boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

Children Learn What They Live

By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

1972 by Dorothy Law Nolte


2 Comments

Habibie: 48 Ribu Tenaga Ahli Indonesia Dipanen Negara Lain

Sebanyak 48 ribu tenaga ahli berbagai bidang yang dipersiapkan pada zaman Soeharto oleh Menristek Prof Dr BJ Habibie waktu itu, tidak diketahui lagi keberadaannya. Sebagian besar mereka saat ini bekerja di beberapa negara Eropa dan Amerika.

“15 Tahun lalu, sebanyak 48 ribu insinyur berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal yang kita sekolahkan ke luar negeri itu, kemana? Tidak banyak yang diketahui sekarang ini,” kata Habibie saat menyampaikan orasi budaya di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY, Sabtu (5/2/2011).

Menurut dia, sebagian besar dari mereka yang pernah disekolahkan ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia saat ini banyak yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga ahli bidang pesawat terbang, perkapalan dan industri strategis lainnya.

“Kita yang menyekolahkan mereka lima belas tahun lalu, tapi negara lain yang panen. Mereka banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika bahkan di Brazil,” kata mantan presiden ketiga Indonesia itu.

Habibie hadir dalam acara pembukaan rangkaian acara Milad 30 tahun UMY itu menyampaikan orasinya mengenai strategi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam persaingan global.

Menurutnya, Indonesia sebagai benua maritim dengan segala kekayaannya itu mempunyai potensi sama dengan negara seperti Amerika atau pun Eropa.

Dia mengatakan untuk membangun peradaban Indonesia masa depan harus ada sinergi antara kebudayaan, agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu yang harus dipersiapkan sebagai landasan yang kuat adalah pendidikan agar sumber daya manusianya menjadi berkualitas.

“Saya berkeyakinan dengan SDM berkualitas yang menguasai Iptek bersama iman dan takwa itu akan menjadikan Indonesia unggul. Tidak ada alasan lagi untuk menjadikan Indonesia unggul,” katanya.

Suami Ainun Habibie itu kemudian mencontohkan saat Indonesia mampu menciptakan pesawat terbang N250 – Gatotkaca. Pesawat itu merupakan 100 persen buatan putra-putri Indonesia, namun ternyata masih banyak orang yang meragukannya.

“Ini bukti nyata Indonesia memiliki kualitas SDM yang unggul. Tapi kemana lagi setelah itu.  Dari 48 ribu tenaga ahli kita kemudian berkurang jadi 16 ribu. Sekarang yang ahli dirgantara kurang dari 3 ribu. Bila terus turun hingga nol ini memprihatinkan,” pungkas dia.

(Yogya, 3 Juni 2001/ fb/dt)

Pada akhir acara Habibie yang mengenakan kemeja batik warna coklat itu sempat bernyanyi bersama dengan anggota paduan suara mahasiswa UMY. Dia menyanyikan lagu kenangan “Sepasang Mata Bola”.


Leave a comment

Jual Beli Ijazah, Untuk Mendapat Gelar

Ketika sebuah buku diterbitkan di Barat, katakanlah Eropa atau Amerika, pada sampulnya cukup ditulis nama pengarangnya, tapi identitas lengkap penulis ditulis di bagian lain, biasanya di belakang, sarjana di bidang apa. Contoh Edward W Said, Annemarie Schimmel, John L Esposito, Noam Comsky dst. Juga ilmuwan di kawasan Arab klasik, Al-Ghazali, Ibnu Rusydi (Averroes), Ibnu Khaldun, dan seterusnya. Buku dilihat dari isinya dan bukan hanya sampul yang menarik. Tapi di negeri ini banyak buku diterbitkan dengan embel-embel gelar dan begitu juga pada papan nama.

Bukankah gelar-gelar itu hanya untuk kebutuhan administrasi?

Dengan persepsi bahwa gelar adalah segalanya maka orang bergelar pasti terhormat, tapi untuk mendapatkannya dengan jalan menipu. Gelar itu didapat karena telah menempuh pendidikan. Inilah proses yang harus dilalui. Namun, orang pendek akal untuk meraihnya dengan membeli gelar. Padahal ada konsekwensi ketika seseorang meraih gelar akademik, yakni ia telah mumpuni dalam bidang ilmu  yang digelutinya.Banyak orang dulu memiliki ilmu ensiklopedis dan spesialis tanpa gelar. Tapi dilihat dari hasil karyanya dan apa yang diucapkannya orang akan tahu, siapa dia.

Jika diuji seorang bergelar itu akan menjawabnya. Tapi orang yang yang mendapatkannya secara instan, bisakah ia mempertangungjawabkannya? Rasanya sulit.

Gelar akademik adalah gelar yang mestinya diraih dengan kejujuran, sebab di dunia itulah kebenaran dan kejujuran dipupuk dan diuji. Sudah jelas mendapatkan gelar akademik tanpa menempuh pendidikan adalah suatu penipuan dan itu adalah melanggar hukum.

Memang, di negeri ini, sudah lama ilmuwan tak banyak dihargai, bukti-bukti bisa dibentangkan panjang lebar.

Nusantara, 25-5-2015


Leave a comment

Bobbi Deporter tentang Ujian Nasional

Ujian Nasional menjadi bahasan yang amat seru akhir-akhir ini di Indonesia. Apa pandangan Anda mengenai ujian semacam ini?

Kita (di AS) juga punya ujian nasional selama beberapa tahun ini, namanya program No Child Left Behind. Sama seperti di sini, menimbulkan banyak kontroversi, karena guru pada akhirnya hanya menekankan pada subyek yang diujikan, pada materi ujiannya itu sendiri, tapi sering kali mengabaikan prosespembelajarannya. Dan, mereka hanya mengajar agar siswanya lulus tes.

Kemudian sekolah diranking berdasarkan hasil ujian nasionalnya. Padahal sekolah kondisinya sangat beragam, ada sekolah di mana bahasa Inggris sebenarnya bahasa kedua bagi siswanya, sekolah yang banyak siswa yang tidak dalam pengawasan orang tua dan sebagainya. Sekolah-sekolah ini diharapkan memiliki standar yang serupa dengan sekolah-sekolah nasional lainnya.

Saya percaya akuntabilitas tes tersebut, tapi mengapa kita tidak bekerja untuk tes yang lebih berarti daripada sekedar manipulasi. Di mana guru mengajar hanya untuk lolos tes. Di mana siswa didrill berminggu-minggu untuk menghadapi tes. Fokus dan tujuan akhirnya adalah untuk lulus tes.

Menurut saya seandainya mereka tidak terlalu fokus di situ, ujian tetap bis apunya akuntabilitas, tapi harusnya system pendidikan lebih fokus pada proses pembelajaran itu sendiri. Dan nantinya toh murid akan bias mengerjakan ujian, bahkan dengan pemahaman yang lebih baik.

( Republika bertanya kepada Bobbi D.)