boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site


Leave a comment

SBY, Mafia dan Asing

Nusantara- Bangsa dan rakyat Indonesia menghadapi pemilu yang kesekian dan hingga kini kesejahteraan masih jauh dari harapan, biaya hidup semakin tinggi dan kepastian hukum makin tak tergapai.
Tanggung jawab dan kepemimpinan presiden dalam sebuah negara bukanlah sebagai simbol kedaulatan bangsa, bukan pula membangun imperium keluarga dari bisnis minyak yang tiap malam menerima pundi-pundi dollar dari ‘Oil Godfather’ dari Muhammad Riza Chalid yang sejatinya telah berlangsung sejak era Presiden Soeharto hingga SBY.

Jumlah uang yang luar biasa besar yang dikeluarkan negara untuk beli minyak impor melalui Petral ini tentu saja tidak pernah luput dari mafia-mafia minyak yg disebut-sebut menguasai dan mengendalikan Petral adalah Muhammad Riza Chalid. Riza diduga kuasai Petral selama puluhan tahun. Disamping Riza, dahulu Tommy Suharto juga disebut salah satu mafia minyak. Perusahaan Tommy diduga mark up atau titip US$ 1-3/barel.

Kita sudah tahu Tomy Suharto, tetapi siapakah Muhammad Riza Chalid ? Dia adalah WNI keturunan Arab yang dahulu dikenal dekat dengan Cendana, Riza, pria berusia 53 tahun ini disebut sebagai  PENGUASA ABADI dalam bisnis impor minyak RI. Riza disebut-sebut sebagai sosok yang rendah hati, tetapi siapapun pejabat Pertamina termasuk Dirut Pertamina akan gemetar dan tunduk jika bertemu ia.

Di Singapore, Muh Riza Chalid dijuluki “Gasoline God Father”. Lebih separuh  impor minyak RI dikuasai oleh Riza, parahnya tidak ada yang berani melawan. Dahulu Global Energy Resources, perusahaan Riza pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak impor ke Pertamina, Tetapi kasus tersebut hilang tak berbekas dan para penyidiknya diam tak bersuara. Kasus ditutup, padahal itu diduga hanya sebagian kecil saja. Global Energy Resources adalah  induk dari 5 perusahan : supreme energy, Orion Oil, Paramount Petro, straits oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Spore & terdaftar di Virgin Island yang bebas pajak ke lima perusahaan mitra utama Pertamina.

Kelompok Riza cs ini juga yg diduga selalu halangi pembangunan kilang pengolahan BBM dan perbaikan kilang minyak di Indonesia, Bahkan penyelesaian PT. TPPI yg menghebohkan itu karena rugikan negara juga diduga tak terlepas dari intervensi kelompok Riza cs.

Bangsa dan rakyat ini sudah cukup lelah dengan intrik ‘muka manis’ dan episode sinetron ‘terdzalimi’ bukanlah solusi. Namun dibalik muka manis itu ada sejumlah fakta yang terkuak dari media internasional tentang dugaan kuat Susilo Bambang Yudhoyon adalah agen asing sebagaimana dituturkan Aljazeera berikut ini:
“Despite a smear campaign that includes allegations he is a CIA agent, polls show that Yudhoyono’s personal approval ratings. Asked who was their second choice to become president should their candidate not win, electors unanimously backed Yudhoyono. 

A career soldier, Yudhoyono and graduate of US military training programmes at Fort Benning, Columbus (1976 & 1982) and the Command and General Staff College at Fort Leavenworth, Texas (1991), Yudhoyono has fond memories of the US.
Informasi di atas dipaparkan Aljazeera, secara tegas menempatkan sosok Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden binaan Amerika.  Tentu saja ini bermula dari  jejak SBY dalam lajur militer. Ia, seorang prajurit karir, dan lulusan program pelatihan militer AS di Fort Benning, Columbus.
Jejak rekam SBY ini dibongkar akun twitter @TrioMacan2000.  Dalam kicauannnya, Sabtu, (20/7) di jejaring sosial itu, ia membongkar siapa sosok SBY dan menunjukkan beberapa bukti faktual tentang keterlibatannya dalam missi rahasia Amerika Serikat.
Seperti dilansir Aljazeera, SBY adalah agen Amerika yang sangat loyal bahkan dengan bangga SBY berharap bisa menjadi bagian dari Amerika. Inilah bukti keterlibatan SBY dalam aksi AS apapun di Indonesia, termasuk pembiaran pangkalan militer dan penempatan pasukan AS di Darwin.
Kondisi ini, diperoleh SBY dengan dukungan penuh Presiden George Bush pada SBY. Fakta ini makin terkuak ketika koran terbitan Singapura, Business Times edisi 10 April 2004. Koran itu mengutip sumber di pemerintahan Bush yang menyatakan bahwa AS mendukung SBY untuk membentuk koalisi yang tidak terkalahkan.
Di mata Bush, SBY adalah sosok yang kredibel mendukung kebijakan Bush soal perang melawan terorisme Islam. Koran The Asian Wall Street  Journal (AWSJ) juga menulis tajuk yang isinya senada. AWSJ menilai SBY sebagai tokoh loyalis No. 1 AS.
Kembali kepada Aljaeer, dalam situs Al http://Jazeera.Net , 4 Juli 2004, terdapat profil SBY dengan tulisan Paul Dillon bahwa SBY adalah seorang yang sangat pro AS.
Gambaran itu semakin terang benderang, ketika Paul Rowland, pimpinan National Democratic Institute for International Affairs (NDI) yangg selalu membuat jajak pendapat memenangkan SBY. Rowland mengatakan bahwa SBY “firm leader, but not an iron fist” (pemimpin yang tegas dan tidak bertangan besi).
“Pujian ini tentu berlebihan jika melihat sikap SBY yang peragu, cari aman dan tak mampu mengambil keputusan. Sikap Washington sangat hangat terhadap SBY terjadi sejak lama dan hal itu terbukti ketika ia melakukan kunjungan kerja ke AS ,” begitu kicauan @TrioMacan2000.
Fakta lain
Pada September 2003, kendati badai Isabel di ibukota AS, kunjungan kerja SBY tetap jalan. Pertemuan para petinggi AS dgn SBY tetap dilakukan. Pada kunjungan SBY ke AS tersebut, SBY mendapat perlakuan istimewa terutama oleh Asosiasi Persahabatan AS-RI  (USINDO Society).
Pada Jumat, 19 September 2003, SBY disambut meriah. Para petinggi AS seperti  Menlu Powell, Wkl Menhan Wolfowitz dan Direktur FBI Robert S. Mueller. Wolfowitz,  arsitek penjajahan AS di Irak, mengajak seluruh hadirin melakukan toast utk SBY. Capres RI dukungan dan loyalis AS sejati.
Ratusan undangan tamu VIP dan VVIP AS berdiri bersulang dengan mengangkat gelas berisi minuman beralkohol anggur dan sampanye. SBY tampak terharu  menerima penghormatan ini dengan anggukan kepala tanda terima kasih. Hatinya berbunga2 penuh bahagia … . “Saya berada di sini hari ini utk menegaskan lg solidaritas Indonesia – USA dalam koalisi global melawan terorisme Islam dunia,” tutur SBY
Seperti kita tahu, komitmen pemerintahan Bush yang pro Israel, dilanjutkan Obama terhadap SBY itu ternyata tak sebatas retorika belaka. Menurut Senator Paul Findley, kedua organisasi ini merupakan dua organisasi lobi Yahudi yang paling berpengaruh di Gedung Putih. Sumbangan dana seperti ini memang diumumkan di AS sehingga  sebagian mahasiswa Indonesia di sana dengan mudah mendapatkan informasi.
Di Jakarta, kini telah berdiri pula Indonesian-Israeli Public Affairs Committee (IIPAC) yang dipimpin agen Mossad, Benjamin Ketang. Benjamin Ketang adalah mantan aktivis PMII yang mendapatkan beasiwa ke Israel atas jasa Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Dan Benjamin Ketang jadi WN Israel. Padahal sebelumnya dia adalah WNI.
Kantor IIPAC pimpinan agen Mossad, Benjamin Ketang yang sebelumnya di ITC cempaka putih kini pindah ke Jl Sudirman. Mossad juga yang diduga memberikan jaminan kepada SBY untuk membantu menangkan kembali PD di pemilu dan Pilpres 2014.
“Kalau besok akun twitter ini lenyap atau disuspend selama2nya, kami harap Anda dapat mengerti siapa pelakunya,” celoteh @TrioMacan2000.
Apa kompensasi yang diminta Mossad terhadap jaminan bantuan kemenangan PD di pilpres dan pemilu 2014 itu ? Papua Merdeka ? PKS ? Islam ?
“Akankah kita ucapkan selamat datang Papua Merdeka? Aceh Merdeka? Melayu Raya? Semoga tidak. Semoga Allah melindungi NKRI. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin,” ungkap akun yang penuh kontroversi mengakhiri celotehannya.
Pada titik yang lain, Profesor Ilmu Politik Universitas Northwestern, Jeffrey Winters mengatakan bahwa SBY Tak Bikin AS Pusing. Adalah fakta bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyukai SBY karena selama berkuasa SBY tak pernah membuat pusing mereka dan memainkan agenda barat dengan sangat baik.
.
“Saya rasa AS dan negara Barat senang pada SBY justru karena dia mediocre. Dia tidak membuat Amerika pusing dan dia itu good boy,” ujarnya kepada wartawan. Sementara itu menurut beberapa sumber SBY dengan kebijakan pencitraannya berusaha menampilkan kewarganegaraan dan rasa nasionalismenya terhadap rakyat Indonesia. Padahal sangat bertolak belakang dengan pernyataannya ketika Hal itu dikaitkan dengan SBY saat bertandang ke Negeri Paman Sam pada 2004 lalu.

(dari berbagai sumber)

Advertisements


Leave a comment

Kasus Penyiksaan CIA, Amerika Terapkan Standar Ganda, AS selalu mengajari negara lain bagaimana harus menghormati HAM. Kamis, 11 Desember 2014, 19:24 Adrianus Mandey Dubes Rusia untuk RI Mikhail Galuzin (Santi Dewi).

VIVAnews – Laporan yang dikeluarkan Komite Intelijen Senat Amerika Serikat (AS), tentang metode brutal yang digunakan CIA dalam menginterogasi tersangka Al-Qaeda, memperlihatkan standar ganda yang digunakan AS dalam memandang persoalan HAM.

“Mereka (AS) berusaha mengajarkan Rusia, Indonesia, dan negara-negara lain tentang bagaimana harus berprilaku, untuk menghormati HAM. Tapi jika menyangkut kepentingan mereka, semua sepenuhnya diabaikan,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y Gazulin.

Pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 11 Desember 2014, Gazulin menegaskan bahwa AS termasuk dalam negara yang menandatangani Konvensi HAM PBB, yang menentang segala bentuk penyiksaan. Sehingga apa yang terjadi, memperlihatkan standar ganda AS.

Apalagi pemerintah AS telah menegaskan, bahwa tidak akan ada penyelidikan atau tuntutan hukum bagi mereka yang terlibat. Presiden AS Barack Obama, justru menyerukan agar publik melupakan kasus penyiksaan CIA.

Sikap Obama juga didukung oleh negara-negara Barat lainnya, memperlihatkan bagaimana pelanggaran HAM hanya merupakan jargon. Tuduhan pelanggaran HAM kerap jadi senjata yang digunakan AS dan para sekutunya, untuk menyerang banyak negara.

Diantaranya Libya, di mana AS dan Barat membiayai kelompok-kelompok militan pemberontak, untuk menghancurkan pemerintahan Moammar Kadhafi, yang dituding sebagai diktator dan pelanggar HAM.

Udo Ulfkotte, mantan editor surat kabar terbesar Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ), mengaku pernah terlibat dalam operasi intelijen untuk menjatuhkan Kadhafi, dengan membentuk opini buruk melalui pemberitaan di media.

“Suatu hari BND (intelijen Jerman) datang ke kantor Saya Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) di Frankfurt,” ucapnya. BND dan CIA memberinya artikel yang menyudutkan Libia dan Muammar Kadhafi, yang kemudian diterbitkan atas namanya.

Isi artikel, kata Udo, adalah tentang Kadhafi berusaha membuat sebuah pabrik gas beracun rahasia. Sebagai media besar, artikel propaganda hasil rekayasa yang diterbitkan FAZ dengan muda tersebar ke seluruh dunia dua hari kemudian.

Sebelumnya, Direktur eksekutif HRW Kenneth Roth menyerukan adanya akuntabilitas. Dia menegaskan bahwa proses pengungkapan kebenaran, harus berlanjut dengan penuntutan terhadap para pejabat yang bertanggungjawab.

Jika tidak, maka penyiksaan akan tetap menjadi pilihan kebijakan untuk presiden AS selanjutnya. “Itu (laporan) membuka isu akuntabilitas,” kata Alberto Mora, yang merupakan penasihat Angkatan Laut AS dalam pemerintahan Presiden George W Bush.

Mora mengatakan, secara politik sulit berpikir bahwa Bush dan para pejabat AS lainnya akan dapat dituntut. Satu-satunya yang pernah dituntut atas brutalitas CIA, adalah warga sipil David Passaro, kontraktor CIA yang divonis pada 2006, terkait kematian seorang tersangka asal Afghanistan.

Direktur eksekutif Serikat Kebebasan Sipil Amerika, Anthony Romero, mengatakan laporan Senat merupakan cetak biru untuk kemungkinan penuntutan. Menurutnya, jika Obama memberikan pengampunan secara resmi, itu mengisyaratkan bahwa penyiksaan dapat terjadi lagi.

“Apakah akan menuntut mereka yang bertanggungjawab, atau memberikan pengampunan. Anda tidak dapat berpura-pura bahwa mereka yang melanggar hukum, bukanlah para penjahat,” ujar Romero.