi itu
karena melihat potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia berdasarkan luas
wilayah, jumlah penduduk dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.

Mr. Kim membandingkan Indonesia dengan Korea. Luas Republik Korea Selatan hanya
100.300 km2, dengan penduduk sekitar 50 juta jiwa, bandingkan dengan luas Pulau
Jawa 137.000 km2 dengan penduduk 130 juta jiwa. Korea Selatan terletak di
Semenanjung Korea dengan kondisi alam yang bergunung dan berbukit. Hanya
sekitar 20% dari luas daratannya yang bisa dihuni manusia atau diolah menjadi
lahan pertanian. Bertolakbelakang dengan Pulau Jawa yang luas lahan pertanian
dan hunian manusianya mencapai 80% dari total luas Pulau Jawa.

Pulau Jawa yang sangat subur dan pernah menjadi lumbung pangan Indonesia itu
kini disesaki oleh padatnya manusia, pabrik dan kawasan industri. Lahan
pertanian dan perkebunan menyusut drastis. Predikat pulau Jawa sebagai ”Lumbung
Pangan Indonesia” pun sudah menghilang.

Korea seperti halnya Taiwan dan Singapore adalah negara yang memiliki luas
wilayah daratan sangat kecil. Lahan pertanian Korsel dan Taiwan sangat
terbatas. Apalagi Singapore yang malah tidak punya lahan pertanian sama sekali
dan kebutuhan pangannya 100% impor. Negara – negara seperti ini sangat iri
kepada Indonesia yang luas daratannya hampir 2 juta km2. Imajinasi mengenai apa
yang akan dilakukan jika punya negara seluas Indonesia selalu terbayang
menari-nari di benak mereka.

Keterbatasan luas daratan menyebabkan Korea, Taiwan dan Singapore mencari cara
terbaik untuk memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan rakyatnya. Tumpuan mereka
adalah sektor teknologi, jasa keuangan dan pariwisata, perdagangan
internasional, industrialisasi dan sebagainya, yang smuanya itu tidak
memerlukan lahan / tanah yang luas. Taiwan dan Korsel terkenal sebagai produsen
elektronik terkemuka dan terbesar di dunia. Mereka mengungguli dunia barat
dalam industri elektronik dan perkapalan. Rahasia kemajuan dan kemakmuran
mereka terletak pada ribuan penemuan baru setiap tahun di bidang teknologi
tepat guna dan tersedianya industrialisasi untuk semua penemuan baru itu. Luar
biasa.

Meski Korea sudah lama menjadi negara maju dan makmur namun mereka tetap ingin
dan selalu bermimpi miliki lahan yang luas. Berbagai pembatasan dan hambatan
dari sejumlah negara tertentu dimana mereka berinvestasi telah menjadi ancaman
serius pada usaha pemerintah Korea untuk menjamin dan mempertahankan
kesejahteraan yang telah mereka capai selama ini.

China dan India adalah dua negara tujuan investasi Korea yang terbesar. Di
China saja saat ini terdapat lebih 22.000 perusahaan asal Korea. Namun, sejak
beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah China, juga India mulai “mempersulit”
ribuan perusahaan tersebut dengan menaikan Upah Minimum Karyawan dan selalu
berusaha mencuri rahasia teknologi yang digunakan oleh perusahan – perusahaan
Korea di sana. Soal reputasi curi mencuri atau bajak membaca teknologi adalah
merupakan hobi China yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia.

Berbeda dengan China, Taiwan apalagi Jepang, menurut Mr. Kim putra seorang
jenderal pada masa Perang Korea (1950-1955), yang juga adalah kakak angkat saya
itu, Indonesia merupakan surga bagi investasi Korea. Selama 10 tahun terakhir,
Indonesia perlahan – lahan mulai menjadi negara favorit tujuan investasi Korea.

Semua yang ada di Indonesia sangat menyenangkan investor Korea kecuali atas 3
hal, yakni : 1. korupsi dan kebobrokan birokrasi, 2. keterbatasan infrastruktur
(listrik, telpon, jalan, pelabuhan dan sejenisnya) serta 3. kemalasan dan
kelambanan yang nenjadi sifat umum mayoritas pekerja Indonesia.

Jika tiga hal tadi dapat diatasi oleh pemerintah Indonesia, Mr. Kim ini sangat
yakin Indonesia akan menjelma menjadi negara super power terutama di bidang
ekonomi. Mengenai hal yang lain, tidak ada yang kurang dari Indonesia. “Tuhan
begitu sayang pada negara ini” ujar Mr. Kim suatu saat ketika kami berbincang
di sebuah hotel di depan bundaran air mancur HI, Jakarta Pusat pada akhir tahun
lalu.

Saking kagum dan tertariknya Mr. Kim itu terhadap Indonesia, dia berkali – kali
selalu mengatakan ingin mati dan dikubur di bumi Indonesia. Dari ucapan dan
sinar matanya yang tulus, saya percaya pada niatnya tersebut.

Apakah nanti, dalam waktu dekat Indonesia bisa mengatasi 3 penyakit itu ?
Apakah nanti Indonesia bisa menjadi raksasa yang terbangun dari tidur
panjangnya ? Atau bahkan menjadi raksasa yang menggeliat dan menggetarkan dunia
? Wallahualam Bissawab …Sangat tergantung kesungguhan rakyat dan pemerintah
Indonesia sendiri. Semoga. Aamin


2 Comments

Sisi Lain Pusat Kota Jakarta: Macet, Banjir dan Kumuh

Siapa yang tak permah pergi ke Jakarta? Dulu disebut Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia. Pernakah kota ini direncanakan menjadi ibu kota (capital city) sehingga semuanya tertata dan dapat menjadi percontohan kota-kota lain di wilayah negeri ini?

Inilah potret ketimpangan ekonomi antara pusat dan daerah yang selama ini dibiarkan bertahun-tahun. Modal dan pembangunan berputar hanya di Jakarta dan sekitarnya, sehingga orang-orang dari daerah seluruh Indonesia berduyun-duyun (migrasi) pergi ke kota. Jika dibandingkan antara pusat dan daerah, di pusat  ada orang hidup mewah dengan segala fasilitasnya di samping banyak kaum miskin kota, namun di daerah lebih parah lagi, sepertinya dibiarkan bak zaman batu. Padahal di daerah ini tempat berlimpahnya kekayaan negeri ini, di Sumatra, Kalimantan dan Papua.

Ketimpangan itu menimbulkan berbagai gejolak di daerah dengan pemberontakan, mulai dari Aceh sampai Papua, yang peristiwanya terjadi di masa lalu dan kini masih menyisakan letupan-letupan.. Namun, negara menaggapinya dengan kekerasan senjata dan bukan dengan dialog. Luka sejarah itu masih menganga belum sembuh betul. Saat ini masalahnya semakin kompleks. Akibat tumpukan masalah yang tak pernah diurai dengan tulus.

Bukankah negara seharusnya melindungi warganya dan sekaligus menyejahterakannya dan bukan malah memper-tuankan bangsa asing, para kapitalis!

macet

banjir

kumuh

dari berbagai sumber

Nusantara, 1-6-2015