boykolot

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

membangun kekuatan, jendral tua vs jendral muda (build a power, old general and young general)

Leave a comment

Pemerintahan saat ini sudah 1 tahun. Hiruk pikuk pemilihan umum sudah berlalu dan akan disambut dengan pemilihan kepala daerah (pil-kada) di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Dalam pemuilihan kepala daerah ini tak jelas siapa kawan atau siapa lawan, gado-gado.

Dalam pemilihan presiden lalu jelas, siapa kawan dan lawan. Di parlemen, masyarakat  bahkan sampai di media sosial pun para pemilih ‘perang’ kata-kata, meme atau lainnya dan bahkan saling mengejek. namun ejekan yang paling kasar tentu hanya keluar dari orang-orang tak berpendidikan dan tak beretika!!

Siapa mereka? Mudah dikenal karakter mereka dari cara mengekspresikan isi hati entah isi kepalanya. Cinta buta tanpa rasionalitas, sehingga apapun dibela, jika perlu sampai kuburan.

Yang aneh dari itu semua adalah para jendral tua, mengapa mereka berbaris di belakang presiden? Jika mau, majulah mereka mencalonkan diri menjadi presiden dan bukan bersembunyi dibalik orang yang tak berniat menjadi pemimpin nasional! Mereka ingin ‘cuci tangan’ atas persoalan dosa-dosa masa lalu, lalu mereka melemparkannya kepada pihak lawan. Setelah berhasil dan menikmati ‘hidangan kekuasaan’! Mereka duduk dengan nyaman sambil memantau situasi.

Lalu dimana yang muda? Mungkin masih menunggu giliran.

Dalam 1 tahun ini banyak diproduksi kontroversi! Janji-janji belum lagi terrealisasi, hanya ada satu dua produk lama diganti kemasan. Alih-alih investasi, mengundang mereka (para pemodal) malah mau berjualan disini dan negara ini hanya dijadikan pasar!! Memang orang Indonesia bodoh bin bloon tak mengerti teknologi dan informasi? Pesawat bisa buat, lalu senjata, chip, dan banyak lagi. Hanya saja mau atau tidak pemerintah menggunakan tenaga mereka? (Baca brain drain ilmuwan Indonesia)

Dalam situasi seperti itu muncullah apa yang disebut ‘Surat Edaran’ polisi. Orang mempertanyakan itu bagaimana ujaran masyarakat diatur. Padahal yang berbicara  itu tidak satu atau dua orang, tapi dari kanak-kanak baru bicara sampai orang-orang tua. Ini mustahil, absurd!

Jika memang mau memperbaiki bagaimana masyarakat bertutur dengan baik termasuk di media sosial, melalui pendidikan. Ini persoalan pendidikan dan bukan masalah keamanan, kata pengamat politik Prof. Arbi Sanit. Bangsa ini, belum memiliki budaya baca yang kuat, sudah meloncat ke era teknologi informasi, maka yang terjadi adalah lompatan yang tak bersambung, kata Ki Dalang Tejo.

Nusantara, 11 November 2015

warga

Advertisements

Author: boykolot

Learn to the best! Read, write and publist... media sharing about policy n politic ... (ngobrol politik)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s